Photo ini adalah sebagian dari dokumentasi gambar saat Gerakan Kepatutan di deklarasikan bersama pada tanggal 4 Desember 2004 yang lalu , bertempat di Pagelaran Kraton Jogyakarta . Photo moment2 saat deklarasinya sendiri menyusul.
Struktur KEBUDAYAAN.JPG 1 Comment
|
 | wah, saya koq gak diundang ya? Padahal kan penduduk yogya? (sokpenting.com) |
 | Mas JSOP, ayo manggung di Jakarta lagi dengan tema semacam gerakan kepatutan. ICW pasti mau kerjasama |
 | Saya juga baru kontak dengan Teten. Belum sowan setelah saya kembali ke Indonesia. Pentas apa mas? Waduh sayang saya telat tahunya, padahal dari pagi sampai jam 5 saya kerja di BPK depan Manggala Wana Bakti. Sekarang sih sudah dirumah, naik kereta dari samping Manggala |
 | wah ..semalem sy juga batal nonton mas.., sy kesana berempat mengajak anak2 saya . Tak tahunya hanya ada 2 undangan yang tersedia (terbatas) ..Yahhh.. sayang anak.. saya kasihan kalo harus nungguin di mobil hujan2.. akhirnya saya putuskan kita batal dan nyari makan aja bersama keluarga ...hehehe.. |
 | Kok saya tidak nemu publikasi pentas bengkel teater tadi malam mas? Apa memang khusus undangan, syukuran Dr HC Rendra? |
 | Bukan mas itu sebenarnya program internal Dep.Kehutanan , kalo ngga salah memperingati seper empat abad DepHut. Karena itu tidak ada tiket dijual dsb . Sepenuhnya yang hadir adalah undangan resmi . |
 | o iya, di Kompas kemarin ada berita kalau seluruh mantan menteri kehutanan yang masih hidup berkumpul |
 | tapi berani juga mereka mengundang Bengkel Teater, sementara Dephut sedang digebuki masyarakat karena PP2/2008 tentang hutan |
 | Memang sekarang banyak sekali yang nggak patut dipertontonkan tanpa malu2. |
 | Liriknye bener kaga? Coba suruh ngaku siape nyang bikin lagu ini. |
 | gerakan kepatutan. masih berlanjut bang? |
 | jsops wrote on Jun 29, edited on Jun 29 Dia bukan sebuah gerakan dalam bentuk organisasi yang berbasis struktural. Dia adalah gerakan untuk membangkitkan "kesadaran" dalam diri kita agar "patuh" kembali kepada "nilai-nilai" kepatutan yang sudah semenjak dahulu kala dianut/diterapkan oleh orang2 sebelum kita lahir dan ada.
Setiap local culture (adat) memiliki kepatutannya sendiri-sendiri .Dan Gerakan Kepatutan adalah upaya untuk mengingatkan kembali agar menghargai dan menghormati "kepatutan" yang bukan adat kita sendiri. |
 | apa kepatutan yang sudah ada pasti patut di tiru bang? |
 | lah..mustinya lha iya kan? pada saat kita ada di wilayah tradisi bali misalnya , apakah kita boleh kencing di-tempat2 yang di sakralkan (ada sesajen dsb) , padahal tidak ada "plang" dilarang kencing disini. Atau pada bulan puasa misalnya..apakah kita layak dan merasa sah-sah saja ditempat umum yang terbuka (mayoritas muslim) untuk mengunyah makanan dengan cuek acuh tak acuh , padahal juga tidak ada larangan tertulis "dilarang makan disini".
Bukankah semua hal2 diatas tersebut adalah "kepatutan2" yang harus kita sepakati bersama , agar hubungan antar adat-istiadat lokal masing2 dari kita tidak dicederai. Itu hanya contoh sebagian kecil saja dari nilai2 kepatutan yang saya maksudkan.
|
 | hmmmmm....
jadi ada semacam kekawatiran bahwa hal2 yang kita sayangi (kepatutan) mulai luntur atau di lunturkan?
andai ada yang mau melunturkan siapa yah, ada maksud apa ???
[sambil udud] |
 | Kepatutan bukan hal2 yang kita sayangi , namun hal2 yang berkaitan dengan perilaku pergaulan antara masing2 adat istiadat kita yang beragam. Kalau nggak ada kepatutan , dari dulu kita nggak akan pernah bisa bersatu . Orang jawa akan berantem terus sama tradisi2 lainnya . Demikian juga tradisi2 lainnya akan saling bunuh2an antar sesama mereka.
Nggak akan pernah ada sumpah pemuda hingga nggak akan pernah ada yang namanya Indonesia. |
 | bagitu dalam. sering kita gak menyadari, terus adakah yang bisa menghilangkan kepatutan itu,
sungguh gak terbayangkan kalau itu terjadi. |
 | jsops wrote on Jun 29, edited on Jun 30 Nah ..lihat saja yang mulai sering terjadi sekarang . Di Maluku misalnya , sampai hari ini antar kampung masih saling menyerang , sampai bunuh2an . Padahal itu masih dalam wilayah satu ke "suku tradisi"an (ambon) . Kenapa dulu bentrokan2 fisik dan hal2 seperti itu relatif bisa dihindari ? . Bukankah karena hukum adatnya yang dulu masih terjaga dengan baik dan kuat? Lalu siapakah yang merusak hukum adatnya ..., siapa lagi kalau bukan hukum peraturan dari pusat (jakarta) yang dipaksakan harus ditaati oleh mereka yang nggak sesuai dengan kebiasaan adat-istiadatnya.
Dengan kata lain , hukum perundangan yang sah , justru menjadi mesin perusak bagi masyarakat yang dulu selalu damai dibawah aturan hukum adatnya. |
 | ??????????????????
bukankah hukum yang kita gunakan adalah peninggalan penjajah belanda kan bang? apa ada semacam undang2 adat atau apalah, saya gk bisa ngomonnya,
apa perlu di setiap daerah ada undang2 hukum sendiri tanpa campur tangan jakarta? mohon 'jitakannya' bang |
 | jsops wrote on Jun 29, edited on Jun 30 Tepatnya peninggalan VOC (kamar dagang hindia Belanda) bukan pemerintah Belanda. Undang2 tersebut bersifat "menjajah" , sebab memang dibuat VOC untuk menjajah wilayah nusantara tanpa sepengetahuan dan ijin resmi dari pemerintah Belanda sendiri. Bahkan oleh pemerintah Belanda "pelaku2" oknum VOC tersebut sempat disidangkan oleh lembaga parlemen pemerintahan Kerajaan Belanda. (sebab dianggap menipu/memanipulasi laporan/berita) Bilangnya berdagang sambil membantu membangun kesejahteraan masyarakat nusantara , padahal menciptakan perbudakan dan pembodohan2. (baca sejarah RA.Kartini yang menulis surat "pengaduan" tersembunyi kepada sahabatnya di Belanda) |
Comment deleted at the request of the author.
 | saya yakin para pelaku hukum di indonesia juga tahu ini, tapi kenapa gak dirubah? ada apa gerangan? |
 | 2 gambar struktur (Kebudayaan dan negara) diatas, siapa yang bikin mas?? dimana kita bisa baca penjelasan kotak-kotak struktur itu. apa ini termasuk yang di pajang dalam pameran tersebut? |
| |