ReviewLepaskanJun 14, '08 1:06 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:jsop/Donny Fatah/Eet Syahranie
LISTENING

Disuatu ketika kami berempat berencana untuk kembali melanjutkan proses kreativitas rekaman di studio (setelah album "RAKSASA") tanpa tergantung dengan salah satu personil yang kebetulan sedang berpolemik dengan Label (produser) yang menangani group. Proses tersebut lebih didorong oleh semangat "berkarya" yang tidak boleh terhenti hanya gara-gara satu orang saja diantara kami berlima sedang bermasalah.

Kurang beruntungnya adalah bahwa , "salah satu" tersebut bukannya pemain yang bisa digantikan secara begitu saja (kendala tehnis) , namun justru personil yang menjadi "icon" keberadaan group. Yaitu sang penyanyinya..... :(

Maka dengan harapan agar persoalan antar mereka (sang penyanyi dengan produser) bisa diselesaikan secara baik-baik....maka kami berempat berinisyatif untuk tidak menunggu dalam kegamangan situasi yang semakin membingungkan. Kami bertiga (saya , Donny dan Eet) mulai bekerja merekam lagu-lagu baru di Gins Studio..., lagu inilah salah satu "contoh guide lagu" yang terekam di kaset (dokumentasi saya) selanjutnya lagu2 yang lainnya entah ada dimana saya tidak tau...:(

Dalam perjalanannya , beberapa hari kemudian....sang penyanyi kemudian bisa sepakat lagi dengan label (produser) dan bersedia melakukan kerja sama kembali dengan satu kondisi persyaratan . Yaitu mengajak gitaris lama group kami untuk bergabung lagi bersama-sama...,jadi praktis ada dua gitaris dalam satu kelompok.

Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan hal tersebut sejauh proses berkarya bisa dijalani secara baik dan bersama , namun saya katakan bahwa itu semua tergantung dari kerendahan hati seorang Eet Syahranie untuk mau menerima keadaan ...adanya dua gitaris dalam satu group.

Eet Syahrani sendiri pada awalnya sudah menyatakan ingin mengundurkan diri dan mempersilahkan "seniornya" untuk kembali menduduki tempatnya semula . Dengan segala kerendahan dan keikhlasan dia menyadari bahwa "group" kami adalah "idola" nya ketika dia masih remaja di kota Banjarmasin . Oleh karena itu pula dia akan merasa terhormat bila sang "senior" bisa kembali lewat perjalanan hidupnya yang dulu sebagai penggemar , kemudian tanpa bermimpi mampu sebagai pemain utamanya.

Tetapi saya bersama teman-teman yang lain tidak sepakat dengan keputusannya , bagi saya lebih baik tidak usah diteruskan sama sekali jika harus mengorbankan yang sudah ada. Maka akhirnya dicapailah kesepakatan bahwa Eet Syahranie lebih berfungsi sebagai Rythm section dan "sang senior" sebagai Lead guitarnya. YA...dialah Ian Antono yang kemudian bergabung lagi bersama kami di Godbless dalam album "Apa Kabar"

Dan ternyata memang benar dugaan Eet Syahranis semula , bahwa dua gitaris bisa menjadi "mubazir" . Menurut saya...demikianlah nyatanya ... apa boleh buat , hidup harus dijalani bukan? Kita hanya akan tahu hasil yang kita kerjakan hari ini untuk bisa dilihat dampaknya kelak di kemudian hari , apakah itu mendulang manfaat atau bahkan sebaliknya .

salam.


