Blog EntryRakyat Menunggu Jul 14, '08 8:16 PM
for everyone





Rakyat menunggu ! , apakah sebenarnya yang ditunggu...?

Politik adalah mekanisme "debate" untuk digunakan agar tercipta alat-alat birokrasi yang dapat bekerja menciptakan kesejahteraan hidup bagi masyarakatnya . Legitimasi keberadaan berbagai tatanan sistim birokrasi seperti diataslah yang kemudian bisa kita pahami sebagai simbol kekuasaan sebuah pemerintahan.

Jadi pada intinya , kekuasaan itu sendiri memang diperlukan namun dengan pola struktur yang dibangun diatas landasan pola berpikir seperti diatas tadi. Sekali lagi disinilah letak berbagai “kekurangan” masyarakat kita selama ini . Kita semua masih “terpesona” untuk tergesa-gesa dan selalu berharap pada “hasil” yang ingin segera bisa dicapai (lalu akhirnya sering terjebak dalam siklus euphoria) , kita masih senang berbondong-bondong mengusung slogan meng-atas namakan kelompok maupun membuat partai-partai baru (atas nama perubahan) , tanpa mau melengkapi berbagai pra-syarat yang dibutuhkan bagi terciptanya sebuah mesin birokrasi / kekuasaan  yang ideal . (hakekat yang dibutuhkan bagi perubahan itu sendiri)


Rebut dulu kekuasaan..!, lalu kemudian....seperti biasanya .. berhenti dan hanya cukup sampai disitulah selama ini kita memahami arti demokrasi bagi sistim pemerintahan yang dianggap belum / tidak memuaskan.

Rakyat menunggu ! , apakah sebenarnya yang ditunggu...?

Setelah melewati beberapa periode pergantian pemerintahan di Indonesia , sepertinya rakyat sudah "belajar" lebih baik dari sebelumnya , benarkah dugaan tersebut..? . Mari kita pastikan nanti ditahun 2009 .  Harus diharapkan ,...walau juga harus diakui bahwa masih teramat banyak kebutuhan "ideal" untuk bisa merubah kondisi "keterpurukan" berbalik menjadi kondisi "kebangkitan" yang diharapkan , karena masih banyak hal yang harus dilengkapi oleh berbagai tatanan sosial di lingkungan masyarakat itu sendiri .

Menjelang masa-masa pemilihan umum yang tinggal beberapa saat lagi ini , maka secara ringkas bisa kita sederhanakan definisi atau kriteria yang diperlukan bagi pemimpin yang akan menjadi nakhoda "kapal induk" Indonesia 5 tahun mendatang. Yaitu , seorang pemimpin dengan jiwa raga yang "siap" untuk dinobatkan , "bagaikan" ingin menobatkan seorang calon yang kelak bisa disebut sebagai "seorang pahlawan".

Kalimat tersebut bermakna bahwa , yang bersangkutan harus berani dan mampu memberikan tugas dan mandat secara  "penuh" kepada jajaran menterinya , serta memikul dan bertanggung jawab penuh atas segala akibat yang ditimbulkan oleh pembantu-pembantu bagi fungsi tugasnya sendiri sebagai seorang pemimpin. Dia akan bertindak tegas berani bersikap menghadapi berbagai tekanan-tekanan lawan politiknya walaupun harus memenjarakan keluarganya sendiri yang telah mencederai hukum atau bagi mereka yang bisa dikatagorikan melukai rasa keadilan masyarakat bangsa-nya sendiri.

Dia harus berdiri tegak diatas mimbar rakyat , untuk memberi perintah dan menunjukkan perilaku yang patut dicontoh , sekaligus menyediakan dirinya untuk dijadikan "sasaran tembak" bila dia memang terbukti bersalah atau menjilat ludahnya sendiri. Sekali lagi dia harus berjiwa kesatria bukan berperilaku seperti ponggawa .

