ReviewKantata TakwaJul 7, '08 10:03 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Hard Rock & Metal
Artist:Kantata

KANTATA TAKWA [bagian l]



Sejarah lahirnya Kantata.

Kantata Takwa , begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti.

Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut , yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

Pada tahun 1989 , saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk , tepatnya di-jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk-Jakarta Barat .

Disela-sela kegiatan tour , saat sedang istirahat (jadwal kosong) kami semua selalu pulang kembali ke Jakarta . Suatu hari saya ditelpon oleh Jelly Tobing (drummer) mengajak saya untuk menemani dia berhura-hura (jam-session’an) main musik dirumah seorang kenalannya . Tidak ada target atau tujuan jangka panjang tertentu selain hanya untuk ”bersuka-cita” , bermusik sekedar hepi2an mengisi waktu yang luang saja . Temannya tersebut adalah pe-hobbi musik yang punya fasilitas latihan / nge-band dirumahnya . Lazimnya orang tajir-lah …intinya ..:)

Saya sendiri setelah diberitahu oleh Jelly Tobing , bahwa orang tajir tersebut namanya Setiawan Djody rasanya sudah tidak asing terdengar dikuping saya . Siapa sih yang nggak kenal dia saat itu… , maksudnya di lingkungan teman-teman lama saya (di tahun 1970’an) yang saat itu banyak berkecimpung di ranah bisnis “puncak gunung” , nama Setiawan Djody adalah jaminan kertas bernilai yang nggak ber-seri istilahnya hehehe..(sumpah ngga ngaruh..,saya nggak matre’..!)

Kebetulan juga tempat tinggalnya di wilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk , yang notabene tidak berapa jauh dari rumah kontrakkan saya sendiri. (10 kilometer-an lah kira-kira jaraknya) Maka disuatu hari Minggu , melalui telpon setelah janjian sama Jelly Tobing saya bersedia dateng ke alamat tersebut…ber “jreng-jreng” ria.

Singkat kata kemudian saya menelusuri jalan Kemanggisan raya yang “krodit” penuh dengan oplet dan pedagang kaki lima di-kanan kirinya. Saya mencari-cari nomer rumah yang diberikan pada saya……..fuih..! nggak keliatan jek! Abis kiri kanannya penuh toko-toko bangunan serta deretan warung dan kios-kios lainnya .

Barulah akhirnya , saya lihat ada sebongkah pintu gerbang besar berwarna ijo , nyelip diantara warung gudeg dan bakul-bakul rokok pinggiran jalan lainnya. Hm…ini mungkin pikir saya . Lalu sesuai dengan ”petunjuk Jelly Tobing” , bahwa : ”Klakson aja” kalau sudah ketemu gerbang ijo tersebut . Maka saya klaksonlah pintu gerbang ijo tersebut dua kali saja :” tin…tiiin” gitu bunyi BMW 520 (yang juga masih belom lunas kreditan-nya) hehehe .

Sekejap pintu besar tersebut dibukakan oleh dua orang bertubuh tegap berambut klimis berwajah sangar ..hihihi. Mereka yang kemudian saya kenal akrab bernama pak Parno dan lainnya huehehe. Begitu hidung mobil masuk pintu pagar , terbentang ruang parkiran luas yang kira-kira mampu menampung 12 mobil banyaknya . Masih dari dalam mobil saya melihat dua ekor patung macan afrika (item dan guwedhe) yang terbuat dari batu semen , sepertinya emang bertugas untuk menyambut kedatangan tamu yang hadir disana. Ck..ck..ck..kagumnya saya…(ndesit tenan..!)

Ruang parkiran tadi adalah bagian terpisah , yang dibatasi dengan tembok tinggi untuk memasuki ruang bangunan rumah yang sebenarnya .Maka setelah melewati tembok pintu besar (melewati macan-macan tadi)…semakin takjub saya dibuatnya ….Rasanya tidak sedang berada seperti di Jakarta , namun lebih mirip saya sebut seperti sedang di daerah Bali (mis:Ubud/Gianyar dsb.) Sementara bangunan rumahnya sendiri bergaya klasik aristokrat eropa yang rada-rada serem dan mencekam (paling nggak buat saya …kebayang sih..gimana kalau malam..) apalagi disana sini banyak dibangun semacam ”pura” lengkap dengan sesajen2nya . Tetapi sekejap ke-takjub’an saya sirna oleh suara bising ”gedebak..degebug…nguinngg nguuueinng..suara gitar bertalu-talu ..hehehe..” (koq gitar bertalu-talu sik?..salah yaakk…biarin deh..)

Tampak Jelly Tobing (biasa…super heboh..) dengan beberapa rekan musisi yang sudah saya kenal seperti Ferry Asmadibrata (musisi terkenal asal Bandung) dan …juga ada seorang promotor kawakan…Sofyan Ali namanya ..wah ..seru…(Bla..bla..ba..) lalu saya dikenalkan Setiawan Djody oleh Jely Tobing dan sejenak kami terlibat pembicaraan “ngalor ngidul” sebelum akhirnya saya ikut-ikutan gunjrang-gunjreng nge-berisikin tetangga…:”JUMP!” by Van Hallen…eh’..tak begitu lama kemudian , nongol Renny Jayusman (rocker wanita yang selalu kalungan se-lemari banyaknya..)hehehe.. datang langsung nyamperin microphone…”ohh yeeeaahhh…Jumppp!!!” hayaaahh…

Kelompok / pergaulan awal tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membiayai rekaman bagi ”MataDewa”nya Iwan Fals dengan arranger-nya Ian Antono. Yang juga kemudian melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”. Semenjak saat itulah hubungan pergaulan saya dengan Setiawan Djody kian hari kian akrab , sebagai sesama orang yang mencintai dunia kesenian (khususnya di musik)

Barulah pada tahap-tahap berikutnya akan saya ceritakan proses bergabungnya teman-teman musisi yang lain seperti Iwan Fals / Sawung Jabo dan lainnya.

