 | Radikal | Jul 6, '08 11:54 PM for everyone |

Jaman gendeng adalah situasi dimana kewarasan dijungkir balikkan secara radikal . Bagaimana mungkin orang terus di-doktrin harus berpikir konstruktif dan prosedural supaya nggak ikut-ikutan arus jaman gendeng itu , padahal konstruksi dan prosedurnya juga sudah jungkir balik alias juga sudah gendeng Sepertinya kita juga harus berpikir radikal untuk melawan ke-gendengan diatas , radikal bukan berarti ngawur liar seenaknya , namun radikal pake’ konsep yang bisa meminimalisasi potensi anarkis . Sok teu ya…? biariiin..! Misalnya kalau mau membangun daya tahan ekonomi kita sendiri , ya harusnya berpikir radikal untuk mau berperilaku mendukung bangkitnya berbagai produk lokal sendiri . Kurang lebih gitu kali yakkk..? Kita mulai saja dari hal yang paling mendasar , makanan misalnya (yang sekarang ini hampir dikuasai sepenuhnya oleh camik’an import) Hindari makan makanan import seperti (steak/spaghety/burger/kentucky fried chicken/Mcdonald dan lain2) , ganti dengan singkong / tahu tempe goreng / bakwan /somay / pecel lele . Sudah jelas kan…kalau kita mengkonsumsi makanan lokal itu kan berarti kita memberikan kesempatan kepada industri makanan lokal untuk bisa tumbuh dan bisa diharapkan berkembang agar menjadi lebih enak lagi. Ini yang saya maksudkan dengan berpikir radikal diatas tadi. Itu baru jenis makanan saja , belum menyentuh kebutuhan dasar lainnya …. seperti pakaian / rumah / pendidikan sekolah / kendaraan motor dan banyak lainnya lagi . Bisa nggak ya orang Indonesia berkesadaran untuk berpikir radikal kearah tersebut . Kalau nggak bisa….bukankah cuman “omdo”.. huh! Orang Indonesia , sadar kalau sedang dilanda crisis namun nggak punya "sense of crisis".
 | Ya habis di iming2 i setiap detik/jam/hari/bulan/tahun di televisi...Disebut modernisasi / globalisasi dan sasi-sasi lainnya...gimana dong..? Begitu keluar rumah...ngajak keluarga untuk makan diluar ...ketemunya ya dia lagi...dia lagi yang ditelevisi tadi. Di sekolah kantinnya juga begitu juga....
Makanya itu saya bertanya...apa bisa kondisi seperti itu diperbaiki tanpa kesadaran pola berpikir yang radikal?
|
 | setuju banget tuh, om!!! kemaren waktu ada seminar 'selamatkan indonesia' di mana keynote speakerna mas amien rais, ada salah satu panelis yang mencoba ga' minum 'aqua'... dia bilang berusaha menahan diri alias puasa dari segala merk2 luar. gilaa... terharu banget sayah... terus dia bilang klo saja tindakan dia diikuti mahasiswa sekampus uin, terus kampus tetangga [umj, iiq, ptiq] terus menjalar ke kampus2 lain... terus mewabah ampe seluruh pelosok indonesia, bukan tidak mungkin gerakan menolak produk luar bakal menjadi gerakan nasional, soo... produk lokal bakal menjadi raja di negeri ini... woww, suatu gerakan simpel yang pada kenyataannya lumayan 'sulit' akibat iming2 iklan yang terus membanjir di semua media seperti yang om bilang... kapan yaaa...??? |
 | yg jelas makanan import membuat berat badan manusian jadi overweight en kantongnya jadi kempes karena harganya yg kemahalan ... |
 | setuju banget tuh, om!!! kemaren waktu ada seminar 'selamatkan indonesia' di mana keynote speakerna mas amien rais, ada salah satu panelis yang mencoba ga' minum 'aqua'... dia bilang berusaha menahan diri alias puasa dari segala merk2 luar. gilaa... terharu banget sayah... terus dia bilang klo saja tindakan dia diikuti mahasiswa sekampus uin, terus kampus tetangga [umj, iiq, ptiq] terus menjalar ke kampus2 lain... terus mewabah ampe seluruh pelosok indonesia, bukan tidak mungkin gerakan menolak produk luar bakal menjadi gerakan nasional, soo... produk lokal bakal menjadi raja di negeri ini... woww, suatu gerakan simpel yang pada kenyataannya lumayan 'sulit' akibat iming2 iklan yang terus membanjir di semua media seperti yang om bilang... kapan yaaa...???  Pertama-tama, sampeyan koq diskriminatif ya..? manggil saya om sementara ke Amien Rais "mas", padahal beliau jelas lebih sepuh dari umur saya (mungkin lumayan jauh) maksudnya bisa lima tahunan atau lebih..., hehehe..! Mustinya menyebut Amien Rais ya pakde' pantesnya..hahaha.