Adakah...diantara kita orang seperti itu ? Mari kita berkesadaran mengajak masyarakat yang belum terpenuhi pemahamannya , bagaimana seharusnya memilih calon pemimpinnya dijaman ini. Mari kita beritahu masyarakat untuk berhenti ikut-ikutan menjadi gerombolan massa yang sekedar hanya menggunakan simbol-simbol apalagi hanya berkadar baju seragam.

Rakyat menunggu ! , apakah sebenarnya yang ditunggu...?

Pemimpin yang "berani mati" demi rakyatnya , se-sederhana itukah..? Ya...sederhana ! nggak perlu neko-neko mbulet berputar-putar kesana kemari.

Ini catatan harian seniman bukan barisan kalimat "elok" yang lazimnya diajarkan dibangku sekolahan dan berbagai pendidikan agar bisa mendapat nilai/ponten untuk meraih predikat (pujian) .

salam.

43 CommentsChronological   Reverse   Threaded
phadli23 wrote on Jul 14
Rakyat menunggu ! , apakah sebenarnya yang ditunggu…?

tidak ada yang harus ditunggu, orang2 yang berkutat ditingkat atas hanya mengumbar janji. namun harapan memang harus diusung. untuk bangkit
kambingkatro wrote on Jul 14
Parpol2 baru kalau ditanya siapa pemimpin yg mrk akan usung nanti , jwbnya kita akan lihat nanti , gw yakin mrk akan ngikutin arus juga. Dukung siapa yg kuat (yg pasti yg lama lagi) dgn harapan mrk akan kebagian posisi atau minimal project lah .
Kalau sdh bgini ga akan ada perubahan juga....
ugroseno wrote on Jul 14
rakyat menunggu janji pemimpin yang sejati mas.....
sejati dalam arti mau menjadi abdi dan bukan tuan
damuhbening wrote on Jul 14
Apakah orang seperti itu akan berani menentang sistem yang sudah berjalan seperti yang kita lihat sekarang ini? Bawahan lebih galak dari atasan, atasannya cuma mesam-mesam sambil mengatur arah tarian tangannya di atas podium. Mungkin tiap saat hanya berlatih "besok gerakan tanganku kemana ya?"

Sementara yang mendampinginya cuma cecoaran kesana-kemari gak ada juntrungannya.

Adakah seorang pemimpin yang berani menegur wakilnya sendiri?? Bahkan mengur dirinya sendiri?