Selanjutnya :

KANTATA TAKWA [bag.ll]



Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan "uluran tangan" dari berbagai pihak yang ”peduli” , yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang "berkesenian" dalam artian yang lebih luas lagi.

Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut . Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya .

Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat2 itu) . Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut di cekal , Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD. Dan seingat saya sebelum masuk ke studio , SD pernah pergi berdua Iwan ke Bali , dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa” . SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sun set” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

Maka berikutnya , ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa , saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik , baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama di panggung2 musik di Ancol . Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar2 bule , umumnya lagu2 dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih..lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius..tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja .

Jujur saja , lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja . Maka secara bertahap perlahan tapi pasti , saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD , agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita , yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. Lebih pada pendekatan bisnis pragmatis , sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu)

Maka berikutnya , ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di parkir timur senayan . Sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah : kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen2 yang sudah ada (resmi) namun langsung di-pajang di mobil2 box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang , bahwa dominasi "glodog" bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses” , maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya , Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana .SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra , bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

Singkat kata , kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama , namun harus melewati satu masalah lagi , atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu . Yaitu , Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu , dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya . Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka . Agar saat nanti , bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana , alias dikelola oleh satu management saja.

SD menyetujui persyaratan tersebut , dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera / label AIRO . Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak . Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut , namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe..., maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya , sekaligus memberi masukan2 dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

Singkat cerita , beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio) , lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo) .
Sayang , entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut . Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD , yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut....sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik,sekaliber Sofyan Ali.

Bertempat disebuah cafe diwilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie , maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana . Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut , padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogyakarta sebelum pada akhirnya saya , Iwan , Jabo , Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal”tentang kolaborasi bersama-sama .

Hari-hari itu ...adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar "menggelegar" bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.

(bersambung menyusul ke bag.lll)

Dibawah ini adalah tulisan tentang Sejarah KANTATA TAKWA (bag.lll)



Sayang sekali saya tak ingat kapan persisnya pertemuan antar kami berlima terjadi , namun bisa dipastikan bahwa kami semua berkumpul ditempat kediaman SD di wilayah Kemanggisan Raya - Kebon Jeruk tersebut .

Satu hal yang cukup penting harus saya katakan disini , bahwa sebenarnya ada satu nama lagi yang saya usulkan diantara kami berlima yang sudah ada , saya usulkan untuk bergabung dalam kolaborasi tersebut . Yang bersangkutan sendiri secara prinsip bersedia serta sudah beberapa kali juga hadir disana untuk membahas dan membicarakan berbagai hal (dialog non teknis lainnya ) sebagai persiapan untuk merumuskan konsep dan bentuk yang akan dirancang . Orang tersebut adalah salah satu sahabat saya sendiri , Harry Roesli (almarhum). Yang juga dijuluki sebagi Musisi mBeling dari kelompok DKSB .

Namun karena Harry Roesli seperti yang sudah kita ketahui bersama domisilinya berada di Bandung , maka hanya sesekali saja yang bersangkutan bisa hadir membicarakan berbagai hal , sedang kan kami berlima yang lainnya lebih sering dan intens untuk berkumpul . Maklum jarak antara Jakarta – Bandung saat itu harus ditempuh selama 4 jam’an lebih . Sebab belum ada jalan tol seperti sebagaimana kondisi saat ini.

Hari-hari berikutnya adalah disepakatinya kegiatan workshop secara rutin di Kebon Jeruk. Jelly Tobing beberapa kali turut hadir disana dan menemani kita untuk memainkan drum ketika datang . Komposisi orang-orang yang terlibat workshop di awal-awalnya adalah saya di keyboard , SD di gitar listrik , Iwan gitar akustik , Jabo di cuap-cuap , Jelly Tobing di drum , serta Edmond (seorang musisi ”lawas” asal kota solo , yang dulu pernah tergabung bersama SD di Band Terencem pada tahun70’an)

Figur yang terakhir ini adalah orang yang cukup ”unik” dimata kita semua . Selain gemar guyonan ”khas Jawa” yang bersangkutan juga sering kita anggap sebagai ”guru spiritualnya SD selama ini , yang khusus untuk menemani SD main gitar sehari-hari sebelum kita semua ada di lingkaran pergaulan di Kebon Jeruk..hehehe)

Kegiatan tersebut dilakukan seminggu dua kali (kalau tidak salah) saya tidak ingat lagi tepatnya , setiap hari apa kita berkumpul dan bermusik bersama . Yang pasti itu dilakukan disela-sela kegiatan konser promo bagi album Swami (Bento Bongkar dll.)

Dalam suasana workshop diatas , secara tehnis kami semua sepakat untuk tidak mengacu kepada satu kredo-kredo tertentu , atau warna musik tertentu namun lebih kepada ”mengalir saja” seperti air . Bisa dibayangkan bagaimana suasana ”riuh” yang terdengar disana .

