Blog EntryCerdas CermatJul 9, '08 1:13 AM
for everyone







[:BAGI MEREKA YANG TAK MEMPERDULIKAN KEHIDUPAN DI SEKELILING]

Sebut saja dia dengan istilah si “CECE” , dia memang judul dari sebuah acara dari televesi kita di jaman dulu namun bukan “kuis” tersebut yang ingin saya pindahkan kedalam blog saya disini. Disini si CECE lebih tepat sedang saya pertanyakan hakekat eksistensinya.

Konon kabar-kabarnya kita semua sudah sepakat untuk berbenah diri bukan? , berbenah dari mulai diri kita sendiri , dari mulai lingkungan kita sendiri , tentu tujuannya antara lain agar kita bisa mendulang ilmu si CECE diatas , sebab hanya dari berbagai ilmu yang di usung si “CECE” lah , kita mampu menyusun “agenda kerja” agar bisa mengatasi berbagai krisis kehidupan disekitar kita , bukankah begitu seharusnya..? Sekali lagi harus dimulai dari meningkatkan kualitas diri kita sendiri dulu , konon katanya begitu .

Nyatanya…? ah..Kita nggak perlu harus malu , bahkan sampai berkilah mencari dalih alasan dan dukungan berbagai teori , agar bisa memperoleh pembenaran yang diinginkan bahwa sesuatu yang salah bisa menjadi “benar” , atau justru sebaliknya yang benar bisa untuk “dipersalahkan.”

Masyarakat Indonesia sampai hari ini paling getol ngobrol ngalor-ngidul , curhat-curhatan . Dari mulai maraknya berkirim-kiriman sms yang nggak jelas apa mau-nya sampai ngeyel-ngeyelan di blog bila perlu adu otot “leher” yang disudahi dengan debat kusir . Sebab mereka hanya mau menerima argumentasi yang membenarkan perilaku mereka sendiri saja. Misalnya bila ada topik hangat di berbagai forum terbuka , maka orang yang berduyun-duyun datang mengunjungi , adalah mereka yang berhasrat tinggi untuk menyampaikan berbagai uneg-uneg dan isi hati sesuai “pesan arogansi” dari dalam hati meraka masing-masing. Atau malahan sebaliknya , pasrah dan sering berdalih “sekedar mencari  teman koq..”, katanya .

Internet .., sebuah kemajuan tehnologi yang sangat memfasilitasi bukan? , agar kita bisa lebih dekat satu sama lain dan menggalang persahabatan yang baru .Kita juga jadi semakin mudah untuk bisa berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Nggak perlu harus ngeluarin ongkos atau biaya lain , kecuali bayar biaya internet untuk bisa berkumpul dan bicara bersama .

Nah , setelah kita berkumpul itulah yang kemudian menjadi masalah…., sebab untuk apa orang bergerombol dan saling berkumpul kalau tidak menghasilkan manfaat apa-apa kecuali hanya untuk mem-pertontonkan potret diri kita masing-masing. Saya bisa mengatakan hal seperti ini setelah dua tahun lamanya saya mencermati perilaku masyarakat kita (bloggers Indonesia umumnya) Tengok berbagai forum-forum diskusi yang kritis dan bermanfaat ..justru sepi dari perhatian orang . Lihat forum-forum bernuansa remaja “abg” ataupun obrolan bak di “warung kopi” ramainya luar biasa dengan bla..bla..bla. Padahal setelah kita tilik , mereka bukan lagi kaum remaja …namun kaum dewasa yang juga sudah menyandang berbagai gelar-gelar intelektual dan lainnya. Gejala apakah ini..? Keniscayaan tehnologi hanya untuk digunakan sebatas itu saja kah? Tahukah kita apa yang sedang di “search” oleh laptop para anggota dewan kita? Mengapa mereka tidak memanfaatkan tehnologi tersebut untuk membuka diri kepada masyarakat yang diwakilinya , misalnya?

Ketika di tempat kerja , di kantor , di lingkungan antar warga , di lingkungan antar saudara , ketika kita semua berkeluh kesah tentang berbagai keadaan yang menghimpit kehidupan kita , lalu kita menyadari betapa sulitnya problem masyarakat dewasa ini . Namun kita juga merasa tak kuasa dan tak memiliki kemampuan untuk bisa merubahnya ….sebab kita hanya masyarakat “biasa” , bukan mereka yang duduk di kursi pemerintahan dan sebagainya . Lalu….siapakah yang kita harapkan bisa merubahnya…?

Itulah yang disebut “Penjajahan dalam diri orang Indonesia oleh dirinya sendiri..!’

Lalu di dunia maya ini , ketika kita temui banyak obrolan “serius” yang hanya membiarkan saja arah pendapat ataupun opini , agar bebas kemana saja dia hendak menggelinding bergulir , tanpa arah , tanpa tujuan , tanpa kesimpulan dan tanpa keinginan kita semua untuk bisa memperoleh manfaat & gunanya berkumpul . Maka…saya meng-ibaratkan seperti sedang berada di tengah hiruk-pikuk pasar yang tak lain tujuannya hanya untuk membeli atau menjual sesuatu yang hanya untuk kepentingan diri saya sendiri saja.

Tak ada urusannya dengan orang lain yang sedang berada dalam keadaan “kesulitan” ataupun membutuhkan bantuan . Masing-masing mengurusi dirinya sendiri , walaupun hal itu kita lakukan sambil bertegur sapa tak lupa senyam-senyum menebar pesona , agar selalu menampakkan keramahan tampilan wajah kita masing-masing.

Namun mendadak bayang-bayang ekspresi semua orang menjadi kecut , menampakkan ekspresi yang tak suka ketika mereka menyadari bahwa kita tidak menawarkan solusi yang sesuai dengan harapan & ekspektasi mereka.

Masyarakat tersebut tak ingin “kenyamanan arogansi sektoralnya” terusik , mereka tetap ingin bisa terus “bla..bla..bla ” sesuka hatinya. Namun disisi lain masyarakat tersebut juga sangat fasih mengucapkan “turut prihatin” bahkan “ikut berduka” atau malah mampu bersuara lantang : “mari kita berpikir optimis dan berusaha sekuat tenaga”, katanya berkobar.

Namun ketika pantulan suara mereka membentur tembok , berbalik menuntut agar mereka membenahi dirinya sendiri dahulu , sekejap tanpa diberi komando langsung saja mereka “membuang badan”nya masing-masing , “cuek” seolah tak mendengar dan tak melihat ada masalah apa-apa disekitarnya . Atau bahkan sebagian besar secara otomatis menjadi “sinis” , sinisnya-pun disampaikan dari balik punggung kita . Sinisme yang dengan mudah bisa berubah wujud menjadi “fitnah” bahkan berkadar “menghasut”. Lalu…bisa ditebak hasilnya bukan..? Persengketaan terselubung sedang dipicu… dan menghimpun hawa kebenciannya sambil menunggu saatnya untuk siap “diledakkan”.

Itulah realitas masyarakat Indonesia , yang selalu enggan dan terkesan tak mampu berdebat dengan argumentasi yang sehat dan terbuka.Mereka adalah barisan yang masih mewarisi perilaku “fasis” yang sedang menunggu waktu kapan saatnya akan dibagi’in senjata.

Saya juga pernah menulis sebuah artikel yang intinya berbunyi : “Kita harus berperilaku seperti masyarakat mayoritas yang “sakit” , agar kita diakui menjadi orang yang waras”. Sebab orang waras tidak memiliki ruang dan tempat di dalam sebuah sistem ber-masyarakat yang “sakit”.

Tulisan ini memang agak “tendensius” dan mungkin saja bisa membuat segelitir orang menjadi tak suka setelah membacanya . Namun seperti juga mereka , “apa peduli saya” untuk mikirin perilaku orang yang mendorong serta menciptakan jaman menjadi semakin tak terarah atau malah semakin jadi “gila”.

Dari semenjak puluhan tahun silam , walau sebatas di lingkungan pergaulan kesenian. Suara kalbu ini seolah selalu dibenturkan oleh tembok yang tak bisa disentuh apalagi untuk dirubuhkan . Kini di usia yang semakin mendekati senja , tembok tersebut terlihat semakin diperkokoh saja . Walaupun harus diakui .. sudah terdengar suara-suara dari generasi baru yang mulai menentangnya , yang seolah melanjutkan suara kami beberapa tahun yang silam “Bongkar” secepatnya. Namun….nampaknya belum seperti yang diharapkan bukan?