Semoga mas, aku juga berharap 2009 ada perubahan yang lebih baik
jsops wrote on Jul 14
tidak ada yang harus ditunggu, orang2 yang berkutat ditingkat atas hanya mengumbar janji.
artinya mereka harus "diturunin" dong kalau sudah tau cuman ngumbar janji. Bagaimana caranya..ada ide?
jsops wrote on Jul 14
Parpol2 baru kalau ditanya siapa pemimpin yg mrk akan usung nanti , jwbnya kita akan lihat nanti , gw yakin mrk akan ngikutin arus juga. Dukung siapa yg kuat (yg pasti yg lama lagi) dgn harapan mrk akan kebagian posisi atau minimal project lah .
Kalau sdh bgini ga akan ada perubahan juga....
sepertinya dugaan anda banyak benernya..
jsops wrote on Jul 14
rakyat menunggu janji pemimpin yang sejati mas.....
sejati dalam arti mau menjadi abdi dan bukan tuan
bisa lebih spesifik mas..menjadi "abdi" tersebut dalam perspektif anda..
jsops wrote on Jul 14
Semoga mas, aku juga berharap 2009 ada perubahan yang lebih baik
intinya memang itu sasaran fokus kita semua ..namun bagaimanakah caranya mengkondisikan suasana kehidupan disekeliling kita , agar sistem bergerak kesana ?
ugroseno wrote on Jul 14
jsops said
bisa lebih spesifik mas..menjadi "abdi" tersebut dalam perspektif anda..
maksudnya seperti yang pernah Umar bin Khatab ra , lakukan...
saat beliau diangkat menjadi Khalifah beliau malah bilang inalilhahi...takut ga bisa memegang amanah yang diembannya.
bahkan di satu riwayat pernah Umar memikul sendiri gandunm untuk dibagi ke fakir miskin, ada punggawa yang mau membantunya tapi malah di jawab "jangan, karena aku tidak mau memikul beban ini di kelak di Akhirat"
ya tentu saja pemimpin sekarang tidak harus seperti itu....mungkin itu hanya sebuah analogi saja. yang jelas para pejabat sekarang, walo tidak semuanya, seolah olah bertindak sebagai raja...
ugroseno wrote on Jul 14
satu lagi untuk parpol sekarang......
yah dah berkali kali kita mengalami pemilu, tapi parpol tetep aja untuk golongannya beda dengan saat kampanye.
saya yakin mas, saat ini rakyat udah jenuh dan pinter. kalopun saat kampanye banyak rakyat yg datang, itu hanya mau liat panggung dan artisnya aja.
elljodie wrote on Jul 14
aneh juga... reformasi dah lewat... negeri ini masih aja dirundung kasus, blom lagi masih banyak pejabat yang ga sadar diri ma tugas kewajibannya sebagai pelayan rakyat... udah gitu sang jenderal diem aja... ga bisa ngapa2in... tambah bangkrut & kusut aja deee... kalo begini terus, tidak hanya menunggu om... tapi rakyat juga harus/kudu berani 'menggugat' negara dan penyelenggara negara... sebab hak2 mereka tidak/belum terpenuhi...
revolusi kali yakkk???

BUNUH KORUPTOR!!!
TROMBOSHIT
jsops wrote on Jul 14
maksudnya seperti yang pernah Umar bin Khatab ra , lakukan...
saat beliau diangkat menjadi Khalifah beliau malah bilang inalilhahi...takut ga bisa memegang amanah yang diembannya.
bahkan di satu riwayat pernah Umar memikul sendiri gandunm untuk dibagi ke fakir miskin, ada punggawa yang mau membantunya tapi malah di jawab "jangan, karena aku tidak mau memikul beban ini di kelak di Akhirat"
ya tentu saja pemimpin sekarang tidak harus seperti itu....mungkin itu hanya sebuah analogi saja. yang jelas para pejabat sekarang, walo tidak semuanya, seolah olah bertindak sebagai raja...
iya..saya paham maksudnya.

Mitos (nonsense) dijadikan pemicu motivasi keinginan (mimpi) , sementara contoh-contoh baik perilaku peradaban (agama dsb) malah ditempatkan hanya sebagai "mitos" belaka.
stressmetal wrote on Jul 14
rakyat menunggu....
jika yang ditunggu tak kunjung datang... rakyat harus bergerak...
jsops wrote on Jul 14
satu lagi untuk parpol sekarang......
yah dah berkali kali kita mengalami pemilu, tapi parpol tetep aja untuk golongannya beda dengan saat kampanye.
saya yakin mas, saat ini rakyat udah jenuh dan pinter. kalopun saat kampanye banyak rakyat yg datang, itu hanya mau liat panggung dan artisnya aja.
a. karena parpol itu kan seharusnya "suara kesadaran berpolitik" rakyatnya bukan? , apakah itu sudah terpenuhi ? Saya yakin kita sepakat "belum" jawabannya. Lalu..bagaimana sikap kita secara individu sebagai rakyat...kita juga rakyat kan?

b. Rakyat yang jenuh atau bahkan pinter , kalau hanya sekedar berpartisipasi untuk urusan "hiburan" panggung2 ... terbukti nggak ada gunanya kan? bagi perbaikan itu sendiri . Subyektivitas saya mengatakan hal tersebut justru "pembodohan" oleh diri kita sendiri...menurut anda?
jsops wrote on Jul 14, edited on Jul 14
aneh juga... reformasi dah lewat... negeri ini masih aja dirundung kasus, blom lagi masih banyak pejabat yang ga sadar diri ma tugas kewajibannya sebagai pelayan rakyat... udah gitu sang jenderal diem aja... ga bisa ngapa2in... tambah bangkrut & kusut aja deee... kalo begini terus, tidak hanya menunggu om... tapi rakyat juga harus/kudu berani 'menggugat' negara dan penyelenggara negara... sebab hak2 mereka tidak/belum terpenuhi...
revolusi kali yakkk???