Riuh yang saya maksudkan adalah … gegap gempitanya suara drum yang menggebu dengan ditimpali oleh suara lengkingan gitar yang sangat dominan , serta teriakan-teriakan tanpa kalimat (sekedar na..na..na dsb) dari Iwan Fals dan Jabo . Ditambah lagi dengan tidak adanya ”jalur kord” yang sudah disepakati sebelumnya , alias 3 jurus plus. (nah…”plus” nya itu yang bisa 10 bisa 20 bisa 30…pokoke sak matek’e lah..) hehehe..

Saya sendiri menganggap suasana hirup pikuk tersebut sangatlah dibutuhkan , agar saya bisa menangkap ”esensi” dari keinginan serta karakter ekspresi masing-masing personal yang ingin disampaikan . Walaupun harus saya akui seringkali saya terpaksa harus ”melindungi” kedua belah lobang dikuping saya dengan jari tangan … supaya dia nggak pecah atau paling tidak enggak jadi ”kendor” selaputnya ..hehehe. Terutama dari bunyi freqwensi yang dihasilkan dari perangkat Soldano nya SD , yang luar biasa tingginya serta keras suaranya .

Bayangkan saja , Soldano tersebut di-distribusikan ke 4 pasang Speaker Marshal 200 lewat 4 buah power tersendiri untuk memenuhi kebutuhan 4 stack speaker Marshall tadi . (seperti kita ketahui bahwa satu stack terdiri dari dua buah speaker) Artinya suara gitar SD disalurkan lewat 8 buah speaker dalam ruangan workshop yang hanya seluas sekitar 5 X 12 meteran . Sedangkan kami yang lainnya , apalagi saya …hanya bersandarkan pada satu buah amplifier ukuran kecil sekelas Fender Jazz Chorus untuk keybord , demikian juga yang lainnya .

Gubbraaakk..Gedubrakkss…nguinggg..nGGuuing…CiiaaTT..wwwAAAAA..!!! , gitu deh’…kira-kira bunyinya dalam bentuk tulisan di huruf……hahaha..!

Sementara mas Willy saya lihat tampak sering hanya mampu bertahan sebentar didalam ruangan lalu berjalan kearah pintu untuk kemudian cukup melihat dan mendengar dari luar tempat latihan tersebut …sambil sesekali dahinya mengkerut …mungkin mencoba menangkap suasana yang cukup liar …lalu menuliskan sesuatu diatas kertas . Ya…saya baru sadar kemudian , rupanya mesin produksinya langsung terpicu dan langsung juga bekerja sebagai penulis naskah.

Hingga akhirnya saya putuskan didalam pertemuan berikutnya , bahwa program workshop selanjutnya haruslah dilakukan secara lebih sistemik . Tidak bisa lagi kita terus-terusan hanya mengeksplorasi suasana tanpa ada kemampuan dan keinginan untuk menangkap / merumuskan “esensi” dalam bentuk sebuah konsep agar lebih “real” dan konkrit . Saya mengusulkan agar latihan-latihan berikutnya cukup terdiri dari beberapa orang saja dari kami guna terciptanya lagu-lagu yang diinginkan .

Disepakati kemudian bahwa saya ditunjuk sebagai komandan untuk berhak memutuskan segala sesuatunya yang berkaitan dengan bunyi-bunyian musik . Rendra sebagai penulis teks dan lirik untuk melengkapi lagu . Sawung Jabo sebagai “tong sampah” yang berfungsi menampung berbagai “aspirasi” keinginan yang ingin disampaikan oleh semua pihak. Iwan Fals sebagai juru terompet yang mewakili suara semua pihak lewat suara nyanyian . Dan SD sebagai penyedia sarana dari berbagai hal teknis yang diperlukan .

Hari-hari berikutnya hanya saya , Iwan Fals , Sawung Jabo dengan ditemani oleh Robin (musisi warga Philipina) yang lebih bertugas merekam draft lagu-lagu kedalam computer lewat “cakewalk” nya. Kami bertigalah yang akhirnya bekerja secara detail untuk mengarang lagu secara kolaboratif bersama .

Demikianlah sejarah awal dari terbentuknya kelompok musik KANTATA TAKWA yang bisa saya rekam dalam tulisan . Semoga tulisan ini suatu saat bisa terus diperbaharui atau ditambahkan lagi berbagai kekurangannya , atau bahkan dikoreksi bila diperlukan , agar bisa melengkapi kisah-kisah yang harus disimpan dalam ruang-ruang perpustakaan perjalanan musik di Indonesia pada umumnya.

Saya prihatin mengingat system per-dokumentasian kita yang sampai detik ini belum juga berfungsi sebagaimana seharusnya . Orang hanya diajarkan untuk melihat “hasil” dan menutup mata kepada “proses” serta dasar “filosofi” yang melatar belakanginya .

Selamat pagi Indonesia , hari sudah menjelang sore..