38 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bulanbintang5308 wrote on Jun 14
semoga mendulang manfaat dan bukan sebaliknya ya mas..:D
jsops wrote on Jun 14
hehe..terimakasih ya
hikmatsubiadinata wrote on Jun 14
ReviewReviewReviewReviewReview
memang yg baik dg yg baik belum tentu dapat jalan bersama, tetapi setelah ada kata kita semua dapat terselesaikan, semoga berhasil.
mas mau lagu pergilah kasih.
jsops wrote on Jun 14
memang yg baik dg yg baik belum tentu dapat jalan bersama, tetapi setelah ada kata kita semua dapat terselesaikan, semoga berhasil.
mas mau lagu pergilah kasih.
iya mas ..maksud anda Eet dan Ian Antono bila digabung..?
Comment deleted at the request of the author.
mozardien wrote on Jun 14
Mungkin tidak akan mubazir kalo tidak ada 'pengkotakkan peran' ya mas.. artinya masing-masing lagu kan punya karakter dan kebutuhan berbeda, jadi masing-masing bisa memberikan peran lead/rhythm sesuai kebutuhan. Misalnya, kalo satu lagu perlu style harmonic solo mas Ian, maka mas Ian akan eksplorasi secara maksimal, namun ketika lagu itu membutuhkan high-skilled mas Eet, tentunya beliau juga bisa memaksimalkan perannya... apa kesepakan seperti ini tidak terlontar waktu itu mas? Kan lebih demokratis mas... hehe..
jsops wrote on Jun 14, edited on Jun 14
Mungkin tidak akan mubazir kalo tidak ada 'pengkotakkan peran' ya mas.. artinya masing-masing lagu kan punya karakter dan kebutuhan berbeda, jadi masing-masing bisa memberikan peran lead/rhythm sesuai kebutuhan. Misalnya, kalo satu lagu perlu style harmonic solo mas Ian, maka mas Ian akan eksplorasi secara maksimal, namun ketika lagu itu membutuhkan high-skilled mas Eet, tentunya beliau juga bisa memaksimalkan perannya... apa kesepakan seperti ini tidak terlontar waktu itu mas? Kan lebih demokratis mas... hehe..
betul itu Dino , seharusnya seperti itu pola kerja yang ideal.
Tapi sebagaimana yang ada di artikel2 saya sebelumnya , GB kan bukan sepert Kantata yang dalam pergaulan keseharian musisinya sangat demokratis . Apalagi dalam hal ini , suka atau tidak ada "gap" antara senioritas dan juniornya ..hehe..

Satu hal yang amat muskil dihindari bila dari semula hadirnya tidak diwaspadai. Karena itu pula dalam setiap kerjasama saya dengan musisi2 yang jauh lebih muda , bila mereka memanggil saya om....langsung akan saya sanggah :"emang gw kawin ame tante elu..!" dsb..dsb. Atau kalau unggah-unguh mereka keterlaluan...saya ajak mereka becanda soal "cewe" atau apa saja ....maksudnya agar suasana bisa"cair".

Saya enggak bisa "enjoy" main musik sama-sama ,... selama ada beban / jarak diantara sesama musisinya .., nyiksa bgt tuh..!
singolion wrote on Jun 14
jsops said
apa boleh buat , hidup harus dijalani bukan?
life is a matter of making a decision.

begitu katanya.......
singolion wrote on Jun 14
jsops said
bila mereka memanggil saya om....langsung akan saya sanggah :"emang gw kawin ame tante elu..!" dsb..dsb.
dijawab lagi, "nggak kawin sama tante tapi mbokde" :))
singolion wrote on Jun 14
kali ini baru bisa reply. semalem..... sampe tobat (batuk)!!!
ravindata wrote on Jun 14
Boleh tahu apa penyebab 'kegagalan' APA KHABAR menurut analisa Mas Jsop, selain alasan Krisis ?
jsops wrote on Jun 15, edited on Jun 15
life is a matter of making a decision.

begitu katanya.......
Dalam perspektif "kebutuhan fisik" / keduniawian , memang bisa saja dikatakan demikian. Namun dalam perngertian yang menyeluruh / utuh hidup "bukan pilihan" , namun kewajiban yang dibebankan diatas pundak kita untuk dijalani / di-pertanggung-jawabkan pada sang Khalik .