BUNUH KORUPTOR!!!
TROMBOSHIT
Revolusi.., mungkin tanpa kita sadari..kita semua sudah masuk ke babak "revolusi" yang dimaksud. Revolusi yang sedang berlaku sekarang adalah kesadaran yang muncul untuk merevolusi pikiran dalam otak kita masing2 ...rasanya sih gitu ya..?

Dia hanya bermakna "menghasilkan perubahan" (semoga saja yang baik) , jika revolusi pikiran diatas di implementasikan dalam tindakan konkrit bukan?

Menurut anda mas elljodie , langkah seperti apa yang bisa anda kembangkan dalam benak anda sendiri..tentang "manifesto" dari revolusi tersebut.
jsops wrote on Jul 14
rakyat menunggu....
jika yang ditunggu tak kunjung datang... rakyat harus bergerak...
saya menangkap "hawa" turun ke jalan secara massive ... apakah betul demikian yang anda maksudkan mas?
ugroseno wrote on Jul 14
jsops said
a. karena parpol itu kan seharusnya "suara kesadaran berpolitik" rakyatnya bukan? , apakah itu sudah terpenuhi ? Saya yakin kita sepakat "belum" jawabannya. Lalu..bagaimana sikap kita secara individu sebagai rakyat...kita juga rakyat kan?

b. Rakyat yang jenuh atau bahkan pinter , kalau hanya sekedar berpartisipasi untuk urusan "hiburan" panggung2 ... terbukti nggak ada gunanya kan? bagi perbaikan itu sendiri . Subyektivitas saya mengatakan hal tersebut justru "pembodohan" oleh diri kita sendiri...menurut anda?
a. mungkin yang perlu kita lakukan sebagai rakyat kita tetep harus merakyat, namun bukan berarti kita tidak peka terhadap apa yang terjadi dengan kesadaran politik kita. RAkyat itu memiliki power, bisa menjadi pengontrol dan bahkan pemeriksa...sayangnya ini belom maksimal.
Jelas rakyat mnginginkan sebuah alam politik yang demokratis bukan yang hanya menguntungkan satu golongnan saja.

b.sepertinya kalo dibilang pembodohan kok tidak 100 % benar mas, datang dan liat hiburan saat kampanye mungkin hanya satu alternatif rakyt untuk lupa sejenak dengan susahnya hidup, bayangkan rakyat yang hanya diberi janji manis saat kampnye ternyata begitu habis pemilu klo mau sekolah tetep mahal, klo mau makan harus tetep raskin dsb.
bila ha spt ini tetep berlangsung bisa jadi banyak rakyat ga mau milih alias golput mas...bukan karena pembdohan tapi karena mereka anggap siapapun yang menang pemilu ujungn2nya tetep sama dengan yang sudah2...dan ini terbukti kan,