Sekali lagi tak usah malu untuk berkaca diri , tengok wajah di cermin yang masih bopeng kotor dan penuh carut marut . Kita hanya bisa membersihkannya secara bersama , anda membersihkan wajah saya dan saya akan membersihkan wajah anda , demikianlah seharusnya. Usah lagi saling mencaci dan saling menebar benih dusta  . Sebaiknya belajarlah untuk membicarakannya secara terbuka bila memang tak sesuai dengan kehendak hati kita . Tanyakan secara tuntas apa yang masih tampak tidak “jelas” , jangan menduga-duga sendiri lalu berkesimpulan sendiri. Belajarlah juga untuk menerima kenyataan bahwa , dialah yang benar bukan saya .

Saya akan konsisten melawan keadaan , selagi masih ada kemampuan serta kesempatan untuk bisa melawan . Saya tidak percaya pada paham “mayoritas” , yang hanya berdasarakan “rating” tanpa alasan yang bisa diterima oleh akal sehat . Saya sama sekali tidak “risih” untuk disebut menggunakan kata-kata yang “gagah”. Saya justru risih bila kalimat saya bernuansa “banci” , heh!

udah ah..ngelu!


86 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ravindata wrote on Jul 9
Podo mas ... Ngelu pisan ...
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
kasus2 seperti ini marak saya jumpai di blog2 diluar sana , yang umumnya dihuni oleh orang-orang kantoran yang hanya sibuk mikirin urusan bisnis perusahaannya sendiri saja. Seolah mereka hidup di Amerika

Sambil cas..cis..cus..ngomongin trend pasar dan mode hehehe.., padahal dirumah ibarat masih "nimba" sumur , listrik juga byar pet..!
ugroseno wrote on Jul 9
insyaAlloh aku mau peduli...
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
insyaAlloh aku mau peduli...
mas ugroseno, (ini menurut pemahaman saya ya..)

Saat ini situasi yang dihadapkan pada generasi muda kita memang sebuah kondisi yang sangat tidak menyenangkan , bahkan bisa disebut "menyebalkan". Begini., saya coba memberikan gambaran secara eksplisit ya.

Di jaman ordebaru sampai pasca reformasi , kita semua dipacu untuk mengejar pertumbuhan ekonomi lewat penguasaan berbagai alat2 produksi asing (import) , atau bisa kita sebut era liberalisasi ekonomi. Jelas tujuannya diharapkan agar bangsa Indonesia tidak tertinggal semakin jauh dengan peradaban ekonomi dunia maju lainnya. Maka semua sektor pendidikan terkesan serentak diarahkan menuju kesana. (membuka jendela melihat dunia luar). Tanpa disertai untuk membenahi dahulu ruangan dalam rumah kita sendiri (fundamental ekonomi) Orientasi sudut pandang sumber daya muda orang Indonesia..semuanya mengarah kesana .(sebut saja globalisasi)

Namun memahami pertumbuhan ekonomi lewat cara2 tersebut (sekedar jadi operator mesin produksi bangsa asing) terbukti membentur tembok buntu dan menjadi paradoks. Mengapa demikian?

Sebab ketika gejolak krisis melanda dunia , maka otomatis kitapun dipaksa harus berhadapan dengan konsekwensi "based on standard" tuntutan kebutuhan global yang ada.Disinilah kita semua tidak siap untuk menghadapinya , sebab seperti sudah saya gambarkan diatas , kita tidak membenahi dahulu fundamen landasan pijak didalam rumah kita sendiri agar kokoh untuk dijadikan tempat berdiri bagi pijakan kaki kita sendiri. Maka konsekwensi yang dihadapi sekarang adalah sbb:

Dulu anak muda seolah dipacu harus mampu berhadapan lalu menguasai berbagai ilmu agar mampu berinteraksi dengan globalisasi.

Pada saat sekarang dimana sebagian besar sumber daya generasi muda tersebut telah terlanjur berbaris menuju kearah sana , kini...akibat krisis didalam negeri yang rapuh seperti ini , mereka bisa bisa dipersalahkan karena hanya mengabdi dan peduli kepada kepentingan asing atau bahasa kasarnya bisa disebut antek asing atau bahkan antek kapitalis asing.

Sudah wajar kalau generasi muda juga bisa menjadi marah atau bahkan frustasi (maju nggak bisa ...mau mundur tapi ragu..) mereka bisa-bisa merasa seolah seperti dijadikan permainan politik ekonomi asal-asalan saja. Namun inilah kenyataan kita semua hari ini . Bahwa apapun juga alasannya ini harus kita hadapi secara bersama-sama.

Generasi muda dituntut untuk menengok kembali kebelakang ....agar sejenak mundur dan membenahi dahulu ...kekurangan-kekurangan masalah domestik yang harus diberesin dulu , sebelum akhirnya melanjutkan lagi tugasnya untuk menghadapi globalisasi kedepan.

Repotnya....hari ini kita masih berhadapan dengan kaum orang tua yang masih serakah mau menguasai pangung politik selamanya . Sedangkan mereka-mereka juga lah yang dahulu merancang semua strategi "amburadul" tersebut. Harusnya mereka sudah lengser....nyatanya belum...!

Nah...kembali ke inti permasalahan generasi muda yang saya maksud...., sungguh memang serba tidak nyaman kondisinya....namun sekali lagi mau tidak mau harus dihadapi bersama . Kita semua harus "surut" kebelakang dahulu untuk membenahi dapur rumah kita dahulu , sebelum beranjak pergi keluar.

Yang artinnya , semua orang harus peduli dahulu kepada skala prioritas.... yakni menciptakan kebersamaan , sama-sama menderita dengan sesama masyarakat banyak yang lainnya dulu. Minimalkan apa yang bisa di minimalisasikan .
tembangpribumi wrote on Jul 9
- Mungkin forum2 yang bersifat ringan2 itu rame, karena manusia Indonesia sudah bosan dengan hal2 serius dan masalah di sekelilingnya. Jadi mereka di dunia maya sekedar berguyon ria...guyub., sebuah tradisi yang saat ini sudah mulai ditinggalkan, terutama pada masyarakat perkotaan .

- Sikap cuek itu mungkin juga berlandaskan putus asa, karena forum2 yg serius itu biasanya hanya sebatas retorika, NATO begitu istilah gaulnya... Jadi semua memendam keluh kesah dan pemikirannya sebatas dalam hati saja

- Seperti saya misalnya, akhirnya mengambil sikap cuek..Karena pada zaman reformasi ini, saya lihat yg dahulu dianggap pejuang rakyat, sekarang juga ikut berebut kursi dan gizi [ duwit ]. Jadi lebih baik saya guyon di dunia maya, sambil bekerja...Hasilnya sebagian disisihkan buat yg membutuhkan. Mulai dari diri sendiri, dari hal2 kecil..Kalau terlalu besar, ngelu saya........
permenkaretmolor wrote on Jul 9
jsops said
mereka yang berhasrat tinggi untuk menyampaikan berbagai uneg-uneg dan isi hati sesuai “pesan arogansi” dari dalam hati meraka masing-masing.
itulah om yang sering terjadi di berbagai forum..... saya stuju banget sama tulisan om..... kita kurang memanfaatkan semua yang sudah ada.....

jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
- Mungkin forum2 yang bersifat ringan2 itu rame, karena manusia Indonesia sudah bosan dengan hal2 serius dan masalah di sekelilingnya. Jadi mereka di dunia maya sekedar berguyon ria...guyub., sebuah tradisi yang saat ini sudah mulai ditinggalkan, terutama pada masyarakat perkotaan .

- Sikap cuek itu mungkin juga berlandaskan putus asa, karena forum2 yg serius itu biasanya hanya sebatas retorika, NATO begitu istilah gaulnya... Jadi semua memendam keluh kesah dan pemikirannya sebatas dalam hati saja

- Seperti saya misalnya, akhirnya mengambil sikap cuek..Karena pada zaman reformasi ini, saya lihat yg dahulu dianggap pejuang rakyat, sekarang juga ikut berebut kursi dan gizi [ duwit ]. Jadi lebih baik saya guyon di dunia maya, sambil bekerja...Hasilnya sebagian disisihkan buat yg membutuhkan. Mulai dari diri sendiri, dari hal2 kecil..Kalau terlalu besar, ngelu saya........
Artikel diatas bukan bernuansa men-generalisir semua persoalan di forum2 agar "serius" semua ...kan? Kita tetap membutuhkan ruang-ruang silahturahmi bernuansa ringan penuh canda serta guyonan .Apalagi seperti mbak katakan ..bahwa dikota tradisi tersebut memang sudah semakin ditinggalkan (orang cenderung menjadi sosok individualistik eksklusif)

Benar bahwa selama ini ruang2 serius hanya menghasilkan "Nato" atau retorika kosong belaka . Namun jalan keluar dengan menjadi "skeptis pesimistik" atau "masa bodoh.. dsb" , bukankah itu juga sama saja kadar serta bobotnya? ...artinya sama-sama tidak memecahkan persoalan bukan..?

