
BADAI PASTI BERLALU Siang hari itu saat saya sibuk sendiri dirumah menata peralatan stereo set Nakamichi kebanggaan saya dengan settingan power Marantz / EQ Soundcraft 16 band Stereo dan speaker KLH2+module analog bass computer yang tingkat tehnologinya untuk jaman itu sudah tergolong ‘wah’ . Muncul diruangan saya Chrisye sambil seperti biasanya cengar-cengir dan bersendau gurau dan juga seperti biasa :“peace man..” sambil telunjuk dua jarinya diangkat keatas . Dia datang tidak sendiri namun bersama Eros (sekarang double ‘r’) ya.Erros Djarot , seorang penyanyi yang saya juga sudah tau lewat Barongs Band nya tapi jujur saja , saya belum kenal bener . Lalu Chrisye memperkenalkan saya dengan dia sebelum akhirnya kita ngobrol -ngobrol lebih jauh lagi . Ruangan saya adalah sebuah ruangan 6 X 6 meter yang di isi oleh berbagai sarana kebutuhan saya dari mulai Piano akustik grand sampai stereo set tadi . Lalu dihubungkan dengan dua buah pintu masing-masing kekamar tidur saya dan satunya lagi ke ruang utama keluarga . Dan ada satu lagi pintu kearah luar rumah (keluar lewat samping). Chrisye mengatakan pada saya bahwa Erros dan dia sedang merencanakan untuk mengerjakan sebuah ilustrasi musik bagi film berjudul sama seperti artikel diatas . Dan pada intinya mereka mengajak saya agar mau bergabung bersama (bertiga) Mengingat saya memang semenjak itu selalu bersama Chrisye dalam bermusik maka tentu tawaran tersebut saya sambut oke-oke saja. Saya juga secara terang-terangan mengatakan nggak usah ngomongin duit kalau mau bermusik ..yang penting happy hehe.. Dan memang ternyata dugaan saya ada benarnya juga , memang nggak ada duitnya..alias kerja bakti dan malah kadang kita bertiga harus nombok sendiri. Lalu hari-hari berikutnya mereka berdua kerap kali datang untuk membahas notasi serta aransemen musik yang saya persiapkan. Seperti biasa Erros Djarot kalau lagi mengarang seperti orang kesurupan .. bernyanyi seenak perutnya sendiri dengan bahasa planet yang nggak jelas ditambah lagi gaya gemulai tangannya yang seperti anak-anak kecil sedang lomba deklamasi . Saya harus mengikuti running note yang keluar secara spontanitas dari mulutnya tersebut , saya harus menghitung sendiri dia sedang bermain di 4/4 bar atau 2/4 bar , yang kadang membingungkan adalah ketidak konsistensinya dia bernyanyi hehe . Tadi dia 2/4 …tiba tiba sekarang berubah jadi 3/4 ..Kalau sudah begitu biasanya Chrisye yang menengahi atau menjadi jurinya . Kalau nggak bisa nggak abis-abis dan semakin nggak jelas maunya apa. Kadang saya potong konsentrasi dia yang sedang seperti orang mabuk tersebut..[piano saya hentikan] lalu akan terdengar dia berteriak ” sialaaannn…eluu..!” kaget, hehe gayanya kayak orang dibangunin dari mimpi yang keenakan .. selanjutnya kita bertiga tertawa terbahak-bahak bersama . Kadang ngeselin juga ..sewaktu saya sedang asik-asiknya mencari formula chord (full konsentrasi) tiba-tiba tangannya menepak jari jari saya sambil sok tau ngomong “jari yang kelingking ini nggak usah dibunyiin aja..” . Gayanya itu lhoo..yang ngeselin , ngomongnya dengan serius sementara jari tangannya menahan kelingking saya yang sedang diposisi diatas tuts piano (anda kebayang kan?) Ya itulah Erros Djarot..“abis gw nggak tau namanya itu chord apa…yang gw tau bunyinya begitu lhooo..” itu..itu melulu dalilnya..hehe Begitulah proses awal membuat ilustrasi musik bagi sebuah film dengan judul Badai Pasti Berlalu . PROSES KREATIF KOMPISISI MELODY Secara garis besar ide atau benang merah lagu demi lagu memang sudah terbentuk berdasarkan kesinambungan atau continuity yang dibutuhkan gambar bagi sebuah alur cerita film itu sendiri. Dan Erros sudah memastikan garis besar thema melody tersebut. Saya disana berfungsi untuk mengkoreksi terjalnya tanjakan note yang kadang-kadang mustahil untuk dijangkau maklum dia kalau lagi bikin lagu suka nggak kira-kira hehe. Saya juga menawarkan berbagai modulasi nada agar bisa memperkaya suasana yang ingin dicapai , sementara Chrisye dengan tekun mencoba meng-aktualisasikan gagasan-gagasan yang sedang saya rancang berdua Erros . Surprise bila ternyata setelah keluar dari suara seorang Chrisye nada-nada tersebut menjadi sangat kaya namun juga bukan tidak jarang Chrisye sering merasa tercekik dan protes karena nafasnya dianggap bukan nafas manusia “gile’..lu” , gitu kira-kira celetuknya sedikit ngos-ngos’an . Kemudian berkembanglah rencana dari sekedar untuk ilustrasi film menjadi kerja menyelam sambil minum air . Artinya biaya rekamannya dimodalin sama bung Steve (Teguh Karya) sementara kita di studio juga setengah-setengah nyolong waktu untuk bikin rekaman kasetnya. Hanya sampai disitulah persiapan yang diperlukan bagi rekaman musik atau lagu pada saat itu . Masalah lain-lain mengenai teknis recording dan pemain pendukungnya biasanya dilakukan sambil jalan pada saat sudah berada di studio . Sebuah paradigma proses rekaman jaman dulu , dimana “mood” atau feeling sangat menentukan dan memegang peranan penting . Bukan hanya untuk sebatas di wilayah estetika seninya saja , namun pengaruh suasana pribadi atau pergaulan serta lingkungan turut menentukan kualitas hasilnya . Disitulah juga repotnya , seringkali proses kerja kreatif terganggu oleh berbagai hal