elljodie wrote on Jul 14
jsops said
langkah seperti apa yang bisa anda kembangkan dalam benak anda sendiri..tentang "manifesto" dari revolusi tersebut
revolusi pendidikan saya kira omm... sebab selama ini pendidikan kita gak ubahnya cuma seremonial belaka buat mendapatkan ijazah. banyak orang bergelar professor, doktor, ahli ekonomi banyak, ahli tata pemerintahan banyak bejibun... tapi ga ada sumbangsihna buat kebangkitan bangsa yang terpuruk, yang ada mereka asyik mengejar posisi untuk akhirnya memperkaya diri... padahal sebagai kaum intelektual, selayaknya memiliki sense of crisis bangsa... dan merekalah yang seharusnya di garis depan untuk menggugat pemerintah...
atau... rakyat sendiri yang mengambil alih...
stressmetal wrote on Jul 14, edited on Jul 14
jsops said
saya menangkap "hawa" turun ke jalan secara massive ... apakah betul demikian yang anda maksudkan mas?
nggak selalu turun ke jalan dan berdemo sih mas... saya rasa kurang terlalu efektif.. ujung2nya malah berantem ama aparat...
bergerak dengan otak untuk revolusi...
tapi belum ada yang bisa atau lebih tepatnya belum ada yang berani (mungkin)
jsops wrote on Jul 15, edited on Jul 15
a. mungkin yang perlu kita lakukan sebagai rakyat kita tetep harus merakyat, namun bukan berarti kita tidak peka terhadap apa yang terjadi dengan kesadaran politik kita. RAkyat itu memiliki power, bisa menjadi pengontrol dan bahkan pemeriksa...sayangnya ini belom maksimal.
Jelas rakyat mnginginkan sebuah alam politik yang demokratis bukan yang hanya menguntungkan satu golongnan saja.

b.sepertinya kalo dibilang pembodohan kok tidak 100 % benar mas, datang dan liat hiburan saat kampanye mungkin hanya satu alternatif rakyt untuk lupa sejenak dengan susahnya hidup, bayangkan rakyat yang hanya diberi janji manis saat kampnye ternyata begitu habis pemilu klo mau sekolah tetep mahal, klo mau makan harus tetep raskin dsb.
bila ha spt ini tetep berlangsung bisa jadi banyak rakyat ga mau milih alias golput mas...bukan karena pembdohan tapi karena mereka anggap siapapun yang menang pemilu ujungn2nya tetep sama dengan yang sudah2...dan ini terbukti kan,

untuk kolom (a) saya sepakat aja tuh mas secara prinsip memang seharusnya demikian.

kolom (b) yang saya maksud dengan "pembodohan" , adalah lama kelamaan masyarakat yang acuh tersebut (karena terlalu sering merasa dikecewakan) tergiring berperilaku menjadi fatalism oportunis. Mereka menjadi kelompok orang yang "masa bodoh" dengan berbagai "jebakan-jabakan" yang dibuat untuk menggelontorkan strategi penitrasi "pikiran" oleh golongan2 politik yang ingin berkuasa. Masyarakat tersebut hanya berpikir "yang penting bagaimana bisa menghibur diri disela-sela kesulitan yang ada..mas".

Padahal "kesulitan" tidak akan berhenti selama "awarness" secara kolektif bisa diberdayakan atau bisa disebut dengan istilah kata lainnya memberdayakan "daulat hidup" . Yang artinya hidup itu "tanggung-jawab" bukan sekedar untuk mengisi perut dan untuk bisa bernafas.

(seblmnya maaf, sy kan udah bilang itu subyektivitas saya saja ya..)

Persis juga dengan slogan2 "TERIMA SAJA DUITNYA NAMUN JANGAN COBLOS GAMBARNYA" Maksudnya mungkin mau memberi tau bahwa "jangan mudah tertipu...tapi kita tipu saja mereka"...gitu kan..?