Apapun juga beratnya kondisi yang dihadapi hari ini ....dengan segala macam dan bertumpuknya "traumatik masalalu" yang pernah melanda kita semua, saya koq merasa harus mengajak semua orang untuk terus melawan keadaan.... meskipun saya juga tidak mampu untuk memberi kepastian / jawaban bahwa kemenangan atau kebenaran akan datang esok hari , pasti akan kita raih dengan segera , misalnya ..

Dalam hal berpartisipasi di urusan politik juga sama, misalnya pemilihan umum, menusuk kita juga ragu2 .apakah yang kita tusuk akan setia pada janji. Menjadi golput juga malah semakin membuka jalan lebar bagi mereka untuk memanipulasi politik itu sesuka udel mereka sendiri....

Tidak ada pilihan lain selain kita harus aktif....apapun pahit dan resikonya.Namun itulah makna kita hidup sebagai warga negara yang punya hak untuk menentukan sikap ..walaupun sikap kita masih belum terakomodasi dengan semestinya. Inilah Indonesia...negara yang sama-sama masih kita cintai dan masih milik kita juga kan? hehe
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 10
itulah om yang sering terjadi di berbagai forum..... saya stuju banget sama tulisan om..... kita kurang memanfaatkan semua yang sudah ada.....

Pada intinya maksud saya adalah : Manusia modern itu bukan hanya yang disebut mampu menggunakan alat modern . Tapi lebih substantif berpikirnya sebagai orang modern . Dia tidak akan berpikir apa yang saya inginkan , namun apa yang saya butuhkan

Saya menggunakan internet (media modern) tentu juga harus dengan skala berpikir yang dituntut oleh tehnologi modern itu sendiri. Bahwa internet bukan dibuat untuk sekedar tempat orang ngobrol dan kongkow2 saja. Meskipun bukan berarti tidak boleh kongkow2 disana , misalnya .

Tetapi harus ada manfaat (added value) yang lebih dari sekedar itu .
permenkaretmolor wrote on Jul 9
jsops said
. Tapi lebih substantif berpikirnya sebagai orang modern
stuuuuju..... banget om.......... bukan cuman pakai peralatan dan berbaju ala modern aja.........

tapi ya modernisasi biasa nya cuman diliat dari bisa bahasa yang up to date pa ga, trus peralatan yang dipake apa aja, mode terbaru di ikuti pa ga.... sampai gaya hidupnya sgala..... nah repot kan kalo baro meternya adalah hasil hasil nya.... padahal hasil hasil tersebut diperoleh kalo bisa mengerti subtansinya....

maka wajar aja kalo sekarang kita cuman suka beli ini itu tanpa mikir gimana buatnya :D ...... hla wong baro meternya cuman hasil budayanya bukan filosofi budaya nya :D
jsops wrote on Jul 9
stuuuuju..... banget om.......... bukan cuman pakai peralatan dan berbaju ala modern aja.........

tapi ya modernisasi biasa nya cuman diliat dari bisa bahasa yang up to date pa ga, trus peralatan yang dipake apa aja, mode terbaru di ikuti pa ga.... sampai gaya hidupnya sgala..... nah repot kan kalo baro meternya adalah hasil hasil nya.... padahal hasil hasil tersebut diperoleh kalo bisa mengerti subtansinya....

maka wajar aja kalo sekarang kita cuman suka beli ini itu tanpa mikir gimana buatnya :D ...... hla wong baro meternya cuman hasil budayanya bukan filosofi budaya nya :D
Yang anda sebut itu adalah output dari sistem "Kapitalisasi" . Yang sekarang ini diseluruh dunia sedang ramai dibicarakan oleh berbagai negara-negara G8.
Sistem Kapitalisasi hanya memperkuat yang sudah kaya dan memperlemah yang miskin ....sampai "mati".
jsops wrote on Jul 9
baro meternya cuman hasil budayanya bukan filosofi budaya nya
hehe..setuju
permenkaretmolor wrote on Jul 9
hmmmmm... sampai kadang pendapatan sudah dipilah pilah sampai kaya sistem kasta... yang artinya kalo orang tua nya berpendapatan kurang maka anaknya bakanlan berpendapatan kurang... (dipicu sekolah mahal dan seterusnya... akhirnya tidak mendapatkan informasi dan pendidkan yang layak) ..... akhirnya ya jadi kaya sistem kasta yang punya banyak uang ya semua ketrunannya menikmatinya tanpa perlu bersusah payah.... yang punya sedang2 ya di garis itu2 juga berusaha naik juga kesulitan banget harus puasa.... ya di kasta terbawah di butuhkan sebuah keajaiban untuk naik kasta......

ga tau yang bikin kasta2 di perekonomian sampai kaya gitu siapa? karena arus gombalisasi, atau karena orang pengatur udah nyaman dengan posisinya sebagai pengatur yang ga bisa turun kasta?

makanya orang orang strategi atau management (dalam bahasa kerennya) takut banget sama sesuatu hal yang tidak bisa di prediksikan :D kaya bencana alam atau yang lainnya sebab .... rusak deh rencana yang disusun :D untuk pertahanan kasta yang mereka ciptakan ........
jsops wrote on Jul 9
hehe..mas permenkaretmolor (duh..panjang bener seh namanya..)
sampeyan bisa baca tulisan ini di blog saya , soal kapitalisme .
http://jsop.net/opinilain/#comment-2385
permenkaretmolor wrote on Jul 9
menuju tkp om....... :D
jsops wrote on Jul 9
emang ada garong? pake tkp . 86 deh!
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Seperti dugaan saya..banyak yang menjadi merasa nggak nyaman ya..hehe.. Memang paling sulit adalah , bila kita harus meng-kritiki diri kita sendiri. :)
Bukan meng-kitik-kitik'i..itu mah jadi geli!

Misalnya: membuang-buang waktu untuk berbagai hal yg tidak effisien atau terus mengkonsumsi apa yang kita inginkan , bukan apa yang kita butuhkan. Bangga menjadi pengusaha kecil karena modal dan badan usaha milik kita sendiri , bukan merasa hebat menjadi pengusaha besar padahal mengabdi pada perusahaan orang asing atau bangsa lain. (berkedok “asal” proffesional)

Dan banyak lagi ketentuan / persyaratan2 yang harus dirombak secara total…. dari dalam diri kita sendiri dulu jangan menunjuk orang lain untuk melakukan sebelum kita memulainya sendiri kan?

Karena perubahan yang revolusioner yang dikehendaki demi tercapainya peradaban yang lebih baik pasti juga akan mengakibatkan dampak “effect samping” , yang juga beresiko tinggi.(sebut:pengorbanan) Seperti berbagai teori yang menyebutkan bahwa konsekwensi dari perang terhadap peradaban (menuju yang buruk maupun menuju yang baik) selalu akan memunculkan “the lost generation”yang “ter-korbankan” tadi. (orang2 yg posisinya “terjebak” mengambang)

Saya hanya berharap sambil berandai-andai , mungkinkah bila saja ada kesadaran yang bisa dibangun seperti hal-hal tersebut diatas , maka potensi / jumlah “generasi yang hilang” juga akan bisa di-minimalisasikan. Sebab kesadaran untuk memfungsikan sumber daya yang sudah ada , juga tetap dilakukan.

(memang agak sok teu ya..? tapi biariiinn…..daripada emang bener2 nggak tau sama sekali kan?….atau berlagak pintar padahal bodoh , karena nggak mau tau..)hehehe….ngelu lagi deh!
imw85 wrote on Jul 9, edited on Jul 9
jsops said
Saya menggunakan internet (media modern) tentu juga harus dengan skala berpikir yang dituntut oleh tehnologi modern itu sendiri. Bahwa internet bukan dibuat untuk sekedar tempat orang ngobrol dan kongkow2 saja. Meskipun bukan berarti tidak boleh kongkow2 disana , misalnya .
Mengharapkan benefit suatu teknologi tanpa mau tahu apa dan bagaimana "prasyarat sosial" dari teknologi itu, yg sering disebut orang dengan "Mitos Guttenberg". Banyak yg mengira akibat ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg maka di Eropa terjadi kemajuan literasi pesat (termasuk jadi berani melakukan interpretasi lain dari Bibel). Padahal mesin cetak itu ditemukan dan bermanfaat secara besar karena masyarat tersebut sudah "siap" utk bentuk teknologi tersebut.