[serius mode on]
itu juga yang saya maksudkan , menghindari produk tersebut jangan dengan "slogan" kebencian yang "sempit" seperti jaman bung Karno dulu , misalnya karena humbergernya dari Amerika lantas otomatis anti Amerika dsb. Tetapi lewat kesadaran berpikir "lebih cerdas". |
 | jsops wrote on Jul 7, edited on Jul 7 Susah tuh kaya'nya terutama kalangan perkotaan.Tapi kalau ingin tetap bertahan dari gempuran, mestinya ada perlawanan dalam bentuk tidak mengkonsumsi makanan instan spt itu, tentunya mulai dibiasakan dari lingkungan keluarga.Setidaknya jika pergi ke mall carilah pusat jajanan yg tidak sekedar menawarkan ayam goreng tjap kolonel ubanan itu misalnya :))  apakah ada "mall" yang dibangun dengan tanpa melibatkan makanan2 instan produk asing tersebut? Setahu saya yang ada namanya "pasar raya". Beda kelas deh sepertinya...padahal anak2 justru senangnya ke Mall..karena menampilkan "mimpi-mimpi" indah bagi mereka . (kadang malahan bagi "kita" juga sendiri) |
 | jsops wrote on Jul 7, edited on Jul 7 yg jelas makanan import membuat berat badan manusian jadi overweight en kantongnya jadi kempes karena harganya yg kemahalan ...  kalau ada kesadaran sampai "over weight" itu bagus mbak..umumnya orang Indonesia (kebanyakan) masih masa bodoh dengan hal ini .... lha kebutuhan untuk makan normal (3 x sehari) aja masih sering susah koq....boro-boro mikirin "selektif" gizi.
Kalau dipahami sekedar "harganya mahal" , ini yang repot menurut saya...., sebab ketika kita punya uang maka "naluri balas dendam" pasti akan muncul pertama-tama..:) Alhasil akhirnya uang kita habis hanya untuk "balas dendam" yang sama sekali gak kreatif. :) |
 | akal sehat malah dipertanyakan...
lha skrg itu kalo maem fastfood bin junkfood itu gengsinya naek, merasa bisa nyenengin anak-pacar-dsb.. kalo pake pakaian bermerek londo..wahh lenggak-lenggoknya belon lagi kendaraan...gak ada yg merek lokal..betapa kita sudah dijajah oleh bangsa lain di semua sektor..
|
 | Persis..mas, anak2 saya sendiri melihat "potret" perilaku masa lalu saya juga seperti itu..., akrab dengan produk import. Karena itu juga nggak gampang / mudah untuk saya ngajak mereka "bicara" soal "sense of crisis" tersebut .
Tapi ya harus..., saya terpaksa meminta mereka untuk memahami atau bahkan "memaafkan" contoh dari perilaku orang tuanya sendiri yang kurang baik. Tetapi orang tua bukan untuk dipersalahkan begitu saja , karena mereka juga bagian dari "sistem" bermasyarakat yang tercipta pada saat itu.
Dan biar bagaimanapun juga ...orang tua tetap memiliki jam terbang yang nggak sama dengan mereka kan? , disitu poin nya sekaligus hikmahnya. |
 | Kemasan2 produk globalisasi memang menjadi senjata utama....
Kemasan-kemasannya dibuat menarik dan senyaman mungkin... |
 | Tetapi bisa diingat bahwa produk-produk globalisasi tersebut menyedot tenaga kerja...
Tanpa adanya produk luar, pengangguran akan makin dahsyat..
Jadi jika ingin bertindak radikal, mungkin tindakan paling bijak adalah nasionalisasi perusahaan asing... sehingga tidak harus mengorbankan orang-orang Indonesia yang menggantungkan nasibnya disana... |
 | jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10 Tetapi bisa diingat bahwa produk-produk globalisasi tersebut menyedot tenaga kerja...
Tanpa adanya produk luar, pengangguran akan makin dahsyat..
Jadi jika ingin bertindak radikal, mungkin tindakan paling bijak adalah nasionalisasi perusahaan asing... sehingga tidak harus mengorbankan orang-orang Indonesia yang menggantungkan nasibnya disana...  1. Bagaimana kalau jalan pikirannya kita balik :) bahwa pengangguran yang dahsyat adalah akibat yang ditimbulkan oleh "mandeg"nya prioritas pembangunan mesin2 produksi lokal.
2. Nasionalisasi perusahaan asing memerlukan proses hukum (tarik menarik berbagai kepentingan secara politis) Memang harus diupayakan , namun membutuhkan waktu yang relatif lumayan panjang. (memang hrs diusahakan untuk dipersingkat) . Saya lebih condong memilih untuk segera "memberdayakan" kembali sekuat tenaga , kesadaran untuk memperkuat "lokalitas" dulu. (social capital / investment) . Harus ...radikal bukan? |
 | jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10 aduh saya dari dulu anti Amerika, radikal yang salah yah? semenjak kuliah dulu. tp saya gak bisa memungkiri kebencian saya kpd Amerika. saya salurkan kebencian saya dengan tidak membeli produk Amerika (bukan orangnya)
terkadang juga saya berfikir ini salah, tp ini blm bisa saya rubah,  maksud saya bukan "directly" begitu mas, secara politik kita boleh benci sama Amerika (karena kesewenang-wenangannya) . Namun saat kita membenci perilaku politiknya tersebut , sering orang Indonesia lantas secara otomatis membenci Amerika secara keseluruhan (baik pergaulan sosial maupun budaya). Perilaku berpikir "sempit" tersebut memang diajarkan pada kita semua oleh orang-orang jaman dulu (orla dsb).