Tetapi yang terjadi di lapangan adalah ... justru membuat/mengajarkan orang menjadi "oportunis yang tidak bertanggung jawab" (paling tidak secara moralitas)
jsops wrote on Jul 15
revolusi pendidikan saya kira omm... sebab selama ini pendidikan kita gak ubahnya cuma seremonial belaka buat mendapatkan ijazah. banyak orang bergelar professor, doktor, ahli ekonomi banyak, ahli tata pemerintahan banyak bejibun... tapi ga ada sumbangsihna buat kebangkitan bangsa yang terpuruk, yang ada mereka asyik mengejar posisi untuk akhirnya memperkaya diri... padahal sebagai kaum intelektual, selayaknya memiliki sense of crisis bangsa... dan merekalah yang seharusnya di garis depan untuk menggugat pemerintah...
atau... rakyat sendiri yang mengambil alih...
saya setuju mas..pedidikan adalah strategi untuk menyusun rencana berjangka panjang . Namun sistim pendidikan yang ideal tersebut juga baru bisa dilaksanakan bila ada "polical will" (kehendak politik) dari sistim pemerintahannya kan..? Artinya itu jangka panjangnya , nah...jangka pendeknya..?
jsops wrote on Jul 15
nggak selalu turun ke jalan dan berdemo sih mas... saya rasa kurang terlalu efektif.. ujung2nya malah berantem ama aparat...
bergerak dengan otak untuk revolusi...
tapi belum ada yang bisa atau lebih tepatnya belum ada yang berani (mungkin)
atau belum ada kesepakatan secara kolektif (holistik) kali ya
tembangpribumi wrote on Jul 15, edited on Jul 15
Pemilu 2009? Jelas acara utama tidur!! karena yg sudah maju sekarang orang2 Orba semua..Percuma!!! Btw, ada yang sampai mukanya disuntik Botox segala . Emangnya Pemilihan Presiden sama dengan Pemilihan Model gitu?
jsops wrote on Jul 15, edited on Jul 15
Pemilu 2009? Jelas acara utama tidur!! karena yg sudah maju sekarang orang2 Orba semua..Percuma!!! Btw, ada yang sampai mukanya disuntik Botox segala . Emangnya Pemilihan Presiden sama dengan Pemilihan Model gitu?
Hahahaha..... ini suara dari golongan masyarakat yang kecewa dan selalu dikecewakan oleh sistim berpolitik di Indonesia . Nggak apa-apa mbak...!
Orang kecewapun punya HAK untuk marah dan harus ditampung secara manusiawi juga . Dan justru harus dijadikan signal / indikator atas tingkat "kerusakan" yang sudah terjadi .
permenkaretmolor wrote on Jul 15
jsops said
Rakyat menunggu ! , apakah sebenarnya yang ditunggu...?
jadi inget pidatonya bung Karno tentang satrio piningit ....:D

sebuah pidato yang ralistis dan masuk akal................
permenkaretmolor wrote on Jul 15
jsops said
Bagaimana caranya..ada ide?
hmmmm idenya harus banyak yang jelas..... :D

gimana cara nya biar banyak? caranya harus pinter..... ya walau ga pinter2 amat yang penting harus ngerti pokok permasalahan... baru bisa bikin ide yahud.....

nah kalo banyak ide yahud maka.... bisa dipilih ide yang terbaik.......

tetapi kalo pokok permasalahannya aja belum ngerti trus tambah ga banyak pengetahuan hla gimana bisa muncul ide...... ya ga om?
alamalam wrote on Jul 15
untuk tampil kepentas pemilihan harus masuk ke sistem, sedang sistem itu sendiri terlanjur kotor. orang2 yang benar2 rela mati tdk bisa masuk (kalaupun masuk jd 'kotor')

harus ada kontestan yang maju diluar kebusukan partai.
jsops wrote on Jul 15
hmmmm idenya harus banyak yang jelas..... :D

gimana cara nya biar banyak? caranya harus pinter..... ya walau ga pinter2 amat yang penting harus ngerti pokok permasalahan... baru bisa bikin ide yahud.....

nah kalo banyak ide yahud maka.... bisa dipilih ide yang terbaik.......

tetapi kalo pokok permasalahannya aja belum ngerti trus tambah ga banyak pengetahuan hla gimana bisa muncul ide...... ya ga om?
wah.... kalau 50 persen dari generasi muda (seluruhnya) bisa berpikir begitu , maka predikat "anak muda" adalah Agen Perubahan" sudah berfungsi sejak kemaren-kemaren !
jsops wrote on Jul 15
untuk tampil kepentas pemilihan harus masuk ke sistem, sedang sistem itu sendiri terlanjur kotor. orang2 yang benar2 rela mati tdk bisa masuk (kalaupun masuk jd 'kotor')

harus ada kontestan yang maju diluar kebusukan partai.
ada dua hal yang saya tangkap dari tulisan sampeyan mas,

a. sistem yang "kotor"
b. orang bersih yang sulit masuk sistem tanpa lewat partai .