Hal yg sama seperti Internet, banyak yg mengira dg Internet maka akan otomatis "datang kemajuan" Tanpa berfikir apa yg jadi landasan teknologi Internet.

Teknologi Internet sendiri dilandasi keinginan kolaborasi secara tertulis dan terbuka (TeTe gitu lho), nah karena teknologi Internet masuk ke Indonesia lebih dominan dg warna entertainment-nya, maka jadilah fungsi Internet sekarang yang lebih dominan sebagai hiburan.

Saya juga kadang mengalami perasaan sama dg bung JSOP "kesepian" :-) dalam dunia maya. Terutama dunia akedemis di dunia maya. Hening dan bisu banget gitu.
indraicha wrote on Jul 9, edited on Jul 9
ikut nimbrung (bukan bla..bla..bla ajah kok)...

Kalau saya sebagai yang "muda" mah ngeliat kalau budaya "tebar pesona" dan "gak mau ngaca" yang juga meracuni saya itu -maaf- dicontohkan oleh generasi diatas saya..

soalnya di media manapun, sejak kecil saya disuguhkan dan dibentuk bahwa image itu lebih penting daripada apapun.. singkatnya gaya dululah, skill belakangan..

Karena orang pasti ngeliat dari tampilan dulu kan?

Kalo sistemnya kayak gitu, saya yang cuma secuil ini kan mau nggak mau pasti kebawa...
Karena bakal berat sekali konsekuensinya kalo kita mencoba menentang sistem...

karena saya (Alhamdulillah) masih idealis, maka saya masih percaya bahwa sistem bisa diubah melalui revolusi, bukan nggak mungkin akan ada orang-orang seperti Hugo Chavez, Evo Morales, Fidel dan Raul Castro, atau mungkin Mahatma Ghandi di Indonesia... yang berani dan berpower untuk melakukan perubahan..

Tapi itu nyaris mustahil apabila pendidikan tidak digratiskan (pendidikan dengan sistem yang sesuai dengan kondisi dan tujuan bangsa kita, bukan mencontek semata sistem dari negara lain yang belum tentu cocok bagi kondisi dan tujuan bangsa kita nantinya)

salam
indraicha wrote on Jul 9
imw85 said

Teknologi Internet sendiri dilandasi keinginan kolaborasi secara tertulis dan terbuka (TeTe gitu lho), nah karena teknologi Internet masuk ke Indonesia lebih dominan dg warna entertainment-nya, maka jadilah fungsi Internet sekarang yang lebih dominan sebagai hiburan.
Karena kurangnya tingkat pendidikan dan kreativitas, media-media seperti internet kebanyakan hanya diambil sisi senang2nya saja.

Padahal jika kita tilik lebih lanjut, maka internet pun menyuguhkan manfaat yang jauh lebih besar.

Padahal (contoh) jika kita memposting iklan produk kita di internet, costnya akan lebih murah dibandingkan jika kita memasang iklan di koran.

indraicha wrote on Jul 9
Tapi tetap perubahan harus dimulai dari detik ini oleh kita sendiri
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
imw85 said
Mengharapkan benefit suatu teknologi tanpa mau tahu apa dan bagaimana "prasyarat sosial" dari teknologi itu, yg sering disebut orang dengan "Mitos Guttenberg". Banyak yg mengira akibat ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg maka di Eropa terjadi kemajuan literasi pesat (termasuk jadi berani melakukan interpretasi lain dari Bibel). Padahal mesin cetak itu ditemukan dan bermanfaat secara besar karena masyarat tersebut sudah "siap" utk bentuk teknologi tersebut.

Hal yg sama seperti Internet, banyak yg mengira dg Internet maka akan otomatis "datang kemajuan" Tanpa berfikir apa yg jadi landasan teknologi Internet.

Teknologi Internet sendiri dilandasi keinginan kolaborasi secara tertulis dan terbuka (TeTe gitu lho), nah karena teknologi Internet masuk ke Indonesia lebih dominan dg warna entertainment-nya, maka jadilah fungsi Internet sekarang yang lebih dominan sebagai hiburan.

Saya juga kadang mengalami perasaan sama dg bung JSOP "kesepian" :-) dalam dunia maya. Terutama dunia akedemis di dunia maya. Hening dan bisu banget gitu.
NAH..! ini Pakarnya sendiri yang ngomong.., silahkan dateng aja ke sitenya untuk konsultasi soal tehnologi Internet dsb...atau kalau mau (tepatnya:kalo berani) silahkan bertanya sendiri di forum ini , juga nggak apa2 hehehe...(saya jamin bukan pakar pakaran ya Bung..) hehehe. kayak si "itu" tuh...hehehe.. peace ah....!

Poin yang penting adalah "Internet masuk ke Indonesia sebagai wahana hiburan" , mungkin maksudnya untuk menyiasati kondisi (transisi) agar orang mudah menjadi familiar dan tidak terkesan "hitec" yang mercusuar / menakutkan.
Tapi ...ya..ini Indonesia ....maksud hati ingin memeluk rembulan..apa daya tangan kurang panjang :)

jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
soalnya di media manapun, sejak kecil saya disuguhkan dan dibentuk bahwa image itu lebih penting daripada apapun.. singkatnya gaya dululah, skill belakangan..
Nah kan..itu lah yang terjadi pada generasi muda kita hari ini (secara mayoritas) dan umumnya di kota2 besar. Kalian diarahkan serta diberi contoh tentang perilaku yang dibutuhkan untuk melancarkankan jalannya liberalisasi ekonomi (membeli dagangan mereka)

Kedua soal pendidikan , pengertian tentang pendidikan "gratis" atau ditanggung oleh negara (spt yang tertuang dalam konstitusi) , jangan diartikan bahwa kita nggak perlu harus bayar sekolah dsb. Tetap semuanya harus bayar ...nggak ada yang gratis . Namun kemampuan kita untuk mencari uang (lapangan pekerjaan dsb) ditingkatkan secara maksimal . Dari sanalah kita dikenakan berbagai pajak yang intinya untuk membayar berbagai kebutuhan2 dasar seperti pendidikan tadi. :)
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Padahal jika kita tilik lebih lanjut, maka internet pun menyuguhkan manfaat yang jauh lebih besar.

Padahal (contoh) jika kita memposting iklan produk kita di internet, costnya akan lebih murah dibandingkan jika kita memasang iklan di koran.
Betul.., "cerdas dan cermat" seperti judul artikel ini bisa diartikan juga bahwa , media internet juga bisa digunakan untuk mempromosikan produk atau sebagai wahana iklan.

Tapi ingat..., itu hanya bermartabat dan bermanfaat bila yang kita promosikan adalah produk domestik kita sendiri , dari mulai sandal jepit/bakiak...sampai barang kerajinan2 , hingga menyentuh produk tehnologi nya sendiri. Jangan jualan mercy atau bmw ....sama aja boong kan..?
indraicha wrote on Jul 9
jsops said
Nah kan..itu lah yang terjadi pada generasi muda kita hari ini (secara mayoritas) dan umumnya di kota2 besar. Kalian diarahkan serta diberi contoh tentang perilaku yang dibutuhkan untuk melancarkankan jalannya liberalisasi ekonomi (membeli dagangan mereka)
Iya banget, branded oriented...

Beruntung sekali sekarang yang sedang booming dan branded di kalangan (entah mayoritas atau minoritas) anak muda adalah produk-produk "indie", seperti produk-produk distro/clothing lokal serta musik-musik indie lokal...

meskipun definisi "indie" sendiri masih jadi perdebatan, tapi yang pasti produk lokal...

Tapi sayang, tren ini pun nggak luput dari cengkeraman kaum korporasi kapitalis raksasa (L.A. Light Indiefest yang nggak ada indie-indienya)
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Tapi tetap perubahan harus dimulai dari detik ini oleh kita sendiri
salut..! seperti itulah seharusnya anak muda sekarang mulai berpikir kedepan.Jangan mencontoh masa lalu yang "buruk" , tapi juga jangan menutup mata pada "keburukan" itu sendiri . Sebab didalam keburukan itu , tersimpan berbagai "kebaikan-kebaikan" yang kita butuhkan juga. (pengalaman berdasarkan kenyataan sejarah) .Mereka adalah BEKAL.
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Iya banget, branded oriented...

Beruntung sekali sekarang yang sedang booming dan branded di kalangan (entah mayoritas atau minoritas) anak muda adalah produk-produk "indie", seperti produk-produk distro/clothing lokal serta musik-musik indie lokal...

meskipun definisi "indie" sendiri masih jadi perdebatan, tapi yang pasti produk lokal...