Kita , hari ini sudah harus "cerdas" dalam bergaul dengan masyarakat global kan? |
 | jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 11 Jangan menggunakan kalimat "picik" ah.., sampeyan bukan picik , namun sudut pandang orientasi kita selama ini dibuat "nggak fokus" , sehingga kita semua cenderung disorientasi untuk melihat masalah yang sebenarnya dengan jernih . Bangsa Indonesia dalam sejarah panjang peradaban manusia itu sudah terbukti pernah jadi bangsa yang unggul / bukan bangsa yang bodoh/picik. Jauh sebelum masyarakat Eropa menemukan peradaban Industrialisasi , mereka semua belajar , tunduk dan takluk sama peradaban dari masyarakat kita (nusantara - asia) .
Masalahnya setelah mereka mengenal ilmu secara "matematis/eksakta" misalnya , masyarakat nusantara teteup aja ....urusannya dengan "perasaan" (kebatinan) . Peradaban kita bisa dikalahkan oleh peradaban mereka bukan karena lewat faktor sosial / ekonomi atau budaya ....tapi karena mereka punya senjata yang bisa bunyi..."dooor..!" dan keluar pelurunya , lalu kita matek..hehehe.. Sementara kita masih mengandalkan tombak / parang / atau jurus pencak silat .
(ps: ditambah lagi "barisan bakar menyan" alias dukun santet) |
 | jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 11 saya salurkan kebencian saya dengan tidak membeli produk Amerika  Untuk memotivasi semangat membangun diri sendiri , hal tersebut "sah" mas. Kurangin atau sama sekali stop beli produk asing bila produk lokal sudah ada (walaupun kualitasnya masih buruk)
Sebab , ibarat kita beli keramik / lantai (bikinan luar negeri) yang harganya 50 ribu per meter persegi misalnya , sebenarnya dengan nilai tersebut , kalau kita belikan yang dalam negeri (25.000) kan dapat dua dos. Walaupun kualitasnya belum bagus , namun kalau semakin banyak orang menggunakannya (bukankah itu memberikan kesempatan yang jauh lebih luas untuk industri ubin-nya agar bisa meningkatkan mutunya kan?)
Artinya , kita sudah membantu bisnis orang-orang "kita" sendiri untuk bisa survive dan berkembang . Kalau semua sektor "lokal" bisa diperlakukan seperti itu ...maka dalam 5 sampai 10 tahun...kita boleh yakin , bahwa Bangsa kita akan mampu menepukkan dadanya dan "boleh sombong" istilahnya hehehe.
Jadi yang harus dilawan adalah "mental" sok luar negeri...! Apa saja...mau meubel / mau makanan / mau garment / karena saya musisi maka "SOK MUSIK LUAR NEGERI" itu yang prioritas saya benci..., nah ..bisa nggak masyarakat kita berpikir kesana bareng2....Jangan ngarepin pemerintah dulu.(atau bahkan tergantung) , tetapi kalau masyarakat kompak dan "menuntut" bersama , bisa apa pemerintah..? ...bahkan presidennya saja pasti juga nggak berani "neko-neko".
|
 | aku udude jarum (dalam negeri) ra udud marlboro (luar negeri) hihiihihih
[ngeses] |
 |  Sebab , ibarat kita beli keramik / lantai (bikinan luar negeri) yang harganya 50 ribu per meter persegi misalnya , sebenarnya dengan nilai tersebut , kalau kita belikan yang dalam negeri (25.000) kan dapat dua dos. Walaupun kualitasnya belum bagus , namun kalau semakin banyak orang menggunakannya (bukankah itu memberikan kesempatan yang jauh lebih luas untuk industri ubin-nya agar bisa meningkatkan mutunya kan?)  Mirip cerita bangsa Jerman ketika mulai "mencintai" produk Jerman. Awalnya istilah "Made in German" itu adalah sindiran kepada barang-barang buatan Jerman yagn merupakan "copyan" dari buatan Inggris. Awalnya ndak gitu bagus, lebih mahal (karena skala produksi), tapi orang Jerman "nekat" pakai barang itu (plus peraturan pemerintah yg memberikan insentif pada penggunaan barang lokal).
Sekarang tahu sendiri label "Made in German" seperti menunjukan hasil engineering itu. Oleh karena itu orang Jerman sangat "takut" dengan China, karena China seperti mengulangi model Jerman. Dari awal dihina dina "buatan China murah", tapi sekarang malah membaik (he he he gimana ndak membaik, tuh pabrik China beli mesin yang sama dg mesin pabrik Jerman, abis itu mesin-nya ditiru) |
| |