lalu solusi anda?
alamalam wrote on Jul 15
jsops said
ada dua hal yang saya tangkap dari tulisan sampeyan mas,

a. sistem yang "kotor"
b. orang bersih yang sulit masuk sistem tanpa lewat partai .

lalu solusi anda?
aduh bang, saya malah pingin pemikiran abang,

tp secara awam:
a. jangan masuk ke sistem. saya gak tahu caranya.
b. saya setuju calon independen (meski bukan jaminan calon independen bakal baik, tapi setidaknya td kena partai.)
cuma ini butuh dana gede dan saya gak yakin si calon tidak pingin buru2 mbalikin 'modal'
permenkaretmolor wrote on Jul 15
jsops said
lalu solusi anda?
baru kepikaran ide segar soal nya baru bangun tidur :D

data yang di KPK, Bawas atau badan badan yang lain sebar semuanya ke publik beserta poto orang orang nya pasti deh yang korupsi ngacir takut sampe kepentut pentut alias takut setengah mati..... trus para wartawan kuntit semua orangya ... trus orangnya kalo ga siap dijalanan bisa mati digebukin ma tukang becak angkot ojek asongan dsb deh :D ...... bagus ga ide nya hehehehehehehehe .....
jsops wrote on Jul 15
a. jangan masuk ke sistem. saya gak tahu caranya.
b. saya setuju calon independen (meski bukan jaminan calon independen bakal baik, tapi setidaknya td kena partai.)
calon independen untuk bisa berusaha masuk sistem , harus dari perwakilan2 masyarakat ditingkat bawah kan? (akar rumput) . Justru itu yang kemaren "digagalkan" . Upaya DPD untuk merekrut orang2 non partisan bagi pemimpin2 lokalnya.

ok .. berarti belum ketemu mekanismenya ya..
jsops wrote on Jul 15
baru kepikaran ide segar soal nya baru bangun tidur :D

data yang di KPK, Bawas atau badan badan yang lain sebar semuanya ke publik beserta poto orang orang nya pasti deh yang korupsi ngacir takut sampe kepentut pentut alias takut setengah mati..... trus para wartawan kuntit semua orangya ... trus orangnya kalo ga siap dijalanan bisa mati digebukin ma tukang becak angkot ojek asongan dsb deh :D ...... bagus ga ide nya hehehehehehehehe .....
Rekonstruksi sosial ya..? hehehe !

Kalau di terapkan pada masyarakat yang masih belum "melek hukum/politik" hal itu bukannya "bensin" untuk membakar "lumbung?"

Terus kalo lumbung kebakaran semua , udah siap bakal mulai dari "nol" lagi...?
(tanpa ada jaminan bisa lebih baik atau hancur sama sekali) .
alamalam wrote on Jul 15
jsops said
berarti belum ketemu mekanismenya ya
jadi menerima yang sekarang?
jsops wrote on Jul 15
jadi menerima yang sekarang?
lhoh..hahaha , saya nanya ke anda dulu (pengen tau argumentasi / pendapat) orang lain dulu .... Kalau saya sendiri tentu punya "argumen" saya sendiri. Tapi kita kan harus kompetible dulu antar satu sama lainnya..kan?

Kalo di level internet (yg cuman segelintir) saja , kita udah menjumpai "perbedaan2" yang harus di kompromikan dulu ..., apalagi diluar sana mas... Logikanya gitu kan..?
alamalam wrote on Jul 15
jsops said
lhoh..hahaha , saya nanya ke anda dulu (pengen tau argumentasi / pendapat) orang lain dulu .... Kalau saya sendiri tentu punya "argumen" saya sendiri. Tapi kita kan harus kompetible dulu antar satu sama lainnya..kan?