82 CommentsChronological   Reverse   Threaded
roedey wrote on Jul 7
keren mas...
wah gak sabar nih pengen tau lanjutannya...
ada rencana di buku kan gak mas?...
jsops wrote on Jul 7
wah..proses kesana masih panjang ya mas... namun setidaknya saya sudah mulai "nyicil" mengumpulkan data2 nya lewat blog. :)
cdindonesia wrote on Jul 7
penasaran lanjutannya ....
mimiaham wrote on Jul 7
ayo bos alirkan saja yang ada didalam ingatan kepada blog ini, karena
kantata takwa beserta seluruh personilnya merupakan warisana budaya dimasa datang
nazneenku wrote on Jul 7
heheehe ga sabar euyyy....!!!
stressmetal wrote on Jul 8
ReviewReviewReviewReviewReview
ditunggu kisah bagian 2 nya.... :)
kancalawas wrote on Jul 8
ReviewReviewReviewReview
jsops said
melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”.
Airo sekarang kok ga pernah kedengeran eksistensinya....

*btw ngebrisikin tetangga pake "JUMP" fuih... keren mas...
jsops wrote on Jul 8
penasaran lanjutannya ....
sama dengan bang Haji Rhoma dong :)
jsops wrote on Jul 8
ayo bos alirkan saja yang ada didalam ingatan kepada blog ini, karena
kantata takwa beserta seluruh personilnya merupakan warisana budaya dimasa datang
hehe..thanks juga bos.., ane juga terus nyoba neh..., mumpung masih "dikasih" umur ya..:) Saya jadi agak sedih kalau inget temen2 lain seperti Harry Roesli / Billy Budiardjo / Embong Rahardjo dll , yang nggak sempet memanfaatkan blog. Maklum dunia per-dokumentasian kita "memble" , persnya juga memble . Jadi memang harus ada upaya dan usaha sendiri2.
jsops wrote on Jul 8, edited on Jul 8
heheehe ga sabar euyyy....!!!
sip kang deden,
jsops wrote on Jul 8
ditunggu kisah bagian 2 nya.... :)
hehe..nge-lemesin otak dulu ya mas..:)
jsops wrote on Jul 8
Airo sekarang kok ga pernah kedengeran eksistensinya....

*btw ngebrisikin tetangga pake "JUMP" fuih... keren mas...
Sepertinya AIRO emang udah nggak ke-urus , persis seperti Kantata yang juga nggak ke-urus. Semuanya masing2 ngurus dirinya sendiri2 :(
wennda wrote on Jul 8
cepetan atuh ah..
kepotong begini ngga enwaakkkk...
jsops wrote on Jul 8
wennda said
cepetan atuh ah..
kepotong begini ngga enwaakkkk...
hihihi...orang jepang kesusu aja neh..:)
ravindata wrote on Jul 8
Mas yang kumpul jelly tobing, jsop, sd sama reny jayusman kok jadinya mata dewa ? Kok bukan 'mata dewi', yang dinyanyikan reny ? Gagasan airo kali ya ?
imw85 wrote on Jul 8
jsops said
orang jepang kesusu
Baru ke_pinggang dia sudah ribut apalagi ke_susu

He he he he
sangwaktu wrote on Jul 8
saya inget banget kata-kata almarhum paman saya ketika berkunjung kerumah mas jody 'wah, pas nginjek karpet disalah satu ruangannya, kaki ini terasa melesak' hehehehe... (karpet apa'an tuh ya :))

beliau (almarhum) cuma bilang 'wah, mas jody bagi-bagi kaos 'kantata' lho, sayang 'mamang' nggak ambil'.

wah, payah nih kata aku :-D
ariega wrote on Jul 8
** buru - buru bikin kopi and pipis dulu keburu cerita nya mulai lagi ****
jsops wrote on Jul 8
Mas yang kumpul jelly tobing, jsop, sd sama reny jayusman kok jadinya mata dewa ? Kok bukan 'mata dewi', yang dinyanyikan reny ? Gagasan airo kali ya ?
hahaha.. ya nggak gitu mas.. :) Pembicaraan mengenai konsep Mata Dewa hanya antara SD dan Sofyan Ali saja , Jelly nggak ikut2an .(saya juga hanya mendengarkan saja) . Konsep tersebut terpicu oleh "kejengkelan" Sofyan Ali karena rencana tour (100 kota) dengan Iwan Fals di-cekal . (Iwan sempat frustasi , lalu berdua Naniel bikin lagu Bento)
jsops wrote on Jul 8
imw85 said
Baru ke_pinggang dia sudah ribut apalagi ke_susu

He he he he
hehehe BUng Made..bisa "ngeres" juga neh :)
jsops wrote on Jul 8
saya inget banget kata-kata almarhum paman saya ketika berkunjung kerumah mas jody 'wah, pas nginjek karpet disalah satu ruangannya, kaki ini terasa melesak' hehehehe... (karpet apa'an tuh ya :))

beliau (almarhum) cuma bilang 'wah, mas jody bagi-bagi kaos 'kantata' lho, sayang 'mamang' nggak ambil'.

wah, payah nih kata aku :-D
Wah..saya nggak tau tuh..karpet yang mana ya.. yang bisa melesek..:) Yang pasti kalo saya langsung "selonjoran ngadem"....hehehe..persis orang dari kampung.
jsops wrote on Jul 8
ariega said
** buru - buru bikin kopi and pipis dulu keburu cerita nya mulai lagi ****
ini ciri khas orang Indonesia nih..! "Nyuruh cara halus" hehehe..!
ravindata wrote on Jul 8
Keberadaan SD itu sendiri di kantata lebih dibutuhkan sebagai apa ? gitaris, kan sdh ada totok tewel yang lbh sangar... Komposer kan sdh ada JSOP ? Penyandang dana ? Atau gawe back-up, biar gak dicekal kayak IF sbgmana yg diceritakan Sofyan Ali ...
sangwaktu wrote on Jul 8
jsops said
Wah..saya nggak tau tuh..karpet yang mana ya.. yang bisa melesek..:) Yang pasti kalo saya langsung "selonjoran ngadem"....hehehe..persis orang dari kampung.
maksudnya kali itu karpet 'bulu'nya lebat dan tinggi hehehehe..
jadi pas kena injekan kaki kayak nggak napak :-)
jumatmalam wrote on Jul 8
Buat saya pribadi Kantata memang fenomenal, belum ada tandingannya di Indonesia...