Tapi sayang, tren ini pun nggak luput dari cengkeraman kaum korporasi kapitalis raksasa (L.A. Light Indiefest yang nggak ada indie-indienya)
Korporasi kapitalis tugas pokok utamanya memang "mencengkram apa yang bisa dicengkram" (naturenya mmg. gitu kan?) Disitulah dibutuhkan peranan "kesadaran kolektif" dari indie2 ybs. agar merapatkan barisan memperkuat pagar pertahanan .

Nah pertanyaannya kemudian.., bagaimanakah caranya agar bisa digalang semangat kebersamaan tersebut? Itu kan yang saya tuliskan pada isi artikel diatas ? Semangat untuk berpikir secara radikal , sebab selama ini bukankah kita selalu manut sambil mengangguk-angguk saja bukan?

Mana mungkin Indie "A" melakukan perlawanan sendiri , sementara yang lainnya "B" / "C" dan "D" sampai "Z" ....akhirnya tekuk lutut .
indraicha wrote on Jul 9
jsops said
Korporasi kapitalis tugas pokok utamanya memang "mencengkram apa yang bisa dicengkram" (naturenya mmg. gitu kan?) Disitulah dibutuhkan peranan "kesadaran kolektif" dari indie2 ybs. agar merapatkan barisan memperkuat pagar pertahanan .

Nah pertanyaannya kemudian.., bagaimanakah caranya agar bisa digalang semangat kebersamaan tersebut? Itu kan yang saya tuliskan pada isi artikel diatas ? Semangat untuk berpikir secara radikal , sebab selama ini kita selalu manut sambil mengangguk-angguk saja bukan?

Mana mungkin Indie "A" melakukan perlawanan sendiri , sementara yang lainnya "B" / "C" dan "D" sampai "Z" ....akhirnya tekuk lutut .
Ngomong-ngomong produk lokal...

Terutama clothing lokal yang lagi booming, banyak desainnya ditiru (bahkan beberapa sampe dipalsukan) oleh perusahaan2 fashion kelas rendah asing (terutama sih RRC), dijual lebih murah...

Tapi banyak sih produk lokal berkualitas top yang harganya tidak terjangkau oleh mayoritas dayabeli konsumen lokal, jadi deh, di"piracy" sama perusahaan luar dengan kualitas barang "curah" tapi ada brandnya.

Ibu saya kerja di dinas koperasi dan KUKM, beliau sering bilang sama saya bahwa banyak perusahaan produk lokal yang berpotensi hancur karena tidak bisa menyesuaikan harga jual (dan tentunya kualitas) dengan kemampuan beli konsumen lokal.... dan akhirnya hanya jadi perusahaan export oriented... dan bangsa kita....produk RRC lagi, produk RRC lagi....

jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Ngomong-ngomong produk lokal...

Terutama clothing lokal yang lagi booming, banyak desainnya ditiru (bahkan beberapa sampe dipalsukan) oleh perusahaan2 fashion kelas rendah asing (terutama sih RRC), dijual lebih murah...

Tapi banyak sih produk lokal berkualitas top yang harganya tidak terjangkau oleh mayoritas dayabeli konsumen lokal, jadi deh, di"piracy" sama perusahaan luar dengan kualitas barang "curah" tapi ada brandnya.

Ibu saya kerja di dinas koperasi dan KUKM, beliau sering bilang sama saya bahwa banyak perusahaan produk lokal yang berpotensi hancur karena tidak bisa menyesuaikan harga jual (dan tentunya kualitas) dengan kemampuan beli konsumen lokal.... dan akhirnya hanya jadi perusahaan export oriented... dan bangsa kita....produk RRC lagi, produk RRC lagi....

Selamat pagi Indonesia,

Factory outlet maksudnya? Setahu saya bisnis "garment" yang sekarang marak tersebut komposisinya seperti dibawah ini:

a. Bahan kain = sebagian besar hasil import (satu paket dengan orderan)
b. Design / model = sesuai ketentuan gambar (pemesan dari luar negeri)
c. Outlet yang tersebar di Indonesia = jualan sisa2 produk eksport tersebut , yang terkadang berlabel "reject" alias gagal / ditolak / karena tidak sempurna. (intinya cacat produksi)

Jadi orang Indonesia posisinya tak lebih tak kurang sebagai "penjahitnya" saja (karena upah buruh disini masih dianggap bersaing) . Tetapi karena sekarang terjadi "tren" menuntut kenaikan upah (UMR) , ditambah lagi dipicu oleh kebutuhan biaya hidup yang semakin mahal , maka biaya produksi juga menuntut menjadi naik meninggi bukan?, itu yang menyebabkan akhirnya banyak pesanan yang pindah ke daratan China atau lainnya (yang lebih murah cost nya)

Jadi kita harus tau persis .... bahwa sudah hampir tidak ada sama sekali produk lokal yang bisa dikatakan milik kita sendiri .

Disisi yang lain ....kita semakin dibuat "linglung" dan bingung dengan berbagai istilah. Sebab hal diatas disebut / dikatagorikan "eksport" . (?????)
Ngga ada bedanya jadi "tukang" dengan arti sebagai "pemilik" yang sebenarnya. (plesetan "mindset" yang nggak lucu blasss..!)
elljodie wrote on Jul 9
sayah ikut prihatin aja... om...
permasalahan mikro & makro negeri ini makin carut marut... kek benang kusut... tambah semrawut... sayah hanya manggut2... sambil cemberut... pala cenut2... kapan yah semuana berakhir?? bruttt!!! maaf om... sayah k*ntut...
jsops wrote on Jul 9, edited on Jul 9
Jangan khawatir eljodie , kalau soal kentut mah saya sudah duluan dari setadi (kate' orang betawi).

Kita mulai aja ngobrol2 dan diskusi2 diberbagi tempat yang bisa dilakukan , dengan membiasakan diri untuk mau "mengeritiki diri sendiri" dulu. Tahap kedua mungkin melihat "kenyataan" tanpa pake' kacamata yang bisa di "setel" , yang selalu membuat pemandangan dihadapan nampak biru cerah / indah terlihat dimata.

Tapi kita juga harus ingat , bahwa semua itu kita lakukan dengan semangat ingin bangkit dari keterpurukan akibat perilaku kita sendiri yang di "puruk"kan oleh jaman. Bukan dengan semangat asal mencaci dan memaki tanpa alasan ..bukan? apalagi tanpa rencana / tanpa tujuan....ye'...mati aje elu..kate' orang betawi lagi!
indraicha wrote on Jul 9
jsops said
Factory outlet maksudnya? Setahu saya bisnis "garment" yang sekarang marak tersebut komposisinya seperti dibawah ini:

a. Bahan kain = sebagian besar hasil import (satu paket dengan orderan)
b. Design / model = sesuai ketentuan gambar (pemesan dari luar negeri)
c. Outlet yang tersebar di Indonesia = jualan sisa2 produk eksport tersebut , yang terkadang berlabel "reject" alias gagal / ditolak / karena tidak sempurna. (intinya cacat produksi)

Jadi orang Indonesia posisinya tak lebih tak kurang sebagai "penjahitnya" saja (karena upah buruh disini masih dianggap bersaing) . Tetapi karena sekarang terjadi "tren" menuntut kenaikan upah (UMR) , ditambah lagi dipicu oleh kebutuhan biaya hidup yang semakin mahal , maka biaya produksi juga menuntut menjadi naik meninggi bukan?, itu yang menyebabkan akhirnya banyak pesanan yang pindah ke daratan China atau lainnya (yang lebih murah cost nya)

Jadi kita harus tau persis .... bahwa sudah hampir tidak ada sama sekali produk lokal yang bisa dikatakan milik kita sendiri .

Disisi yang lain ....kita semakin dibuat "linglung" dan bingung dengan berbagai istilah. Sebab hal diatas disebut / dikatagorikan "eksport" . (?????)
Ngga ada bedanya jadi "tukang" dengan arti sebagai "pemilik" yang sebenarnya. (plesetan "mindset" yang nggak lucu blasss..!)
Bukan itu aja om, bahkan desain-desain dari perusahaan clothing yang asli bikinan dan bahan-bahannya lokal, kayak yang nyuplai2 ke distro-distro...

karena lagi booming, dimanfaatin deh sama Cina, dibikin yang kayak gitu tapi versi murahnya....

misalnya untuk kaos-kaos (sori nyebut merk), ouval atau black ID (clothing-clothing merk asli lokal ternama), dijual di outlet resminya antara Rp.75000 samapai Rp.100ribu... Tapi saya bisa nemu barang berdesain sama (cuma dibedain tulisannya dikit-dikit dan bahannya lebih jelek) di lapangan gasibu bandung dijual seharga 45rb sampai 50ribu (untuk polo shirt), dengan merek "Oval" dan "Black EID" yang disamarkan agar keliatan mirip... diliat capnya, kalo gak buatan cina ya taiwan...