Agak kurang 'bijaksana' bila menggunakan terminologi "hidup adalah bagaimana kita memutuskan pilihan2" [ini menurut saya , boleh2 saja orang lain tidak sependapat dengan saya]
jsops wrote on Jun 15, edited on Jun 15
kali ini baru bisa reply. semalem..... sampe tobat (batuk)!!!
problem 'lokal' komputer / provider anda sendiri :)
jsops wrote on Jun 15
Boleh tahu apa penyebab 'kegagalan' APA KHABAR menurut analisa Mas Jsop, selain alasan Krisis ?
Konsep ber-keseniannya "mentah" . Workshop kolektif di wilayah artistik musik bukan hanya 'urusan latihan' harus kompak dan sebagainya. (itu hanya cocok untuk workshop-nya birokrat)

Ibarat "suami & istri" dalam satu rumah tangga , persoalan mereka tidak hanya selesai lewat urusan diatas ranjang saja bukan?
imw85 wrote on Jun 15
jsops said
Konsep ber-keseniannya "mentah" . Workshop kolektif di wilayah artistik musik bukan hanya 'urusan latihan' harus kompak dan sebagainya. (itu hanya cocok untuk workshop-nya birokrat)
Apakah mentah-nya ini disebabkan karena minimnya komunikasi yang terjalin selama proses pembuatan album itu? Jadi musik yang tercipta tidak melewati komunikasi intens gitu.

Atau memang komunikasi ini yang sudah sulit terjalin saat itu di GB ? Oh ya soal 2 gitaris itu apa karena memang selama ini di"set" musiknya untuk 1 gitaris? Sehingga ketika ada 2 gitaris jadi rada kagok.

Kalau soal "bunyi" yg kompak memang berbeda dengan "jiwa" yang mengalir dari musik he he he soal bunyi yang kompak kan lebih pada teknis saja, mirip kalau anak-anak di Jerman main musik, kompak-nya sih kompak, tapi "jiwanya" lebih kering daripada anak Indonesia main musik (yang secara teknis kurang, lha belajar girarnya pas ngeronda).
jsops wrote on Jun 15, edited on Jun 15
imw85 said
Apakah mentah-nya ini disebabkan karena minimnya komunikasi yang terjalin selama proses pembuatan album itu? Jadi musik yang tercipta tidak melewati komunikasi intens gitu.

Atau memang komunikasi ini yang sudah sulit terjalin saat itu di GB ? Oh ya soal 2 gitaris itu apa karena memang selama ini di"set" musiknya untuk 1 gitaris? Sehingga ketika ada 2 gitaris jadi rada kagok.

Kalau soal "bunyi" yg kompak memang berbeda dengan "jiwa" yang mengalir dari musik he he he soal bunyi yang kompak kan lebih pada teknis saja, mirip kalau anak-anak di Jerman main musik, kompak-nya sih kompak, tapi "jiwanya" lebih kering daripada anak Indonesia main musik (yang secara teknis kurang, lha belajar girarnya pas ngeronda).
Mentahnya komunikasi ..betul Bung (terutama thematik bahasan) , Hal yang kedua...belum tercipta persenyawaan 'bathin' antar kedua gitaris tersebut (ditambah lagi faktor gap usia)

Dipihak yang lain bahasa simplenya : Musik dan lagu itu adalah representasi dari olah pikir manusia yang melibatkan organ tubuh secara menyeluruh (outputnya:emosi). Jelas dia mendorong perilaku bekerjanya "degup jantung" sesuai thema yang diusung.

Pada saat emosi terprovokasi (menjadi: sedih / marah /gembira) maka praktis jantungpun meresponsnya bukan? Nah.....dalam urusan musik sesuai dengan perkembangan tehnologi digital , system "real time" squencer justru menjadi biang keladi ke-rusakkannya . Mana mungkin...orang sedih yang lalu berkembang menjadi marah atau bahagia detak jantungnya sama terus .(tempo-quantized )

Itu yang maksudkan dengan musik ibarat barisan "hansip" atau birokrat . Apalagi diperburuk oleh thema yang hanya bersinggungan dengan urusan "paha/selangkangan dan dada"
jsops wrote on Jun 15, edited on Jun 15
Dan mengapa hal-hal yang "mencederai" kewajaran-kewajaran diatas bisa terjadi dan dianggap biasa saja..? Ya...itulah hegemoni Industri...yang dengan segala kekuatannya mampu melakukan penetrasi yang nyaris sempurna (ruang dengaran) ke kuping orang-orang , yang juga dilengkapi dengan simbol-simbol modern kebutuhan yang "harus dikejar". (barang2 / ornamentasi tampilan)

Tambahan..., saya pikir "Revolusi Industri" dalam peradaban manusia secara global ..sedang mengalami nilai-nilai yang paradoksal . Kita bisa mendengar karya-karya terakhir "Musik" secara global yang masih bisa dikatakan "manusiawi" , yaitu pada kurun waktu sekitar tahun1970 hingga awal 1980'an . Selebihnya....(maaf) sampah.