Semoga ayé ngga kehilangan cerita selanjutnya ....
taradipa wrote on Jul 8
Asyeekkkkk.... sejarah mu mas, saya setuju emang rumahnya cozy banget.
Saya sama beberapa teman penyiar dari TVRI, RCTI, SCTV dll, juga sempat mampir ke rumah mas Djodi.It was beautiful place...
Gak tau kalo sekarang masih seindah doeloe....Buruan lanjutan ceritanye ye.
Thank you for sharing.
jsops wrote on Jul 8
Buat saya pribadi Kantata memang fenomenal, belum ada tandingannya di Indonesia...

Semoga ayé ngga kehilangan cerita selanjutnya ....
InsyaAllah mas...mumpung orang2nya masih "ada" semua . :)
Comment deleted at the request of the author.
jsops wrote on Jul 8
Asyeekkkkk.... sejarah mu mas, saya setuju emang rumahnya cozy banget.
Saya sama beberapa teman penyiar dari TVRI, RCTI, SCTV dll, juga sempat mampir ke rumah mas Djodi.It was beautiful place...
Gak tau kalo sekarang masih seindah doeloe....Buruan lanjutan ceritanye ye.
Thank you for sharing.
Masih sama mbak (environment-nya)
Kalau soal design rumah hehehe..."u know what I mean"
nazneenku wrote on Jul 10
Seruu mas..
lanjuuutttt.....


slashmnemonic wrote on Jul 10
menunggu kisah berikut nya ............
imw85 wrote on Jul 10
jsops said
BUng Made..bisa "ngeres"
Emangnya anggota DPR aja yang boleh ngeres :-) abis itu jadiin ring tone deh
jsops wrote on Jul 11
Seruu mas..
lanjuuutttt.....


tunggu..narik napas dulu atuh..
jsops wrote on Jul 11
menunggu kisah berikut nya ............
bentar mas...nafas udah gol.gocapan neh...!
jsops wrote on Jul 11
imw85 said
Emangnya anggota DPR aja yang boleh ngeres :-) abis itu jadiin ring tone deh
huehehe!
slashmnemonic wrote on Jul 11
PertamaX ah......(maksudnya komentar pertama utk part 3 hiks..hiks..hiks..)
Ternyata kang Harry Roesli (alm) pernah ada toh di awal2 proses terbentuknya Kantata.
Jadi banyak informasi nih dari Kantata selain lagu2nya yang asyik dinikmati...
Cerita nya sampai disini Om...ada kelanjutan nya nggak..
Sejerah perjalanan Kantata Takwa sampe menuju ke Samsara dan Revolvere...
jsops wrote on Jul 11
PertamaX ah......(maksudnya komentar pertama utk part 3 hiks..hiks..hiks..)
Ternyata kang Harry Roesli (alm) pernah ada toh di awal2 proses terbentuknya Kantata.
Jadi banyak informasi nih dari Kantata selain lagu2nya yang asyik dinikmati...
Cerita nya sampai disini Om...ada kelanjutan nya nggak..
Sejerah perjalanan Kantata Takwa sampe menuju ke Samsara dan Revolvere...
Selanjutnya nanti akan saya kupas latar belakang (filosofis) terciptanya setiap album Kantata .Dari mulai "Takwa" / "Samsara" sampai "Revolvere" . Disana nanti akan banyak kenyataan2 yang "jauh dari manis" , namun sebagai fakta "masa lalu" tidak boleh saya tutup-tutupi.

Walaupun ada hal2 tertentu yang secara "etis" tetep harus "mendem jero" istilah orang jawa , atau dalam bahasa Indonesianya "tidak patut" untuk diceritakan. hehehe
slashmnemonic wrote on Jul 11
ReviewReviewReviewReviewReview
jsops said
Selanjutnya nanti akan saya kupas latar belakang (filosofis) terciptanya setiap album Kantata .Dari mulai "Takwa" / "Samsara" sampai "Revolvere" . Disana nanti akan banyak kenyataan2 yang "jauh dari manis" , namun sebagai fakta "masa lalu" tidak boleh saya tutup-tutupi.