Kalo kata saya mah penyebabnya mental "tebar pesona" yang kmaren saya sebutin....

Tapi saya punya kabar baik om, masih banyak kok anak2 yang amat bangga dengan produk lokal (con: merchandise band lokal, baju2 lokal, batik, dan muski lokal).....

Kalo di kalangan saya mah memang gerakan "DO IT YOURSELF" dan "MAKE IT YOURSELF" emang jadi pilihan yang bagus dan menggiurkan...

Misalnya pake kaos desainan sendiri merupakan suatu kebanggaan, atau pakai kaos "Koes Plus" sampai "Koil" dan "Goodnight Electric" (band indie), sangatlah terlihat "gaul"....

Lalu memakai batik dan kemeja tukang delman ke kampus sangatlah "keren"... hahaha, balik lagi ke "tebar pesona" sih, tapi kata saya sih gak apa-apa selama yang dipakainya produk lokal, jadi duitnya muter2 lagi di Indonesia.....

Tapi.... mahal.....tetep....mahal....

Jadi beli kaos cuma beberapa bulan sekali....
cuma bawahnya tetep.... kalo gak LEA, LEVIS, CARDINAL.... dan pilihan terbaik CELANA GEDEBAGE.....

Kalo FO-FOan mah saya gak ngerti samasekali fenomena ini, aneh pisan orang-orang dari Jakarta dateng hari SAbtu-Minggu macet2in kota Bandung saya tercinta, cuma buat beli baju yang cacat export.... ih.....

salam....
indraicha wrote on Jul 9
Oya, berpikir radikal maksudnya kayak ormas yang ribut di monas kemaren?

hahahaha
sigu2n wrote on Jul 10
jsops said

Repotnya....hari ini kita masih berhadapan dengan kaum orang tua yang masih serakah mau menguasai pangung politik selamanya . Sedangkan mereka-mereka juga lah yang dahulu merancang semua strategi "amburadul" tersebut. Harusnya mereka sudah lengser....nyatanya belum...!
jadi inget kata Bung Karno dulu...

"jaman kalian nanti lebih sulit, karena yg kalian hadapi adalah bangsa kalian sendiri!"
jsops wrote on Jul 10
Bukan itu aja om, bahkan desain-desain dari perusahaan clothing yang asli bikinan dan bahan-bahannya lokal, kayak yang nyuplai2 ke distro-distro...

karena lagi booming, dimanfaatin deh sama Cina, dibikin yang kayak gitu tapi versi murahnya....
oh..ya..ya..saya ngerti maksudnya .., kembali lagi ini kan soal dumping2an harga kan..? Mana action deperdag/industri Republik Indonesia. Saya juga nggak mudheng blas...ngurusin bisnis ekonomi rakyat kecil aja udah semrawut...pantesan ngurusin yang gede2 juga gak puguh.
jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10
Oya, berpikir radikal maksudnya kayak ormas yang ribut di monas kemaren?

hahahaha
Semua kalimat "kata kerja" selalu bermuatan makna "ambiguitas" kan? Tergantung bagaimana mewujudkan manifestasinya aja. Kalimat "revolusi" juga bisa diartikan negatif (conflict horizontal / anarkis dsb) , namun revolusi dalam pikiran agar melahirkan rencana bagi pola kerja yang progresive jelas dibutuhkan. Itu yang saya maksud dengan berfikir "radikal" atau bisa juga disebut "revolusioner" . Atau dengan bahasa kalimat yang lainnya lagi "proses Evolusi" yang dipercepat .
jsops wrote on Jul 10
sigu2n said
jadi inget kata Bung Karno dulu...

"jaman kalian nanti lebih sulit, karena yg kalian hadapi adalah bangsa kalian sendiri!"
Kalau saja kita mau membaca cerita tentang sejarah berdirinya republik ini secara utuh dan menyeluruh , maka ada dugaan baik Bung Karno maupun Soeharto telah melakukan "pembajakan konstitusi".

Bangsa-bangsa Nusantara ini belum sempat berdialog / berdebat secara politik untuk merumuskan "tafsir" teks dari Konstitusi itu sendiri .

Sjahrir , Tan Malaka, dan Amir Syarifudin dan tokoh2 lainnya masih bertikai soal perumusan tafsir tersebut . Mereka keburu kehabisan usia "meninggal dunia" sebelum perdebatan tersebut bisa dirampungkan . Tragisnya tidak ada yang melanjutkan proses tadi . Disitulah Bung Karno lalu terkesan "menutup buku" yang belum jadi ...dan mengalihkan issue2 nasional untuk urusan pertikaian fisik dengan Malaysia / merebut Irian dan lain2 .Demikian juga Pak Harto .

Sekarang persoalan yang diributkan tiga sekawan diatas tadi menjadi kenyataan problem "rasa persatuan" kita yang terjadi di berbagai daerah2.
jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10
Tapi saya punya kabar baik om, masih banyak kok anak2 yang amat bangga dengan produk lokal (con: merchandise band lokal, baju2 lokal, batik, dan muski lokal).....

Kalo di kalangan saya mah memang gerakan "DO IT YOURSELF" dan "MAKE IT YOURSELF" emang jadi pilihan yang bagus dan menggiurkan...
Saya pernah juga menuliskan kisah tentang industri lokal ditahun 70'an . Khususnya yang terjadi di Bandung juga.

Dari semenjak tahun1970'an tersebut komunitas2 anak muda dikota-kota seperti Bandung / Malang /Jogya , bergerak menciptakan industri kreatifnya masing-masing. Misalnya kalau Bandung itu terkenal dengan industri sepatu . Bukan kelas cibaduyut lho...! ini kelas menengah keatas seperti The Peels dan lain2. Begitu juga dengan jaket kulit merk Parachut dan lain2.

Saya berharap kondisi "krisis" yang terjadi sekarang ini bisa melahirkan hikmah "positif" juga. Misalnya ....karena krisis ekonomi , lalu industri2 besar (raksasa) atau bahkan milik asing ...pada pulang ke negerinya masing2 (kukutan) biarin...aja...kita sukurin aja...nggak usah di tahan-tahan apalagi ditangisi . Seperti kasus sepatu Nicki dsb.

Dengan begitu ...akan membuka peluang2 bagi industri underground2 nya untuk bisa bangkit lagi...tanpa di gerecokin sama modal asing .Memang awalnya ngos-ngos'an....tapi kalau ditekuni dengan baik...rasanya akan jauh lebih positif. Sebab kita sudah berhasil melepaskan ketergantungan .
imw85 wrote on Jul 10
Padahal (contoh) jika kita memposting iklan produk kita di internet, costnya akan lebih murah dibandingkan jika kita memasang iklan di koran.
Ya costnya lebih rendah, tapi dampaknya ? he he he menurut saya iklan di Internet bukan substitusi iklan di dunia konventional. Tapi sebagai pelengkap (bukan pelengkap penderita lho)
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
uga nggak apa2 hehehe...(saya jamin bukan pakar pakaran ya Bung..) hehehe. kayak si "itu" tuh...hehehe.. peace ah....!
hehehe siap aya.. maaf saya orang baru he he he he

Bagi saya sih bukan "hiburan non hiburan yg penting" tapi sisi kolaboratifnya. "seharusnya" sesuai dg nafas awal Internet, kolaborasi ini akan semakin terbentuk dg Internet, sayangnya hal itu belum menunjukkan hasil yang menggemberikan. Kalau kolaborasi itu sudah terjalin hiburan dan konten lainnya akan mudah dibangun, kalau nafas kolaborasi tidak ada, yg ada malah colong-colongan he eh eh ehe he

Sebagai contoh saya tidak ingin cari yg muluk muluk, di lembaga pendidikan saja (yg harusnya lebih "smart" memanfaatkannya). Internet masih sebagai pengganti media komunikasi mahal (fax, email dsb).

Keterkaitan dg TETE yg saya sebutkan, ambil contoh situs kampus. Masih minim kampus yg membuka hasil karya misal materi kuliah, skripsi dsb. Padahal dg membuka ini "awal kolaborasi" bisa dilakukan.