yang nilai subyektivitasnya tinggi . Karena itu pula pada saat itu saya sangat memahami pentingnya pergaulan kesenian sebab dia mirip dengan sebuah ikatan batin dalam sebuah perkawinan . Karena itu pula paradigma bekerja dengan cara serupa hanya bisa dilakukan pada saat masing-masing dari kita masih relatif muda dan belum punya tangung jawab sebesar tanggung jawab orang yang sudah berkeluarga. Kita bisa saja bebas nggak pulang kerumah atau nongkrong di PIT_STOP semaleman hehe (Pitstop itu disco jadul) di Hotel Sari Pasific. Jaman dulu mah kagak ada yang namanya cafe’ seperti di Kemang sekarang …ada juga cafetaria atau kantin tempat makan orang kantoran.hehe PROSES ARANSEMEN DAN REKAMAN Beberapa hari setelah segala persiapan di rumah saya tersebut , seperti biasa setiap paginya kita selalu bertegur sapa dengan In Cung lagi , yang wajahnya seperti boneka imut lugu dan lucu ..hehe dia adalah pemilik studio Irama Mas di Pluit , studio dimana saya selalu merekam musik-musik saya . (murah dan kooperatif walau emang sumpek juga std.nya) maklum saat itu sulit dibedakan antara studio dengan kandang . Hari hari pertama sayalah yang lebih sering menggunakan jadwal rekaman tersebut , biasanya dari jam.10.00 pagi sampai 17.00 menjelang sore . Saya menggunakan piano upstairs merk Kawai untuk memulai menata aransemen lagu demi lagu . Dengan berkawan bunyi ‘tik-tok-tik-tok’ dari headphone yang asalnya dari sebuah metronome yang dikendalikan oleh Erros diruang operator , saya mulai mengarang intro - songs - sampai coda . Ada catatan yang berkesan dalam pelaksanaan diawal-awal tersebut yaitu; Misalnya terjadi pada lagu Pelangi . Kita sepakat men-generate metronome dengan tempo 080 misalnya , maka intro yang saya mainkan di piano sesuai dengan speed tempo yang terdengar di telinga . Tempo tersebut biasanya bertahan sampai verse 1 saja setelah itu Erros akan menaikkan speednya menjadi 082 . Menjelang reffrein hingga akhir reffrein speed bertambah lagi hingga 088 . Hal tersebut kita lakukan agar perjalanan alur nafas lagu menjadi tetap menusiawi dan natural . Anda bisa mendengarkan lagi dengan seksama sekarang ini , bahwa dalam setiap lagu tidak ada yang tempo atau speednya yang sama seperti kerja sebuah mesin layaknya. Karena memang yang rekaman bukan mesin ..hehehe Yang menyebalkan adalah kalau tiba-tiba Erros sebagai pemicu tempo metronome tersebut “stokun” alias “kipak” alias seenaknya saja menaikkan dan menurunkan tempo yang membuat saya kelabakan me-maintainance irama jari tangan diatas piano . Kalau sudah dalam kondisi serupa biasanya saya berteriak keras lalu berhenti .. “HHoooiii….. temponya… KIPAKK..!” hehe.., dia mah cengengesan aja berdua Teten si operatornya . Sementara saya terpaksa harus mengulang dari awal intro lagi ..sapi dah! Belum lagi kalau mengingat bahwa sambil memainkan metronome dia juga sambil menyanyikan guide lagunya dengan lirik yang asal sekenanya saja …semuanya itu di headphone saya terdengar rame’ nggak keruanan , … udah berisik tik-tok-tik-tok , plus suara orang nyanyi yang kagak jelas , yang sering out of tune , tempo yang juga harus saya cermati terus…. , belum lagi konsentrasi saya pada pikiran saya sendiri untuk membangun aransemen dan sebagainya ….. puyeng! Masih mending kalau pas ada Chrisye yang menemani menyanyikan guidenya… ini mah..ibarat dengerin suara ken arok lagi kasmaran…hehhe. (sori bos) Chrisye sendiri biasanya baru dateng setelah diatas jam.12.00 siang….maklummm baru bangun , almarhum adalah mahkluk yang hidup di malam hari semasa mudanya . Setelah sebuah lagu selesai saya rekam (piano) maka selanjutnya adalah proses pengisian track drum sebelum akhirnya guitar bass bisa direkam . Seperti biasanya “john lennon” hehehe..kami biasa menyebut diri kita sendiri-sendiri dengan sebutan John Lennon , mungkin karena kita semua saat itu keranjingan sama tokoh yang namanya John Lennon . Jadi sah-sah saja menyebut demikian…bukan sok tau atau mau mengaku-ngaku dan sebagainya , lebih kepada guyonan lah..istilahnya. Karena duit memang super cekak dan memang harus pengiritan abis maka John-yockie-Lennon lah yang dengan berani dan gagahnya memasuki ruang drum tersebut hehe…*yang lainnya kagak ada yang bisa soalnya..* Selanjutnya terdengarlah suara irama drum yang njot’njot’an dilagu Merepih Alam / Baju Pengantin . Barulah setelah itu beberapa hari berikutnya terpaksa memanggil Fariz RM dan meminta bantuannya..sebab John-yockie-Lennon nggak sanggup main lagu-lagu dengan beat yang lebih kompleks seperti Serasa dan lainnya. Secara praktis musisi yang terlibat kerja di studio tersebut hanyalah Fariz RM sementara Keenan Nasution dan Debby serta Odink Nasution karyanya hadir lewat rekaman yang sudah jadi berbentuk pita 1/4 inch minus one hasil kerja mereka sebelumnya bersama Erros di film Perkawinan dalam semusim yang juga garapan Teguh Karya . Setelah semua musik dasar (piano/drum dan bass) terekam diatas magnetic tape 1 inch dan hanya berkapasitas 8 track , maka kita harus menunggu proses bouncing atau penggabungan track yang dilakukan oleh Teten (operator) . Secara jelasnya adalah sebagai berikut : Drum yang tadinya mengunakan 4 track (hehe.aneh ya dijaman dulu..drum hanya 4 track) Kick = 1 , snare = 1, selanjutnya