Walaupun ada hal2 tertentu yang secara "etis" tetep harus "mendem jero" istilah orang jawa , atau dalam bahasa Indonesianya "tidak patut" untuk diceritakan. hehehe
tidak boleh ditutup-tutupi..Setuju!!!
secara "etis" tetep harus "mendem jero".... Dimengerti :)
nazneenku wrote on Jul 12
lantas bang jelly tobing ga masuk formasi ya mas? apa sebab? hehe (mau tauuuu aja..)
jsops wrote on Jul 12
sudah pernah sy jawab mas seblmnya diatas :)
mahmuddimyati wrote on Jul 13
hampir 3 minggu absen di mp, eh ternyata disuguhin cerita bagus...ditunggu sambungannya......
ravindata wrote on Jul 13
lanjut mas ... he he nunggu lanjutannya ....
jsops wrote on Jul 13
hampir 3 minggu absen di mp, eh ternyata disuguhin cerita bagus...ditunggu sambungannya......
sambung menyambung ampar2 pisang :)
jsops wrote on Jul 13
lanjut mas ... he he nunggu lanjutannya ....
Wallaahh..koq nyeremin gituh mas..
ravindata wrote on Jul 13
jsops said
Wallaahh..koq nyeremin gituh mas..
iya awarahum frank zappa ...
jsops wrote on Jul 14
iya awarahum frank zappa ...
hehe.. Mbah Zappa.. si dewa musik dunia.
denzani wrote on Jul 14
Mas, kapan reunian Kantata Takwa lagi nih?sono euy sama feel-nya kesaksian atawa air mata...edaaan
jsops wrote on Jul 14
denzani said
Mas, kapan reunian Kantata Takwa lagi nih?sono euy sama feel-nya kesaksian atawa air mata...edaaan
wah.. anda pasti musisi ya..? atau minimal bukan sekedar pengamat nih pastinya..hehe.., Seneng sekali kalau ternyata lagu2 seperti diatas bisa di apresisasi sedemikian rupa. :)

salam
denzani wrote on Jul 15
bisa aja mas he..he...saya penikmat musik aja, iya mas kalo dengerin lagu diatas "merinding" jadinya, apalagi kalo dibawain di panggung..
jsops wrote on Jul 15
denzani said
bisa aja mas he..he...saya penikmat musik aja, iya mas kalo dengerin lagu diatas "merinding" jadinya, apalagi kalo dibawain di panggung..
tuh kan..penikmat sekaligus pemainnya.. hehe.., lagu2 seperti diatas kalau dimainkan secara "live" punya tingkat kesulitan tersendiri..Yaitu atsmosfir suasana yang harus dibangun terlebih dahulu. Di panggung2 musik Indonesia , suasana kontemplatif rada2 relatif sulit diciptakan karena penontonnya amat terbiasa dengan suasana yang "extrovert" atau provokatif yang langsung bisa menggerakkan adrenalin otot.

Penonton Indonesia (sekarang ini) agak sulit untuk diajak "mikir" bila nonton musik.
imw85 wrote on Jul 16
jsops said
Penonton Indonesia (sekarang ini) agak sulit untuk diajak "mikir" bila nonton musik.
Saya ndak tahu "scene" panggung di Indonesia sekarang (maklum udah lama sekali ndak nonton). Kalau di Jerman utk tontontan musik yg perlu kontemplatif ada panggung-panggung ukuran kecil. Biasanya musik yg "alternatif" yg main di sini, dan yg datang juga udah siap dg situasi itu. Kecil ruangannya ndak kayak panggung yg rame. Banyak cafe atau panggung ngetop di Eropa ini sebetulnya panggung yg kecil tapi "legendaris".
denzani wrote on Jul 16
setuju mas, memang kembali lagi ke kultur kitanya ya mas...makanya musik2 progresif kurang diminati di ranah kita...ah sok tahu banget gue!...
jsops wrote on Jul 16
imw85 said
Saya ndak tahu "scene" panggung di Indonesia sekarang (maklum udah lama sekali ndak nonton). Kalau di Jerman utk tontontan musik yg perlu kontemplatif ada panggung-panggung ukuran kecil. Biasanya musik yg "alternatif" yg main di sini, dan yg datang juga udah siap dg situasi itu. Kecil ruangannya ndak kayak panggung yg rame. Banyak cafe atau panggung ngetop di Eropa ini sebetulnya panggung yg kecil tapi "legendaris".
hehehe.. udah nggak ada bung di Indonesia , cafe2 yang bisa bertahan hidup tanpa melibatkan "top 40" dan sebagainya . Itu juga yang saya mimpikan...kalo saya punya rejeki , hari tua saya mau saya gunakan untuk bikin "cafe" seperti itu...di Bali aja...Jakarta udah sumpek! .

Sayang 'rejeki'nya masih mondar mandir doang....belum mampir nih..hihihi..
jsops wrote on Jul 16
denzani said
setuju mas, memang kembali lagi ke kultur kitanya ya mas...makanya musik2 progresif kurang diminati di ranah kita...ah sok tahu banget gue!...
Yang brengsek itu bukan kultur dalam pengertian "kultur" dari bawaan kita sebagai bangsa Indonesia lho mas...., namun kultur "serapan" yang dibawa oleh 'pedagang' asongan tetapi bukan kelas 'kaki lima'. Kakinya aja banyak banget...hehehehe..