Apakah perilaku Industri tersebut hanya "berkisar pada urusan didunia kesenian ? (musik dsb)" Mari kita tengok di urusan industri tehnologi yang lain ...(kedokteran / keilmuan sains dsb) Bukankah lebih banyak penyakit jenis baru , akibat "rekayasa virus" yang dihasilkan dari ilmu/sains yang sudah terkooptasi oleh kepenting industrinya..?

[menciptakan penyakit baru untuk disebar luaskan (rekayasa genetika) sambil juga membuat obat penangkalnya] Untuk apakah semua itu mereka lakukan..? bukankah itu "industri dagang" urusannya..? CELAKANYA..negara dunia ketiga yang menjadi lahan percobaan dan industri perdagangan utama-nya . Lalu....kita layak disebut negara dunia keberapa ya..?

Oleh karena itu Bung IMW, (semoga ada orang industri ekonomi yang baca) saya bukan anti industri ataupun anti kemapanan , namun perilaku industri di jaman ini memang harus dilawan! Sebab sudah jauh melenceng dari semangat dimulainya peradaban "Revolusi Industri" itu sendiri. (welfare / human mankind)

Karena saya seniman musik ...maka perlawanan , saya tujukan pada industri musiknya. Khususnya di Indonesia....go to hell capitalism!
klamelan wrote on Jun 15, edited on Jun 15
Bung, album Apa Kabar memang dibuat lebih nge-pop ya?

apakah krn juga tuntutan produser [om Log] atau Gb ingn meraih pasar anak muda??
klamelan wrote on Jun 15
trus dengan adanya dua gitaris?? ibarat ada dua matahari gito??

"di lembah yang dinign ..duduk melingkar..setelah sekian lama... apa kabarmu kawan ?"
jsops wrote on Jun 15
Bung, album Apa Kabar memang dibuat lebih nge-pop ya?

apakah krn juga tuntutan produser [om Log] atau Gb ingn meraih pasar anak muda??
kalau judul album serta lagu pertama yang dipilih label adalah lagu yg lebih "ngepop" , bukan berarti secara keseluruhan albumnya "ngepop" kan.

"Apakah tuntutan pasar?" , bagaimana kita bisa tau tuntutan pasar (seperti apa dsb) , sementara kita tidak bergaul atau secara sengaja ingin menggauli pasar..?

Kita tetap masih sekelompok orang independen ... namun belum tuntas meng-elaborasi motivasi. Akhirnya sekedar hanya rekaman bersama.
alamalam wrote on Jun 16
//mendengarkan saja
sigu2n wrote on Jun 16, edited on Jun 16
jsops said
Mentahnya komunikasi ..betul Bung (terutama thematik bahasan) , Hal yang kedua...belum tercipta persenyawaan 'bathin' antar kedua gitaris tersebut (ditambah lagi faktor gap usia)
kok bisa ya mas ada 'lack of communication' di GB? bukankah GB sudah lama berdiri dan setahu saya 'personal interaction' diantara personilnya sangat erat (sdh seperti sodara) karena sama2 membangun GB dari nol.

tidak adakah usaha dari personil GB lainnya utk berusaha menghilangkan (paling tidak memperkecil) 'jurang pemisah' antar kedua gitaris tsb. memang secara teknis permainan dan citarasa antara Mas Ian dan Bung Eet berbeda, tetapi bukankah seharusnya mereka bisa bersinergi. setahu saya mas Ian orangnya berjiwa besar.., atau mungkin junionya yg merasa minder.
jsops wrote on Jun 16, edited on Jun 16
sigu2n said
kok bisa ya mas ada 'lack of communication' di GB? bukankah GB sudah lama berdiri dan setahu saya 'personal interaction' diantara personilnya sangat erat (sdh seperti sodara) karena sama2 membangun GB dari nol.