hat/symbals/toms sudah digabung menjadi 2 track disaat saat awal merekamnya. Artinya kalau ada yang kekencengan balance nya ya….wallahuaalmmmm..terima nasib. Akhirnya Drum menjadi 2 track (stereo) , bass 1 track , piano 1 track (mono) semuanya total = 4 track . Maka dari fasilitas tape multytrack yang 8 track hanya tinggal 4 track berikutnya yang available dan untuk bisa di isi keyboard , vocal dan sebagainya . Bisa dibayangkan tingkat kesulitan seorang operator untuk me-manage kebutuhan yang harus direkam bagi keseluruhan lagu pada album BPB seperti yang sekarang bisa kita dengar tersebut . (salut buat pak Teten) Sedangkan saya saja melakukan dubb / layering keyboard lebih dari lima instrumen seperti “solina strings/rolland sh2000/rolland sh5/minimoog/lawrey organ dan hohner. Betapa peliknya menumpuk numpuk audio atau suara tanpa bisa di ‘undo’ lagi . Bandingkan dengan fasilitas rekaman diatas media digital saat ini yang tak terbatas berapa keinginan track yang akan dibutuhkan , serta kemampuan untuk me-restore atau undo bila diperlukan . Kita atau musisi masa itu bila merekam sebuah lagu akan dimulai dari hitungan/count awal hingga selesai seluruhnya/coda tanpa berhenti ditengah-tengah. Kalaupun kita salah dalam memainkannya maka kita cenderung untuk mengulangnya dari awal lagi. Mengapa demikian ? ada beberapa faktor yang menurut saya bisa dijadikan alasan atau argumentasinya . Pertama , lagu atau aransemen musik di dekade sampai 80′an adalah sebuah proses perjalanan ceritera yang linier . Intro / interlude atau coda adalah bagian penting dari pesan melody dan pesan lirik yang hendak disampaikan . Dia menjadi sebuah kesatuan emosi yang tak bisa dipisahkan . Agar seorang musisi terasa terlibat dalam persoalan sebuah lagu maka dia harus membangun kebersamaan “rasa” dari semenjak awal intro dimulai . Tidak mungkin itu didapatkan langsung dengan seolah meloncat ke urutan tengah-tengahnya saja . Dia akan menjadi lepas dari persoalan emosi lagu yang ingin dilibati-nya . Kedua , musisi yang bersangkutan akan cenderung merasa “cemen” kalau nggak mampu memainkan ulang dengan standar kualitas yang sama . Ada kesan yang muncul bahwa rekaman dan live konser sesungguhnya hampir nggak ada bedanya untuk harus bisa dipertangung jawabkan. Memang berbeda dengan kondisi dan fasilitas yang ada pada system digital sekarang , saat ini sebuah lagu memang tidak harus linier lagi . Dia bisa saja langsung ke titik permasalahan tanpa melalui basa-basi atau ungah-ungguh , karena jaman juga menuntut perilaku yang serupa. Saya sering meng-analogikan dengan pola hidup kita yang sekarang jelas sudah berbeda . Dahulu setiap kita bangun pagi secara otomatis akan disodori oleh rutinitas yang baku , misalnya gosok gigi dulu lalu baru minum teh atau kopi , memotong bawang merah dulu lalu digoreng lalu dicampur bumbu dan di aduk-aduk nasi atau mie barulah kemudian dihidangkan dalam bentuk nasi goreng atau mie goreng . Selanjutnya barulah kita melakukan kewajiban rutin kita , entah sekolah ataupun bekerja di kantor. Sekarang rasanya sudah tidak harus begitu lagi , selain mandi gaya cowboy juga sudah umum dan biasa , demikian juga mempersiapkan sarapan pagi dan lain-lainnya . Semuanya bisa didapat secara instan , cepat dan menjadi praktis . Prosedur hidup yang biasanya dijalani dari semenjak pagi hari hingga malam hari sudah jauh berbeda dan sama sekali tidak sama . Manusia seolah sudah mulai mengingkari naluri serta sifat-sifatnya yang manusiawi….? Yang linier…seperti mulai terbitnya matahari di ufuk sebuah pagi hingga tenggelam di senja malam , lalu disambut dengan munculnya rembulan dan seterusnya….? Saya nggak tau juga , saya tidak berhak mengatakannya hingga sedemikian rupa… (walau kadang hati kecil berbisik seperti itu) Namun adakah bedanya bagi kehidupan saya apabila saya menolaknya….? Oleh karena itu pula saya bisa memahami mengapa perilaku berekspresi dalam musik di jaman inipun menjadi sedemikian rupa , ya karena memang perilaku didalam hidup kita sudah serupa … Kembali ke masalah paradigma rekaman jaman dulu , saat itu kemampuan atau skill seorang pemain musik sungguh memegang peranan penting untuk menghasilkan sebuah hasil rekaman yang baik. Sebab apabila yang bersangkutan sering melakukan kesalahan hingga harus sering di ulang-ulang (re-take) maka konsekwensinya adalah pita magnetic tape yang semakin menipis (aus) tergesek oleh magnit head nya , sehingga akhirnya menghasilkan desis atau noise yang tinggi . Karena itu seseorang yang mau rekaman harus mempersiapkan kemampuannya semaksimal mungkin pada saat mau ‘take’ . Lagi-lagi berbeda dengan tehnologi digital yang menawarkan tools nya seolah seperti mesin jahit yang siap pakai 24 jam , tanpa ada resiko serupa meskipun diulang-ulang sampai jontor sendiri hehehe.. Akibat dari ‘jasa’ tehnologi tersebut maka saat ini siapapun bisa menjahit sebuah lagu atau bahkan membuat aransemen musik kilat tanpa perlu belajar secara teoritis dahulu . Persis seperti ditemukannya “windows” yang membuat orang menjadi cepat familiar/akrab karena hanya tinggal klik mouse geser sana , geser sini atau bahkan copy and paste . Apalagi fasilitas software seperti auto tunning atau melodyneUno dimana orang yang asal nyanyi meskipun