"sok tau" nggak apa2 disini mas , asal nggak kelewat ngawur aja ..:)
imw85 wrote on Jul 17
jsops said
Sayang 'rejeki'nya masih mondar mandir doang....belum mampir nih..hihihi
Dan sayang orang tajir di Indonesia melihat musik masih "hiburan" atau cuma gengsi (kalau udah mapan kudu nonton klasik he he he he). Di sini mereka bisa hidup karena disamping dana dari pemerintah ya dana dari foundation tuh orang-orang kaya.
imw85 wrote on Jul 17
jsops said
ari tua saya mau saya gunakan untuk bikin "cafe" seperti itu...di Bali aja...Jakarta udah sumpek!
Serius nih :-) ntar saya cariin tempat lho he he he
jsops wrote on Jul 17
imw85 said
Dan sayang orang tajir di Indonesia melihat musik masih "hiburan" atau cuma gengsi (kalau udah mapan kudu nonton klasik he he he he). Di sini mereka bisa hidup karena disamping dana dari pemerintah ya dana dari foundation tuh orang-orang kaya.
betul Bung , "masyarakat filantropi" yang di Indonesia ini "mehek2 banget". Masyarakat tersebut kan pengertiannya antara lain adalah "orang mampu" (secara pribadi) atau perusahaan2 besar yang kaya , yang berhati nurani dan masih "kental" dengan sifat2 yang sangat manusiawi. DI Indonesia....susah banget nyarinya hehehe..!
jsops wrote on Jul 17, edited on Jul 17
imw85 said
Serius nih :-) ntar saya cariin tempat lho he he he
ya seriuslah...kalo masih dikasih umur panjang dsb....dan terutama kondisi "rek.koran" , warnanya nggak orange ke merah2an" hahahaha...
imw85 wrote on Jul 18
jsops said
ng berhati nurani dan masih "kental" dengan sifat2 yang sangat manusiawi. DI Indonesia....susah banget nyarinya hehehe..!
Kadang-kadang saya "nakal" berfikir. apakah karena kita di Indonesia mengajari bahwa menolong orang, membantu orang itu dg pertimbangan terlalu 'moral atau agama", bukan karena "memang harus menolong karena orang itu perlu ditolong" (nilai manusiawi).

Ndak heran banyak sumbangan ke arah yang lain besar, tetapi ke arah membantu manusia begitu saja sulit sekali. Mencari sumbangan utk nyekolahin anak-anak tak mampu lebih sulit daripada mencari sumbangan utk membangun rumah ibadah (agama apa saja).

Maaf, namanya juga pikiran nakal.

Kalaui persh besar, banyak sih yang punya CSR, tapi banyakan jadi marketing aja he he eh he
jsops wrote on Jul 18
imw85 said
Kalaui persh besar, banyak sih yang punya CSR, tapi banyakan jadi marketing aja he he eh he
ah..."CSR" di perusahaan2 Indonesia mah...lebih banyak untuk jualan "image" aja Bung...., buat nyari muka.
jsops wrote on Jul 22
BERITA BUAT FANSNYA IWAN FALS

Kemaren menelpon saya , mengatakan akan segera "launching" IwanFals.com . Wah...saya surprise..dan saya katakan padanya bahwa saya sangat senang kalau semakin banyak musisi2 senior hadir didunia internet.

Saya ingatkan juga bahwa dia harus "aktif" paling tidak secara periodik harus berkomunikasi langsung dengan masyarakat , jangan terus2an diwakili oleh management dsb. Sepertinya dia menyanggupi.

Tanggal 16 AGustus nanti , Iwan mengundang saya dan semua teman2 dari Kantata untuk meramaikan panggung di rumahnya . Semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik sesuai rencana .
imw85 wrote on Jul 22
jsops said
Tanggal 16 AGustus nanti , Iwan mengundang saya dan semua teman2 dari Kantata untuk meramaikan panggung di rumahnya . Semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik sesuai rencana .
Hayo.. foto-foto dan video-nya donk.. Kasihanilah kami yang di negeri orang ini :-) .Kayaknya pasti banyak yang mendukung request saya, sehingga bisa ikut verifikasi KPU, Partai Penggemar Musik Indonesia di Perantauan.
slashmnemonic wrote on Jul 22
jsops said
BERITA BUAT FANSNYA IWAN FALS

Kemaren menelpon saya , mengatakan akan segera "launching" IwanFals.com . Wah...saya surprise..dan saya katakan padanya bahwa saya sangat senang kalau semakin banyak musisi2 senior hadir didunia internet.

Saya ingatkan juga bahwa dia harus "aktif" paling tidak secara periodik harus berkomunikasi langsung dengan masyarakat , jangan terus2an diwakili oleh management dsb. Sepertinya dia menyanggupi.

Tanggal 16 AGustus nanti , Iwan mengundang saya dan semua teman2 dari Kantata untuk meramaikan panggung di rumahnya . Semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik sesuai rencana .
mudah2an bang Iwan Fals bisa aktif di dunia maya juga.
Sebelumnya memang sudah ada situs resmi miliknya ato manajemen nya tapi disitu bang Iwan ga terlalu aktif, malahan tidak pernah sama sekali (mungkin :D ).
Kalo sampe bang Iwan aktif, makin rame aja nih dunia internet......
Hib..hib..hoooreeeeeyyyy

;))
slashmnemonic wrote on Jul 22
ReviewReviewReviewReviewReview
Berharap Kantata bisa konser di Bandung.
8-> :dream:

Mudah2an saja :D
jsops wrote on Jul 23
imw85 said
Hayo.. foto-foto dan video-nya donk.. Kasihanilah kami yang di negeri orang ini :-) .Kayaknya pasti banyak yang mendukung request saya, sehingga bisa ikut verifikasi KPU, Partai Penggemar Musik Indonesia di Perantauan.
hahaha...ada2 aja tuh istilah
jsops wrote on Jul 23
mudah2an bang Iwan Fals bisa aktif di dunia maya juga.
Sebelumnya memang sudah ada situs resmi miliknya ato manajemen nya tapi disitu bang Iwan ga terlalu aktif, malahan tidak pernah sama sekali (mungkin :D ).
betul mas... dia harus aktif , ibarat membuka pintu lebar2 bagi penggemarnya langsung. Kalau terus2an diwakili sama management... SBY juga bisa...hahahaha
j0y0 wrote on Jul 23
ReviewReviewReviewReviewReview
jsops said
BERITA BUAT FANSNYA IWAN FALS

Kemaren menelpon saya , mengatakan akan segera "launching" IwanFals.com . Wah...saya surprise..dan saya katakan padanya bahwa saya sangat senang kalau semakin banyak musisi2 senior hadir didunia internet.