Semangat "It is mine" masih lebih kental, padahal semangat ini bukan semangat awal Internet. Maklum kita pengennya lumpat mlulu, Internet for bussiness, Internet for ini, dan itu.
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Kedua soal pendidikan , pengertian tentang pendidikan "gratis" atau ditanggung oleh negara (spt yang tertuang dalam konstitusi) , jangan diartikan bahwa kita nggak perlu harus bayar sekolah dsb. Tetap semuanya harus bayar ...nggak ada yang gratis . Namun kemampuan kita untuk mencari uang (lapangan pekerjaan dsb) ditingkatkan secara maksimal . Dari sanalah kita dikenakan berbagai pajak yang intinya untuk membayar berbagai kebutuhan2 dasar seperti pendidikan tadi. :)
Soal pendidikan gratis, saya sering ketemu kenalan pernah sekolah di Eropa, pulang begitu "memuji-muji". Hebat pemerintah di sana, sekolahan sampai Uni semuanya gratis.

Tapi jarang ada di antara mereka yang sadar, bahwa hal itu bisa tercapai karena orang yang bekerja kena potong pajak 50% dan pajak dikelola SECARA BENAR, dan institusi pendidikan yang dapat DANA PEMERINTAH melakukan kewajibannya dengan benar (misal karena itu dana pemerintah, maka institusi pendidikan pemerintah membuka fasilitasnya utk semua "warga negara" misal perpustakaan, membuka materi pengajaran kepada semua orang dsb).

Nah kita (termasuk institusi pendidikan dibiayai negara) ngotot minta pendidikan murah tetapi tidak mau melakukan pekerjaan rumah di sisinya. Ndak percaya, lihat institusi pendidikan yang didanai pemerintah dan lihat ketidak efisienannya.

Oh ya masyrakat di sini rela dipotong 50% mungkin karena tahu pengelolaannya beres he he he he
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Tapi ingat..., itu hanya bermartabat dan bermanfaat bila yang kita promosikan adalah produk domestik kita sendiri , dari mulai sandal jepit/bakiak...sampai barang kerajinan2 , hingga menyentuh produk tehnologi nya sendiri. Jangan jualan mercy atau bmw ....sama aja boong kan..?
Ini yg sering saya tentang bung, ketika vendor perangkat lunak masuk ke kampus dg "slogan" memintarkan mahasiswa dan membuat mahasiswa siap pakai.

Padahal niatnya "mahasiswa siap beli barang mereka" he he he he Biar lebih mantap, diberi gelar "duta besar A, B" buat si mahasiswa itu biar makin semangat mempromosikan teknologi tersebut. Mau tidak mau membuat pikiran saya ke zaman kolonial saja.

Indonesia pasar besar, ndak herang vendor seperti Microsoft, Oracle, dsb memiliki jabatan utk "government dan education relation officer".
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Jadi orang Indonesia posisinya tak lebih tak kurang sebagai "penjahitnya" saja (karena upah buruh disini masih dianggap bersaing) . Tetapi karena sekarang terjadi "tren" menuntut kenaikan upah (UMR) , ditambah lagi dipicu oleh kebutuhan biaya hidup yang semakin mahal , maka biaya produksi juga menuntut menjadi naik meninggi bukan?, itu yang menyebabkan akhirnya banyak pesanan yang pindah ke daratan China atau lainnya (yang lebih murah cost nya)
Betul bung, seharunya yang difikirkan dalam value added itu bukan sekedar "berapa besar total nilai di industri tersebut yang berputar" (misal berapa nilai export)

Tetapi berapa nilai insentif ekonomi lokal (pendekatan ini yg banyak dipakai di negara Eropa dalam memilih milih industri). Jadi dalam pendekatna ini akan diperhatikan berapa prosen keterlibatan lokal dan berapa prosen duit itu "muter di dalam"

Jangan sampe industri itu tumbuh banyak "export" tetapi sebetulnya komponen lokalnya rendah. Sama aja makan devisa negara.
imw85 wrote on Jul 10
Ibu saya kerja di dinas koperasi dan KUKM, beliau sering bilang sama saya bahwa banyak perusahaan produk lokal yang berpotensi hancur karena tidak bisa menyesuaikan harga jual (dan tentunya kualitas) dengan kemampuan beli konsumen lokal.... dan akhirnya hanya jadi perusahaan export oriented... dan bangsa kita....produk RRC lagi, produk RRC lagi..
Soal garment, sering kritis dan ngomel pada persh sepertI dari RRC yg berani saingan ongkos produksi.

Tapi jarang dari kita kritis ama persh dunia, yg seenak udelnya membeli disain dari Indonesia secara murah dan menggunakannya semena-mena. Memang sah saja sih lha mereka sudah bayar "putus" tapi mbok ya dihargai tuh karya cipta orang lain.

Giliran kita bikin mirip dikit, ditekan masuk piracy list, giliran mereka memakai disain kita malah "bangga" karena disainer kita diakui dunia.

imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Kita mulai aja ngobrol2 dan diskusi2 diberbagi tempat yang bisa dilakukan , dengan membiasakan diri untuk mau "mengeritiki diri sendiri" dulu. Tahap kedua mungkin melihat "kenyataan" tanpa pake' kacamata yang bisa di "setel" , yang selalu membuat pemandangan dihadapan nampak biru cerah / indah terlihat dimata.
Mengajukan cermin itu sering diomelin orang, sebab bikin keliatan jeleknya diri sendiri :-)

Sebagai contoh nanti akan kelihatan mana kebijakan lalu yg salah, "idola lalu" yg salah dsb.

Salah ya wajar, manusia je he he he
imw85 wrote on Jul 10
Tapi saya punya kabar baik om, masih banyak kok anak2 yang amat bangga dengan produk lokal (con: merchandise band lokal, baju2 lokal, batik, dan muski lokal).....

Kalo di kalangan saya mah memang gerakan "DO IT YOURSELF" dan "MAKE IT YOURSELF" emang jadi pilihan yang bagus dan menggiurkan...
Sudah saatnya kita mulai memilih "panutan" yg bersemagat swadesi bukan sekedar panutan yg berbaju dan penampilan keren saja.

imw85 wrote on Jul 10
jsops said
, kembali lagi ini kan soal dumping2an harga kan..? Mana action deperdag/industri Republik Indonesia.
Indonesia kan menganut "pasar bebas" jadi tidak ada peraturan utk menentukan harga maksimal dan minimal.

Di negara Jerman yg bersifat pasar bebas sosialis, harga ada batasnya yg dikontrol pemerintah. Jadi sulit strategi dumping dumpingan, ada polisi yang secara rutin memeriksa harga di pasar dan supermarket. Harga di supermarket tidak boleh kurang dari batas tertentu (bisa bisa mematikan pasar tradisional).

Barang lokal dilindungi dari barang import yg lebih murah (misal dalam proyek pemerintah) dg pertimbangan nilai insentif ekonomi lokal (bukan sekedar pertimbangan mana harga paling murah)
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Disitulah Bung Karno lalu terkesan "menutup buku" yang belum jadi ...dan mengalihkan issue2 nasional untuk urusan pertikaian fisik dengan Malaysia / merebut Irian dan lain2 .Demikian juga Pak Harto .
Seingat saya di pidato Bung Karno di BPUPKI kan memang yang penting merdeka dulu, dan "tetek bengek" akan dibicarakan kemudian. Sayangnya tetek bengek ini ndak tersentuh-sentuh lagi.
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
i kalau ditekuni dengan baik...rasanya akan jauh lebih positif. Sebab kita sudah berhasil melepaskan ketergantungan .
Prinsip rasa bebas dari ketergantungan ini belum begitu dominan dalam pertimbangan kebijakan di Indonesia. Sehingga kesan pragmatis lebih dominan

Keputusan A dibanding B lebih murah dan bisa bekerja (apakah nanti bergantung atau tidak itu soal lain)

Saya termasuk yg tidak suka pendekatan pragmatis yg mengabaikan kemungkinan jadi tergantung (menurut saya, kita harus mandiri donk). Misal ketika saya duduk pada badan yg menentukan rancangan "standard profesi TI" di draft yang ada, sangat simple sekali dan akan mendorong ke arah 1 produk saja. Jadi Anda akan lulus profesi A dan anda akan tergantung pada produk A.

Dan yang oke oke saja dg kondisi seperti itu lebih banyak daripada yang kritis.
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
Ya costnya lebih rendah, tapi dampaknya ? he he he menurut saya iklan di Internet bukan substitusi iklan di dunia konventional. Tapi sebagai pelengkap (bukan pelengkap penderita lho)
hm..karena filosofi dasarnya memang bukan untuk masang iklan ya..
Mungkin kalo iklan "layanan masyarakat" lebih pas .

Kalo begitu harus pake "slogan" misalnya : Pakailah celana dalam bikinan Kerawang merk. asoi , sebab membuat otak kita semakin encer ....hehehe..!
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
kalau nafas kolaborasi tidak ada, yg ada malah colong-colongan he eh eh ehe he

Sebagai contoh saya tidak ingin cari yg muluk muluk, di lembaga pendidikan saja (yg harusnya lebih "smart" memanfaatkannya). Internet masih sebagai pengganti media komunikasi mahal (fax, email dsb).