suaranya ngalor ngidul tetap bisa di edit hingga 100% absolute pitch alias nggak sumbang sama sekali , tapi ya itu….”wagu” . Persis seperti wagunya lagu yang sebagian besar dinyanyikan anak-anak sekarang yang ujug-ujug jadi beken tanpa proses. Ya karena itu….., bahkan istri saya yang awam sekalipun mungkin bisa ngomong “suaranya bagus ya ..nafasnya panjang dan nggak fals…hehehe..” . Orang awam bisa mengatakan begitu .., tetapi kuping studio akan dengan jelas menangkap bunyi freqwensi 1 khz yang tiba-tiba bergeser kesana-kemari . Apalagi namanya kalau bukan hasil muslihat software . Namun semuanya itu tersamar oleh sistem publikasi yang gencar dari industri yang bersangkutan . Orang dibuat untuk tidak terlalu fokus mengapresiasi ’soul’ si penyanyi , namun diarahkan untuk melihat penampilan fisik serta lirik dan lagu menawarkan mimpi indah. Dan saat ini saya sendiri juga sering terkagum-kagum oleh hasil rekaman anak saya dikamarnya sendiri dengan menggunakan komputernya. Koq sepertinya semudah itu dalam waktu yang relatif singkat dia bisa bikin lagu plus aransemennya . Bahkan semalam saya mendengar dari balik pintunya dia lagi belajar menirukan specnya steve vai..luar biasa anak sekarang , begitu gampangnya mereka pikir menjadi seseorang seperti ‘vai’ . Tentu saja karena dia adalah anak saya maka meluncurlah nasehat-nasehat yang saya anggap penting untuk diketahui olehnya , boleh niru asal dijadikan pedoman untuk menemukan cara berekspresi diri sendiri , kurang lebih begitulah bunyinya . Tapi bagaimana dengan anak-anak muda lainnya yang tersebar di seantero wilayah Indonesia …adakah yang menasehati mereka ..hehehe…nggak janji deh., tapi ya semoga saja ada ,…yang pasti tidak semua anak muda kita asal n’jeplak saja . HAnya saja…lagi-lagi mereka jauh dari katagori anak muda yang layak difasilitasi …, memang kampreett juga yang namanya industri . Kalau sudah meledak ledak dan laku baru ber-ulah seolah berperan menyokong idealisnya musisi …preett lagi! Jadwal berikut setelah musik dasar dan rythm basic (pad) siap , maka sampailah pada tahap yang sangat menentukan yaitu take Vocal . Chrisye menyanyikan ulang beberapa lagu yang tadinya dipersiapkan bagi film BPB yang tadinya sudah dinyanyikan oleh Broery Pesolima yakni : Baju Pengantin , Merpati Putih dan menyanyikan satu demi satu lagu lainnya demikian juga Berlian Hutauruk . Hebat memang.. mereka berdua saat itu , hampir tak ada pengulangan ‘retake’ berkali-kali yang melelahkan . Semua lagu disantap seolah sedemikian mudahnya .., berbeda waktu saya mendengar contoh guidenya yang disenandungkan ken arok kasmaran sebelumnya ….hehehee (sori lagi bos) Ada catatan kecil yang sempat saya tangkap dibalik rekaman Badai Pasti Berlalu , yakni ketika untuk kebutuhan sebuah film lagu Badai dan Matahari dinyanyikan oleh Berlian Hutauruk . Kita semua yang berproses di studio tentunya berasumsi bahwa suara Berlian itu sangat inspiratif bahkan membangkitkan nuansa klasikal yang chemistry dengan nuansa aransemen yang saya bangun. Dengan kata lain kita semuanya menjadi terkagum-kagum dan amat terpukau karenanya. Namun rupanya tidaklah demikian dalam pemahaman seorang Teguh Karya sewaktu dia membayangkan suara perempuan sebagai hiasan latar atau backsound bagi kebutuhan gambarnya . Mungkin asumsinya adalah suara seperti Tetty Kadi atau Arie Kusmiran atau penyanyi-penyanyi pop perempuan yang pada saat itu menjadi suara idaman . Bukan suara sopran seperti Berlian. Maka ketika dia diperdengarkan contoh lagunya oleh Erros Djarot , saya mendengar cerita dari Erros sendiri bahwa bung Steve mencak-mencak…“suara apa’an ini…kaya kuntilanak..!” gitu kata Erros lho..(saya nggak ngarang..nggak tau kalau mas Erros sendiri yang ngarang…hehe…maklum namanya juga pengarang..) Tambahnya lagi katanya sempat ada ketegangan antara dia dengan Teguh Karya , sampai-sampai mas Erros mengancam..“kalau nggak setuju dengan konsep ini…ya..batalin aja semuanya…” gitu katanya . Ini Erros Djarot yang cerita pada saya lho…saya juga nggak ngarang-ngarang lagi …nggak tau kalau dianya yang ngarang..hehe .. Selebihnya rekaman suara atau vocal bagi kebutuhan kaset akhirnya kita anggap tuntas dengan pengertian sangat memuaskan semuanya . Dan juga jangan dilupakan peranan In Cung yang walaupun cuman mondar-mandir keluar masuk studio melongok sebentaran ..namun kadang memberi masukan berupa celetukan-celetukan …seperti “asikk tuh…” atau “nggak enak tuh.bagusan yang kayak kemaren…” Maka setelah rampung semua hingga mixdown dan sebagainya , hari-hari terakhir adalah ngobrolnya kita di studio tersebut untuk memutuskan nasibnya , mau diapain ini master . Sebab dari hasil penjajakan yang dilakukan Erros ke hampir seluruh distributor atau produser (istilah pada saat itu) tidak ada satupun perusahaan / industri kaset yang berminat . Saya sendiri tidak terlibat dalam berbagai proses marketingnya sehingga saya juga nggak begitu paham tentang apa kendalanya . Ataukah sistem marketing atau PR yang harusnya dimiliki namun kita tidak punya , atau memang mereka nggak doyan dengan lagu serta musiknya . Sepertinya hal yang kedua yang terjadi pada saat itu . Sedangkan saat itu Erros harus segera kembali berangkat ke Inggris untuk menyelesaikan studynya . Waktu hanya tinggal hitungan hari hingga harus sampai pada keputusan yang final. Maka disebuah meja makan di studio Irama Mas kita bertiga duduk dengan disaksikan oleh In Cung sebagai pemilik studionya. Erros mengeluarkan isi kantongnya setumpuk uang keatas meja . Jumlahnya tidak lebih dari bilangan angka dua juta . Sedangkan studio juga harus dibayar dan dilunasi sementara dia sendiri harus beli ticket pesawat untuk pergi ke Inggris beberapa hari lagi. Saya dan Chrisye berpandang-pandangan terbengong-bengong nggak tau harus ngapain . Bukan mau minta honor apalagi nuntut macam-macam , sebab dari awal mula memang saya sudah sepakat nggak usah mikirin duit …yang penting happy. Namun kita bingung sebab nggak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keadaan . Maka In Cung dan Erros mengeluarkan sebuah kertas segel bermaterai untuk kita tanda tangani bersama . Yang isinya kurang lebih berbunyi : master tersebut akan di titip jualkan ditoko In Cung (distributor lagu-lagu dangdut dan Klenengan / tradisional) Setelah ada hasil penjualan baru kemudian disisihkan untuk dipotong sebagai biaya menggunakan studionya . Saya sendiri dan Chrisye (saya masih ingat) menerima masing-masing kira-kira dua ratus lima puluh ribuan yang diambil dari uang senilai dua juta tadi . Selebihnya adalah untuk membayar operator (Teten) dan biaya membeli ticke pesawat terbang . Juga didalam nota kertas segel bermaterai tersebut , saya dan Chrisye masing-masing menanda-tangani kesepakatan atas hak royalti sebesar masing-masing dua puluh lima perak bila penjualan mencapai target bilangan impas atau break even point . Yang saya sendiri juga nggak tau berapa jumlah bilangan BEP tersebut . Maka dalam perjalanan sejarahnya , setelah mengalami masa ketegangan / persengketaan di pengadilan antara Erros Djarot dan Berlian Hutauruk . Beberapa tahun kemudian didalam sebuah kendaraan Holden coklat milik Chrisye saat saya sedang bersamanya mengerjakan album Sabda Alam di Musica studio . Almarhum Chrisye pernah berkata pada saya “sudah ada tuh yock…bagian elu ditangan In cung…sedikit sih..tapi lumayan buat beli-beli rokok..” demikian katanya . Saya jawab “..hehe..ntar-ntar aja deh Chris..kalau udah bisa buat beli rumah ..gw ambil..” itu guyonan saya . Rokok saya pada saat itu Benson & Hedges dan harganya sebungkus masih berkisar sekitar rp.1500 perakan . Tahun-tahun berikutnya .. ada sebuah saat dimana saya membutuhkan kepastian tersebut…, maka saya hubungi In Cung yang menurut Chrisye ada sesuatu yang dititipkan bagi hak saya . Dan tanpa saya duga jawabannya “lhoo…kan sudah diambil alih sama Erros dan Chrisye lagi semuanya yock…bahkan kontraknya kan sudah diperbaharui semenjak ada kasus persengketaan di pengadilan .” Semenjak itu Badai Pasti Berlalu menjadi “case closed” bagi saya . Saya merasa tak ingin ribut-ribut memperkeruh suasana pergaulan kreatif yang ada diantara sesama kita . Biarlah yang bukan rejeki saya memang tidak harus sampai ke tangan saya. Banyak orang mengatakan, entah itu isu atau entah itu propaganda bahwa BPB sudah menembus bilangan angka penjualan melampui juta-juta banyaknya . Amien…saya turut bersyukur . Hanya saja saat lagu-lagu tersebut di release ulang …tak dapat saya pungkiri ada rasa pedih yang mengiris hati saya . Mereka sama sekali tidak pernah mencoba untuk menghargai siapa-siapa yang turut merancang dan membidani kelahirannya . Namun itulah hidup , tak ada bedanya bahagia dan kecewa menangis atau tertawa. Terimakasih juga saya ucapkan bagi majalah Rolling Stones Indonesia yang telah mengapresiasi album tersebut dan menempatkan-nya secara terhormat . Membuat saya sedikit banyak turut merasa bahagia dan tersanjung . Yockie Suryo Prayogo. “Badai Sudah Berlalu.”
 | terharu mas... bukan karena kisahnya sedih, tapi karena menggambarkan perjuangan yang berdarah-darah, serta yang pada akhirnya ada berita baik dan buruk. mas JSOP memang harus banyak-banyak mendokumentasikan sejarah musik Indonesia yang diperankan mas. pasti berguna untuk kita. sejarah mengajarkan agar kita tidak lupa.. |
 | saya juga terharu baca bagian akhirnya... sangat menyedihkan industri musik di negeri ini. Insya Allah mas Yockie mendapat imbalan dalam bentuk yang lain.. someday. amien. |
 | badai sudah berlalu............ |
 | Semoga mas Jockie mendapat ganjaran yg lebih baik dari Tuhan......Rejeki Allah yg ngatur mas.............Semoga anda dan keluarga selalu dalam lindunganNya.Amin. |
 | data ASIRI (Asosiasi Indstri Rekaman Indonesia) tahun 1997, album BPB telah terjual 9.000.000 copy. Album ini adalah satu-satunya produk industri musik pop Indonesia yang terlaris, sampai hari ini.
|
 | Badai sudah berlalu ... Badai Bah sedang hadir dimana-mana ... |
 | tq mas, sudah penuhi 'janji'-nya ... |
 | gila!!!! 9 juta!!!! kualitas berbanding lurus dengan kuantitas... sangat jarang sekali |
 | *...di bookmark dulu...soale panjanggggg...jadi harus konsen 1001% bacanya...*
|
 | diprint dulu, ntar bacanya di rumah. |
 | jsops wrote on Dec 27, '07, edited on Dec 27, '07 Album tersebut memang ter-apresiasi dengan baik oleh masyarakat penggemar musik Indonesia dan melahirkan berbagai gagasan untuk membedah munculnya cakrawala baru bagi dunia musik di Indonesia itu sendiri .