Kalo di level internet (yg cuman segelintir) saja , kita udah menjumpai "perbedaan2" yang harus di kompromikan dulu ..., apalagi diluar sana mas... Logikanya gitu kan..?
woooo nghono tho.

ngene wae mas (jawa version)
sebelum ketemu sistem 'itu', golput dulu aja.
imw85 wrote on Jul 16
jsops said
Namun sistim pendidikan yang ideal tersebut juga baru bisa dilaksanakan bila ada "polical will" (kehendak politik)
Repotnya lagi banyak yg suka "instan" utk mendapatkan solusi sistem pendidikan yang katanya biar "siap pakai" dan jadi tenaga kerja, bisa-bisa pelajaran yang berbau humaniora nanti dihapuskan deh. He he he seperti yg di "milis sebelah itu". Diajak mikir koq malah minta indomie
imw85 wrote on Jul 16
jsops said
Agen Perubahan" s
Sayangnya agen perubahan utk "pemerannya" buat buat mind-setnya. Akhirnya "the same old song" deh yg terjadi.
imw85 wrote on Jul 16
... trus orangnya kalo ga siap dijalanan bisa mati digebukin ma tukang becak angkot ojek asongan dsb deh :D ...... bagus ga ide nya hehehehehehehehe .....
Bagus.. bagus ... ini namanya menegakkan "kebenaran" dg "ketidak benaran". he he he ealias menegakkan hukum dg cara melanggar hukum.
imw85 wrote on Jul 16
jsops said
erus kalo lumbung kebakaran semua , udah siap bakal mulai dari "nol" lagi...?
(tanpa ada jaminan bisa lebih baik atau hancur sama sekali) .
Bukannya ini yg selalu terjadi. Abis pada maunya bikin indomie sih :-)
permenkaretmolor wrote on Jul 16
hehehehehehe selama hukuman dan penghargaan ga ada yang tegak.... kan sama kaya rumah ga ada pegernya :D

nama nya juga ide dari pada ide yang ga jelas dan sulit..... labih baik ndeketin orang Bawas apa KPK apa lembaga2 yang laen trus kalo udah deket minta ijin penjem data nya kalo ga dikasih ya nyolong cara alus.... kan indonesia terkenal ama yang namanya hecker masak mereka diem aja sih? .... trus uploud ke internet ga usah bilang2 orang nya heuehehehehehehehehehehe.....

trus secara berantai di paste ke berbagai blog..... trus ujung2 nya internet dicabut di indonesia :((
jsops wrote on Jul 16
imw85 said
Bukannya ini yg selalu terjadi. Abis pada maunya bikin indomie sih :-)
hihihi
jsops wrote on Jul 16
hehehehehehe selama hukuman dan penghargaan ga ada yang tegak.... kan sama kaya rumah ga ada pegernya :D

nama nya juga ide dari pada ide yang ga jelas dan sulit..... labih baik ndeketin orang Bawas apa KPK apa lembaga2 yang laen trus kalo udah deket minta ijin penjem data nya kalo ga dikasih ya nyolong cara alus.... kan indonesia terkenal ama yang namanya hecker masak mereka diem aja sih? .... trus uploud ke internet ga usah bilang2 orang nya heuehehehehehehehehehehe.....

trus secara berantai di paste ke berbagai blog..... trus ujung2 nya internet dicabut di indonesia :((
sebetulnya agak2 oke juga tuh ide seperti itu . (black campaigne) buat orang2 yang memang udah hitam (tanpa hrs dihitamin lagi) hehehe

Masalahnya ., mereka jg nggak bodoh2 amat...., mereka juga ikutan ngebales ngelakuin "penyebaran" informasi sesat dengan cara yang serupa. Alih-alih kita yang semakin bingung....mana yang yg bener mana yg salah...hehehe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.