Saya ingatkan juga bahwa dia harus "aktif" paling tidak secara periodik harus berkomunikasi langsung dengan masyarakat , jangan terus2an diwakili oleh management dsb. Sepertinya dia menyanggupi.

Tanggal 16 AGustus nanti , Iwan mengundang saya dan semua teman2 dari Kantata untuk meramaikan panggung di rumahnya . Semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik sesuai rencana .
Saya sangat senang kalo bang IF menyanggupi untuk"aktif", paling tidak secara periodik berkomunikasi langsung dengan kita lewat internet.

Tapi, Semoga yang dimaksud bukan www.iwanfalsmanajemen.com.
Kalo yang ini sudah lama disoft launch, tapi isinya gak pernah diupdate, (album 50:50 belum masuk), bahkan dulu banyak yg upload gambar cewek mlarat yg gak mampu beli baju,...

Btw, kita tunggu sampe Agustus, semoga memang kabar baik adanya,..

jsops wrote on Jul 23
j0y0 said
Saya sangat senang kalo bang IF menyanggupi untuk"aktif", paling tidak secara periodik berkomunikasi langsung dengan kita lewat internet.

Tapi, Semoga yang dimaksud bukan www.iwanfalsmanajemen.com.
Kalo yang ini sudah lama disoft launch, tapi isinya gak pernah diupdate, (album 50:50 belum masuk), bahkan dulu banyak yg upload gambar cewek mlarat yg gak mampu beli baju,...

Btw, kita tunggu sampe Agustus, semoga memang kabar baik adanya,..

OI bikin petisi prtotes dong ...hahaha

[kompor mode on]
j0y0 wrote on Jul 23
jsops said
OI bikin petisi prtotes dong ...hahaha[kompor mode on]
Mas Syafiq dan temen-2 OI dulu sering teriak-teriak protes, tapi saiki mungkin wis bosen.
Nanti, 16 Agustus kompornya sampeyan bawa yo, pake yang LPG jangan minyak tanah, ntar dikira cabangnya cak Man ....;)
jsops wrote on Jul 24
yo...kalo perlu nanti saya ngomong di microphone ngomporinnya .. hehe !
tokong84 wrote on Aug 2
sejarah kantata ini bisa dimasukin ke kurikulum pelajaran sejarah anak sekolah ni om..

saya usulin ya om??

tetangganya pakde,dari sepupu tiri kakek saya kenal dengan mentri pendidikan lho..
jsops wrote on Aug 2
tetangganya pakde,dari sepupu tiri kakek saya kenal dengan mentri pendidikan lho..
Maksudnya kerabatnya Bambang Sudibyo gitu..mas?
falstones wrote on Aug 9
ReviewReviewReviewReviewReview
Selamat malam mas Jockie.
Sungguh saya terharu membaca kisah ini. Bagi saya, keberadaan Airo, SD yg pada akhirnya melahirkan album Mata Dewa, Swami dan Kantata merupakan salah satu pamuncak perjalanan sejarah musik negeri ini.

Entah kapan, momen dan aura seperti kala itu dapat terjadi lagi di negeri ini...

Sekalian mohon ijin unt me-link-kan artikel ini di MP saya.

Besar harapan, bisa melihat penampilan mas Jockie dan rekan2 Kantata lainnya di tgl 16 nanti.

Terima kasih....
ocank wrote on Aug 9
satu kata,.. keren !!!
jeancuk wrote on Aug 10
ReviewReviewReviewReview
mas saya juga ada oret2 habis nonton kemarin di TBY
sori ndak bisa menemani ngangkring ... udah sama mas singo kan?

PS: ditulis juga mas pengalaman di jogja kemarin ... ngangkring dan sowan ... he ... he ...
kaptenpanda wrote on Aug 10
ReviewReviewReviewReviewReview
jelas bintang 5 lahh, langsung dari narasumber utama seeh....... <iipsmiley>
jsops wrote on Aug 11
ocank said
satu kata,.. keren !!!
terimakasih.
jsops wrote on Aug 11
jeancuk said
mas saya juga ada oret2 habis nonton kemarin di TBY
sori ndak bisa menemani ngangkring ... udah sama mas singo kan?

PS: ditulis juga mas pengalaman di jogja kemarin ... ngangkring dan sowan ... he ... he ...
hehe iya mas cuk ..., ini baru buka internet (pulang semalam ) . Saya memang ingin menuliserita selama di Jogya kemaren.. :) salam

Semoga lain kali kita bs ngangkring ya
jsops wrote on Aug 11
jelas bintang 5 lahh, langsung dari narasumber utama seeh....... <iipsmiley>
terimakasih kaptenpanda
dwioi wrote on Aug 13
ReviewReviewReviewReviewReview
aLhamduLiLLah

kmarin bisa nnton fiLm nya pas di JOGJA,,,

mantap bener,,,

Josss

thx

WassaLam