Artinya secara moralitas bisa saja dia disebut cukup berhasil dengan baik , walaupun hal-hal yang menyangkut implikasi sosialnya masih terpenjara.
Selanjutnya perlu saya tambahkan penjelasan saya tentang "implikasi sosial" yang saya maksudkan diatas .
Bahwa kalimat-kalimat tersebut sama sekali tidak dilandasi oleh perasaan tendensius atau curiga kepada pribadi-pribadi tertentu secara personal.
Namun lebih kepada "penataan sebuah sistem" bagi meletakkan berbagai macam aturan-aturan yang kemudian harusnya dituangkan dalam hukum dan undang-undang hak cipta yang dapat diterjemahkan serta dipahami sebagai "hukum" yang berlaku secara Internasional .
Disaat sebuah karya seperti Badai Pasti Berlalu dilahirkan , sistem hukum dan berbagai aturan-aturan diatas yang seharusnya melengkapi nota tertulis dalam sebuah perjanjian sepertinya tak tertuangkan dan tak tercantum . Karena itulah kemudian lahir berbagai konsekwensi-konsekwensi sosial seperti yang saya alami sekarang .
Saya adalah salah satu 'martir' dari akibat serta konsekwensi tersebut hehe... Namun saya bisa menerima dengan sepenuh hati serta sangat memahami kondisi tersebut.
Dan bila sampai hari ini masih juga belum ada perbaikan yang seharusnya bisa dilakukan bagi hal-hal yang menyangkut persoalan hak cipta tersebut , maka saya melihatnya hanya sebagai sebuah "kehendak" yang masih dianggap belum perlu dilakukan .
Yang pasti semenjak saat itu hingga hari ini , saya tak ingin kehilangan 'teman' hanya karena masalah sistem yang tidak sempurna serta salah tersebut .
salam hormat dan sekali lagi terimakasih atas segala perhatian anda.
|
 | proses kontemplasi sebuah album yang mendalam. kata mas remy terjual 9 juta yah...wah menempatkan sebagai album yang terlaris di Indonesia. |
 | jsops wrote on Dec 28, '07, edited on Dec 28, '07  ada penjelesannya gak, kenapa erros djarot bersengketa dg berlian hutauruk sampe ke pengadilan...???
 1.BHTR merasa hanya diminta untuk mengisi suara (vocal) bagi Film. 2.BHTR menuntuk hak-hak profesi atas kaset komersial 3.BHTR memenangkan kasus,damai sebelum pengadilan diputuskan (lewat ganti rugi) 4.Semenjak itulah rupanya lawyer yang bersangkutan membuat design yang baru bagi perlindungan produk tersebut. |
 | Sebuah karya yg membanggakan dengan cerita yang menyedihkan.. Tetep sabar ya Oom.. |
 | tidak mampu berkata-kata lebih banyak lagi... sukses selalu mas Yockie |
 | Untuk sebuah album legendaris spt ini, apa yg dialami oleh mas Yockie ini bisa dibilang tragis.... |
 | Bagi saya ini salah satu album tonggak sejarah musik Indonesia. Dari situ saya mulai kenal Eros Djarot, Chrisye, & Yockie (E & C & Y). :) Mudah-mudahan moral rights tetap dijaga, bahwa siapa2 yang ikut membidani lahirnya album itu mendapat penghargaan. Setidaknya ... penghargaan moral lah. |
 | Mas, saya quote kalimat2 anda di MP saya ya...Makasih |
 | selalu ada kisah yg tersimpan, terpendam ...biasanya menyakitkan...dari setiap sukses.
bung jockie, terimakasih telah berbagi. |
 | met taon baru oom jockie, moga2 gak ada badai di tahun2 ke depan. terima kasih udah bikin album penuh arti BPB.... saya dengernya aja waktu TK kali... merepih alam....di malam berselimut kabut kelam.... keep on rock oom !!! |
 | oh,,,rumit sekali ya untuk menciptakan satu lagu indah ini,,,,,mmm,,,,salutttt |
 | Salam kenal, mas. tulisannya 'menyentuh'. Saya Link ke MP saya, yah.. trimakasih : ) |
 | marstz wrote on Jan 6, edited on Jan 6 ... saya baca journal ini sambil dengerin BPB.... saya jadi merasa ikut rekaman.. dan serasa duduk dibangku belakang Holden coklat itu, saya bayangin aroma Benson & Hedges walopun saya nggak tau seperti apa itu (hehehe..), sambil dengerin sampeyan ngobrol sama Cak Chrisye.. Membayangkan proses rekaman di jaman "Analog" untuk menciptakan Masterpiece yang abadi ini...
Salut dengan dedikasi anda Cak Yockie... salam kenal... |
 | Mas, Senang bs baca langsung tulisan ini, pelengkap dari mosaik kekaguman saya atas karya besar ini...
mosaik sy tuh... (cerita dikit ya..) - BPB I , sy msih bocah tapi kebetulan (kata alm. Om Steve Lim) koq anak kecil bs seneng ama lagu njelimet gitu... (oh iya.. rumah ibu sy di Balai Pustaka dulu juga workshop Teater Popular, ade ibu saya Iri Supit adalah Art Director di teater tsb) BPB II - Chrisye & Erwin Gutawa, Sy & Adik adik lagi intens sama Chrisye & Erwin mendokumentasi musik Indonesia. BPB III - Entah kenapa (mungkin krn selera sy Progresive kali) koq rasanya menurun pencapaiannya... (sy soalnya keburu liat militannya Erwin memaksimalkan BPB - walau versi dia.., kurang lebihnya samalah dgn pengorbanannya Mas Jockey saat menciptakan..)