tidak adakah usaha dari personil GB lainnya utk berusaha menghilangkan (paling tidak memperkecil) 'jurang pemisah' antar kedua gitaris tsb. memang secara teknis permainan dan citarasa antara Mas Ian dan Bung Eet berbeda, tetapi bukankah seharusnya mereka bisa bersinergi. setahu saya mas Ian orangnya berjiwa besar.., atau mungkin junionya yg merasa minder.
Kalau sajauh pengamatan saya , suasana yang kurang kondusif tersebut adalah "realitas" dari pergaulan dunia musik di Indonesia . Berbeda dengan dunia seni lain2nya seperti "sastra / teater / patung /seni lukis,tari dan sebagainya.

Wilayah2 diatas tersebut..sudah lama mengenal "budaya silahturahmi" dengan membangun kantong2 kesenian yang lebih berorientasi pada pembahasan2 mengenai seni dan budayanya. Mereka memiliki komunitas2 "find art" dan intelektual di bidang tersebut .

Berbeda dengan dunia musik yang saya tekuni , kalau toh ada perkumpulan/paguyuban dan sebagainya...keberadaannya lebih disebabkan karena faktor "ekonomi" semata . Misalnya menjadi "jubir2nya industri" atau hanya memperbincangkan masalah hak serta royalti saja.

Musisi di Indonesia kalau berkumpul hanya kasak-kusuk mengenai "trend" dan "tehnologi".

Faktor tersebutlah yang menurut saya tidak mendukung terciptanya ruang yang "positif" bagi interaksi diantara sesama musisinya. Akhirnya ...alih alih...yang senior dan yang junior semakin terpisah oleh gap yang muncul sacara alamiah . Oleh karena itu saya sering ter-heran2 dengan slogan "Musik Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri" .

Tuannya siapa...rumahnya dimana..?
imw85 wrote on Jun 16
jsops said
Oleh karena itu Bung IMW, (semoga ada orang industri ekonomi yang baca) saya bukan anti industri ataupun anti kemapanan , namun perilaku industri di jaman ini memang harus dilawan! Sebab sudah jauh melenceng dari semangat dimulainya peradaban "Revolusi Industri" itu sendiri. (welfare / human mankind)
Bung, untungnya di negara seperti Jerman ini, industri dan kekuatan ekonomi di"kontrol" agar tak bisa menggilas kegiatan berkesenian (mungkin di sini makna pilihan konsep pasar bebas sosial). Memang menjadi berat usaha itu, karena industri (termasuk musik) sangat kuat "dompetnya", tetapi batasan-batasan yang diberikan pemerintah menjadikan seniman yang lebih tertarik dengan berkesenian daripada ber"pabrik" bisa eksis.

Sayangnya saya lihat industri di Indonesia itu sangat kuat, bahkan lembaga pendidikan saja bisa disuruh manut :-) Kata mujarab "tidak siap pakai di dunia kerja" sering membuat dunia pendidikan seperti kerbau dicocok hidungnya untuk mengikuti maunya industri. Membekali pengetahuan apa kepada anak didik, sesuai pesanan industri.

Repotnya kalau yang ada industri yg butuh "tukang" ya Universitas cukup diharapkan menghasilkan tukang, Industri yang membutuhkan pemikir tampaknya belum tumbuh di Indonesia, jadi wajar saja, kampus tidak dianggap salah, ketika tidak menghasilkan "pemikir". Lha tidak dibutuhkan.
jsops wrote on Jun 16
Ya itulah repotnya..! , kalau Gus Dur kan selalu bilang "gitu aja koq repot" ... ini terbalik Bung .