Keterkaitan dg TETE yg saya sebutkan, ambil contoh situs kampus. Masih minim kampus yg membuka hasil karya misal materi kuliah, skripsi dsb. Padahal dg membuka ini "awal kolaborasi" bisa dilakukan.

Semangat "It is mine" masih lebih kental, padahal semangat ini bukan semangat awal Internet. Maklum kita pengennya lumpat mlulu, Internet for bussiness, Internet for ini, dan itu.
Ini yang parah , kalau ditilik dari filosofi tehnologi internet itu sendiri.
Ketika internet sekedar dijadikan temuan bagi terobosan bussines informasi , maka internet menjadi "senyawa" dengan bussines bagi pendidikan yang memang sudah salah kaprah.

Kelihatan sekali bung..masyarakat dengan terbiasa sudah membanding-bandingkan kalau lulusan ITB itu pasti cepet dapet kerja misalnya , dibanding dari UI atau lainnya . Hehe...sekolah koq hanya dianggap tempat untuk melengkapi persyaratan untuk bisa kerja.!
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
Nah kita (termasuk institusi pendidikan dibiayai negara) ngotot minta pendidikan murah tetapi tidak mau melakukan pekerjaan rumah di sisinya. Ndak percaya, lihat institusi pendidikan yang didanai pemerintah dan lihat ketidak efisienannya.
Bisa lebih spesifik bung...pekerjaan rumah yg dimaksud , secara definitif
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
Ini yg sering saya tentang bung, ketika vendor perangkat lunak masuk ke kampus dg "slogan" memintarkan mahasiswa dan membuat mahasiswa siap pakai.

Padahal niatnya "mahasiswa siap beli barang mereka" he he he he Biar lebih mantap, diberi gelar "duta besar A, B" buat si mahasiswa itu biar makin semangat mempromosikan teknologi tersebut. Mau tidak mau membuat pikiran saya ke zaman kolonial saja.

Indonesia pasar besar, ndak herang vendor seperti Microsoft, Oracle, dsb memiliki jabatan utk "government dan education relation officer".
Koran Kompas hari ini .."berita besar" tentang 3 mahasiswa ITB yang mendapat penghargaan oleh Microsoft atas "kejeniusannya" ...katanya sih gitu...!

Hebring dah...mari kita berterimakasih sama Microsoft yang telah berhasil mencerdaskan bangsa Indonesia .
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
Mengajukan cermin itu sering diomelin orang, sebab bikin keliatan jeleknya diri sendiri :-)

Sebagai contoh nanti akan kelihatan mana kebijakan lalu yg salah, "idola lalu" yg salah dsb.

Salah ya wajar, manusia je he he he
Karena profesi seniman itu memang tugas pokok utamanya membuat "CERMIN" yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya . Maka saya dari dulu sudah terlatih dan terbiasa ....untuk di sinis-in sama orang.

Dianggep "reseh" ... dan rewel , tapi ya biariiin aja saya reseh dan rewel ...sampai "kuping kalian" putus kalo perlu.. hehehe
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
ndonesia kan menganut "pasar bebas" jadi tidak ada peraturan utk menentukan harga maksimal dan minimal.
Masalh pokoknya kan ada disini..., yang disebut "pasar bebas" itu harusnya punya definisi yang lebih rinci dan jelas . Sebab biar bagaimanapun juga ..kita kan hidup disebuah Negara yang berdaulat . Dan daulat tersebut kan sudah jelas adalah daulat untuk rakyat .

apa kita yang salah menafsirkan teks konstitusi itu?
jsops wrote on Jul 10
imw85 said
Misal ketika saya duduk pada badan yg menentukan rancangan "standard profesi TI" di draft yang ada, sangat simple sekali dan akan mendorong ke arah 1 produk saja. Jadi Anda akan lulus profesi A dan anda akan tergantung pada produk A.

Dan yang oke oke saja dg kondisi seperti itu lebih banyak daripada yang kritis.
Bukankah mustinya SBY mereformasi orang-orang dengan spesifikasi mutu yang seperti itu bung?
jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10
Apa perlu di bikinin lagu khusus untuk SBY , seperti "Bento" gitu ,misalnya? Biar ybs cepet menindak orang2 yang butut tersebut.... apa jangan2 orang2 butut itu malah sudah keburu jadi menteri2? hehehehe.., puyeng lage dah!
indraicha wrote on Jul 10
imw85 said
Indonesia kan menganut "pasar bebas" jadi tidak ada peraturan utk menentukan harga maksimal dan minimal.

Di negara Jerman yg bersifat pasar bebas sosialis, harga ada batasnya yg dikontrol pemerintah. Jadi sulit strategi dumping dumpingan, ada polisi yang secara rutin memeriksa harga di pasar dan supermarket. Harga di supermarket tidak boleh kurang dari batas tertentu (bisa bisa mematikan pasar tradisional).

Barang lokal dilindungi dari barang import yg lebih murah (misal dalam proyek pemerintah) dg pertimbangan nilai insentif ekonomi lokal (bukan sekedar pertimbangan mana harga paling murah)
Price floor yang ditetapkan sebagai salah satu alat proteksi produksi lokal ....

Bagus sih, tapi menurut sumber saya sih, selama harga-harga produk lokal belum terjangkau dan para produsen lokal juga belum bisa menemukan formulasi untuk menyejajarkan harga dengan dayabeli masyarakat, mungkin bakal tetep sulit...

Tapi kita bangsa besar, dengan jumlah penduduk yang besar, pasti kuantitas produsen pinter juga banyak...

Kembali pada murahnya pendidikan..
indraicha wrote on Jul 10
imw85 said
Soal garment, sering kritis dan ngomel pada persh sepertI dari RRC yg berani saingan ongkos produksi.

Tapi jarang dari kita kritis ama persh dunia, yg seenak udelnya membeli disain dari Indonesia secara murah dan menggunakannya semena-mena. Memang sah saja sih lha mereka sudah bayar "putus" tapi mbok ya dihargai tuh karya cipta orang lain.

Giliran kita bikin mirip dikit, ditekan masuk piracy list, giliran mereka memakai disain kita malah "bangga" karena disainer kita diakui dunia.

Kurangnya pemahaman tentang untung-rugi penjualan hak pemakaian atas sebuah karya cipta....

Contohnya anak cucu Charlie Chaplin yang bisa hidup enak berkat manajemen hak cipta yang bagus....
jsops wrote on Jul 10, edited on Jul 10
Bagus sih, tapi menurut sumber saya sih, selama harga-harga produk lokal belum terjangkau dan para produsen lokal juga belum bisa menemukan formulasi untuk menyejajarkan harga dengan dayabeli masyarakat, mungkin bakal tetep sulit...
Harga produk lokal menjadi tinggi sebab bahan2 material pendukungnya mayoritas harus di import. (tidak ada kesadaran untuk membangun industri infrastruktur, semuanya mau berpikir "mercusuar") Coba...mari kita tengok di Kawasan pulogadung misalnya , adakah pabrik untuk bikin "gotri" misalnya? atau "engsel pintu" dengan kualitas yang bagus , padahal kita punya Krakatau Steel yang jelas-jelas adalah "Industri Stategis". Ini masalahnya bukan? kita pengen langsung bisa bikin mobil sampai kapal terbang , padahal bikin bautnya aja nggak bisa.

"Mindset..!", itu masalahnya . Itu yang membuat orang Indonesia meskipun jumlahnya banyak ..dan banyak juga yang pintar2...tapi kalo cara berpikirnya seperti itu semua...ya sama aja boong kan?

Apa gunanya banyak orang pintar...kalau semuanya jalan sendiri-sendiri ...ngaco pula.. :)
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
Pakailah celana dalam bikinan Kerawang merk. asoi , sebab membuat otak kita semakin encer ....hehehe..!
Asoi geboy.... goyang geboy memang paling asoi he he he ketik di google "geboy site:youtube.com"
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
sekolah koq hanya dianggap tempat untuk melengkapi persyaratan untuk bisa kerja.!
Kalau kembali ke arti dan filosofi pendidikan Universitas, sebetulnya Uni itu tidak pernah menjanjikan seperti itu lho :-)

imw85 wrote on Jul 10
jsops said
.pekerjaan rumah yg dimaksud
Seperti kata pepatah, modal 100 ya jangan dipakai 150. Artinya kampus harus belajar efisiensi dulu, jangan main naikin SPP hanya utk mengejar tekornya biaya akibat subsidi dikurangi