1000 terima kasih untuk share Mas. |
 | Mas Jockie sy mohon izinnya apakah tulisan ini bisa sy muat di milis KPMI..tks sebelumnya. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Baju pengantin telah kutanggalkan dini hari jenuh awan nan kelabu, berakhir di ujung hujan dalam pelukan ku terjaga, tersentuh benih harapan ........ |
 | (suara moog): A-C-F-A/ C-F-A-B/ D-G-B-D/ G-B-A-C/F-A... dst .... huahahahah! (*nostalgia mode on*) |
 | Dahsyat sekaligus ironis! Cerita yang sangat penting buat diketahui generasi musisi sekarang sepertinya, Mas. Percaya atau nggak, sampai saat ini masih banyak musisi yang mengalami "penindasan" seperti ini di industri musik Indonesia. Kalau diundang menjadi nara sumber untuk diskusi tertutup ttg industri musik di Rolling Stone kira-kira bersediakah, Mas? :) |
 | dengan senang hati mas.... asal ongkos bensinnya diganti ya. huahuahaha.. , ama jangan lupa dikasih minum minimal aqua sebotol :) |
 | mmm berarti saat itu satu orang jenius musik muncul lagi...Fariz RM. Gimana ceritanya Fariz bisa ikut, Mas? |
 | contoh kongkrit,,buat para musisi muda yg berbakat ato tidak berbakat ato yg cm sekedar bisa-bisaan main musik_ red- lalu rekaman n albumnya laku di pasar lalu bangga ( gak papa sih) terus lupa bahwa tanggung jawab profesi,disiplin bermusik itu sendiri harus buanyak2 belajar dr para senior nya "yang karyanya sdh jelas disamakan eh diakui"oleh publik,,,catat : saya berani bertaruh tehnis penggarapan album bpb yg eksotik ini( again menurut saya)cuma 50% mengandalkan piranti elektronik seperti all equipment studio buat sarana rekaman nya saja,,selebihnya benar2 mengandalkan skill individual dr om jockey cs,,atleas kalo cm bs modal tampang n koneksi aja dijamin 1 juta % gak bakal bisa sampai lebaran kuda pun buat karya sebaik ini,,(huh,,"emosi"),ini bentuk keprihatinan saya terhadap perkembangan musik di tanah air kita tercinta ini,,percaya deh kalo mental pemusik muda kita sekarang msh banyak yg katro(gak semua sih),kita tidak akan menemukan karya spt ini lagi di negri tercinta ini ..bless 4 om jockey n friend,,,ur still the best om
smile true |
 | Mas Yockie, kenapa lagu Baju Pengantin & Merpati Putih vokalnya diganti Chrisye? Kebutuhan film atau hal lain di luar itu mengingat adanya kasus dgn BHTR? |
 | koq jadi sedih ya mas... tapi salut buat mas jockie... |
 | aduh, tulisannya kecil banggets, jadi refot acanya, maklum mata siwer. |
| aku suka lagu2 di album ini.. |
 | selain isi tulisan "badai pasti berlalu" yang diakhiri "badai sudah berlalu", saya tertarik memperhatikan cover kasetnya yang cukup aneh menurut kacamata saya.... |
 | Liat tanggal postingannya, jelas saya udh ketinggalan banget mencermati tulisan ini mas..
Kaget sekaligus juga terharu saya ngebacanya. Betapa perjalanan penciptaan mahakarya album ini yang begitu "berdarah-nya", murni karya anak bangsa, yang diciptakan lewat talenta musik para kreatornya. Kelak kita ketahui bersama kalo sejarah musik Indonesiapun mencatat album BPB merupakan salah satu album terbaik..yang menurut saya jadi bukti bahwa "Tuhan memberikan berkah & rahmad buat bangsa ini lewat musisi hebat seperti mas Jockie, Chrisye, dkk buat bikin album ini. "...(ini karena kekaguman saya pribadi atas keindahan isi album yang notabene hampir seumuran dengan saya).
Namun disisi lain, lewat tulisan ini saya jadi ngeh bagaimana sejarah album ini dan peran seorang Jockie dalam "proses" penciptaan dan berbagai implikasi sosial serangkaian dengan keberadaan & suksesan album ini.