Lha..kalo lembaga pendidikan yang formal saja sudah nggak lagi concern untuk menghasilkan "pemikir" , apalagi lembaga non formal seperti "kesenian" . Karena itulah dunia kesenian selalu di indentikkan dengan hiburan untuk "kangen-kangen-nan". Nggak pernah terlintas sedikitpun juga di benak pemerintah selama ini , bahwa kesenian justru berperan aktif dan dominan untuk mendukung sektor pendidikan non formalnya.

Masa sih nggak bisa dibenahi sedikitpun juga...anda kan termasuk "dekat" dengan "lingkaran" Bung.....mbok ya di bisik'i..atau gimana....gitulah..:( Masa ya..semua harus dikorbankan dan hancur.. hanya gara2 salah menerapkan kebijakan bagi pentingnya pertumbuhan ekonomi .
alamalam wrote on Jun 16
//masih menyimak
jeancuk wrote on Jun 16
mungkin kalau konsep GOD BLESS kemudian seperti YES UNION ... dimana ... DEDDY DORES, NASUTION BROTHERS, ABADI SOESMAN, dst gabung juga ... asyik juga mungkin ... tp gimana latihannya? gimana ntar pas pentas? gimana ngatur ego dan kreativitas improvisasinya ...

he ... he ... memang gak mudah ....
tidak semudah "karep" dari orang-orang diluar grup itu sendiri.
jsops wrote on Jun 17
mas..tanpa bermaksud apa-apa , tetapi saya memahami "GB" adalah sebutan bagi formasi group setelah mampu melahirkan album sendiri. Sebelumnya kelompok tersebut lebih layak disebut "jem sesen'an" .Maklum ...cuman bawain lagu2 barat punya orang doang.:)
jeancuk wrote on Jun 17
jsops said
mas..tanpa bermaksud apa-apa , tetapi saya memahami "GB" adalah sebutan bagi formasi group setelah mampu melahirkan album sendiri. Sebelumnya kelompok tersebut lebih layak disebut "jem sesen'an" .Maklum ...cuman bawain lagu2 barat punya orang doang.:)
he ... he ...
tafsir atas pengalaman dekat ....

tabik mas
jsops wrote on Jun 17
hehe.. itu juga "tafsir" saya sendiri , memakai kacamata saya sendiri...semoga bisa hadir diantara tafsir2 yang lainnya . Sebagai alternatif pilihan... :)
imw85 wrote on Jun 17
jsops said
Masa sih nggak bisa dibenahi sedikitpun juga...anda kan termasuk "dekat" dengan "lingkaran" Bung.....mbok ya di bisik'i..atau gimana....gitulah..:(
Bisikan kalah telak dg "toa-toa"an. he he he he toa-toa-annya kampus seluruh Indonesia je.....
jsops wrote on Jun 17
imw85 said
Bisikan kalah telak dg "toa-toa"an. he he he he toa-toa-annya kampus seluruh Indonesia je.....
wah..kita rada-rada senasib nih..., musuh kita orang sekampung :(
alamalam wrote on Jun 18
//terus menyimak
jsops wrote on Jun 22
Sepertinya udah "mentok tembok" nih..., musti nunggu buldozer dulu buat buka jalan.. :(
anjaspalu wrote on Jun 26
tapi bang.... meski begitu endingnyaaaa....album apa kabar bgi saya sangat DAHSYAAAAAAAT...............
anjaspalu wrote on Jun 26
harus gmana ya GB skrang??????????????
jsops wrote on Jun 26
tapi bang.... meski begitu endingnyaaaa....album apa kabar bgi saya sangat DAHSYAAAAAAAT...............
Kalau menurut saya , kita semua sudah berbuat secara maksimal sesuai dengan suasana dan keadaan (keterbatasan2) yang ada pada saat itu . Hanya saja susunan lagu (oleh label) yang kemudian menjadikan "sosok" album tersebut menjadi terlalu "soft".

Terutama pada pilihan lagu , padahal ada lagu dari Ian Antono misalnya yang mencoba menembus cakrawala baru tapi kemudian seolah menjadi tidak penting dan tidak punya kesempatan untuk muncul ke permukaan. :(

jsops wrote on Jun 26
harus gmana ya GB skrang??????????????
mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang-goyang...asoy katanya :)
Add a Comment
How would you rate this title? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.