Salut dan kagum saya buat mas Jockie yang begitu berbesar hati dengan "badai" yang pernah dialami dan akhirnya bisa melaluinya berkenaan dengan album ini. Insya Allah, guratan semua karya cipta mas akan mendapat pahala tersendiri dari Allah swt.....rezeki termasuk rahasia dariNYA mas....amienn :) |
 | disampul kaset bpb yang saya beli tgl 7 Okt 1978 nggak ada tulisan "sebuah karya teguh karya, slamet rahardjo, christine hakim"... mungkin punya saya bajakan yaa.... |
 | jsops wrote on Mar 26, edited on Mar 26 rezeki termasuk rahasia dariNYA mas....amienn  hehe..itu yang selalu saya yakini mbak ..terimakasih atensinya |
 | jsops wrote on Mar 26, edited on Mar 26 disampul kaset bpb yang saya beli tgl 7 Okt 1978 nggak ada tulisan "sebuah karya teguh karya, slamet rahardjo, christine hakim"... mungkin punya saya bajakan yaa....  Nyebut Basmallah ajah mas... Insya Allah jadi halal.. huehehee |
 | wah...mas, aku salut baca cerita perjuangannya. Album ini adalah album pop yang mengubah perjalanan industri musik indonesia. Dari pop ngak-ngik-nguk ke musik yang benar2 berkualitas. Sama seperti Jurang Pemisah mas Yockie dgn mas Chrisye. Sukses selalu mas... |
 | Pada bulan Mei tahun lalu seusai nonton konser Nuansa Bening bang Keenan N di balai Kartini, saya memberanikan diri menghampiri mas Yockie untuk minta tanda tangan pada PH Badai Pasti Berlalu yang saya bawa. Pada kesempatan ini saya ingin sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih saya atas keramahan dan kesediaan mas menanda tangani Ph tersebut meskipun(setelah saya baca kisahnya) terjadi hal2 yang melelahkan sekaligus memilukan dibalik proses pembuatan album BPB. Saya juga merasa "sedih dan marah" ketika album BPB dirilis ulang tanpa menyertakan anda dan Berlian H, menurut saya lagu Matahari dan Badai Pasti berlalu sudah identik dengan Berlian H, tak tergantikan! Ketika digelar konser tribute to Teguh Karya tahun2006 terbukti yang mendapat sambutan paling meriah adalah Berlian yang menyanyikan lagu Matahari. Oh ya kalau mas Yockie tidak keberatan boleh minta kontaknya Berlian H. untuk dapatin tanda tangannya (he he) Thanks mas |
 | ya..saya inget anda mas .. :) terimakasih |
 | speechless saya bacanya oom...
...salute buat semua yang terlibat di album fenomenal ini, semoga kesalahan masa lalu tidak terjadi lagi dan generasi mendatang bisa belajar ya,
...big respect to you my uncle...hehehe. |
 | hehe iman , thanks a lot masih bareng Tika? albumnya mana..? Oom dengerin dong ..! |
 | Mas, saya dengerin album ini dari jaman SD, dan menurut saya ini album terbaik Indonesia. Yang bikin saya terkesan adalah suasana magis yang kerasa setiap kali denger lagu2nya, dan yang membikin magis apalagi kalau bukan pianonya? Diluar semua tragedy yang ada, saya mau mengucapkan terimakasih mas, album ini udah jadi soundtrack hidup saya dari jaman SD sampai sekarang. Kalau dengerin album ini sekarang saya jadi inget masa kecil hehehehhe
Dan postingan mas Jockie ini juga menjawab pertanyaan saya, kenapa yaa album sefenomenal ini gak di released-released versi remasterednya? hehehe
walaupun kemungkinan kecil, tapi kira2 bisa gak ya mas direleased lagi? in the name of art mas....:-) |
 | jsops wrote on May 25, edited on May 25 Mas, saya dengerin album ini dari jaman SD, dan menurut saya ini album terbaik Indonesia. Yang bikin saya terkesan adalah suasana magis yang kerasa setiap kali denger lagu2nya, dan yang membikin magis apalagi kalau bukan pianonya? Diluar semua tragedy yang ada, saya mau mengucapkan terimakasih mas, album ini udah jadi soundtrack hidup saya dari jaman SD sampai sekarang. Kalau dengerin album ini sekarang saya jadi inget masa kecil hehehehhe
Dan postingan mas Jockie ini juga menjawab pertanyaan saya, kenapa yaa album sefenomenal ini gak di released-released versi remasterednya? hehehe
walaupun kemungkinan kecil, tapi kira2 bisa gak ya mas direleased lagi? in the name of art mas....:-)  Sebelumnya terimakasih atas apresiasinya mas , saya ingin menambahkan "uneg-uneg" saya bahwa:
Saat ini arogansi Industri seolah bisa mengulang dan menghadirkan kembali suasana "magis" tersebut dalam bingkai kekinian dan sebaginya. Mereka pikir "rasa" tersebut adalah hitungan matematika yang bisa ditulis diatas lembaran kertas.
Maka dihadirkanlah musisi2 dengan penyanyi2 lainnya untuk me repackage album tersebut bagi kebutuhan suply and demand dagang hari ini. Satu upaya yang sungguh "bodoh dan tolol" ...selain juga tidak mengabaikan etika pergaulan .
Bahkan saya sendiripun tak akan mungkin bisa mengulang hasil yang sama , apalagi orang lain .Atau bahkan tokoh musik sekaliber Paul Mc Cartneypun saya yakin nggak akan mampu mengulang "something" dengan kualitas estetika yang sama .
Perihal remastered ....hm... no comment mas , sudah bukan wilayah otoritas saya . |
 | eh mas, ngemeng2 nih.. dulu dilesehan musik pernah bilang mau bikin proyekmusik, udah kejadian? atau ini yang saya dengerin di halaman depan ini? yang judulnya bintang2? enak tuh mas... |
 | jsops wrote on May 25, edited on May 25 Saya juga tidak cucok tuh dengan 2 album repackage, yang versi EG terlalu rame yang versi barusan keluar jelek bener.
Di luar "tragedy" yang saya sendiri juga tidak menyangka, kalau dalam upaya untuk tribute piye mas? saya sih masih penger denger album tribute dari musisi2 muda ke musisi2 senior, tapi tentu dengan kerangka musik yang sesungguhnya bukan kerangka duit semata....
saya masih nyari2 vinylnya Badai Pasti Berlalu nih mas, tapi gak dapet2 heheheh pernah hampir dapat harganya muahaalll...  Menurut saya pemahaman "tribute" hanya bisa dan pantas dilakukan setelah ybs memahami "ruh" karya2 tersebut , tidak asal n'jeplak hehehe..
Misalnya sebagai contoh : Ketika ada sebuah group di Indonesia yang ingin menghadirkan nuansa Genesis di pangung2 live concert , maka yang bersangkutan harus paham "luar / dalam" tentang karakteristik Genesis secara menyeluruh agar tidak terdengar layaknya "dagelan". Atau bahkan mungkin bisa menjurus berujud seperti "penghinaan" pada karya2 besar mereka . Tidak semua orang (musisi Indonesia) melakukan hal seperti ketika Cockpit memainkan lagu Genesis ..khan?
|
|
|